Mohon tunggu...
Umar Fondoli
Umar Fondoli Mohon Tunggu...

Kalau susah diomongin, ditulis aja......

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Hutang

16 April 2015   10:41 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:02 237 0 0 Mohon Tunggu...

Pagi itu rumah Salim terasa sepi. Anak-anak semuanya sudah berangkat ke sekolah. Sambil duduk di kursi makan dia mencoba mengheningkan penat sejenak. Tidak ada satupun makanan tersaji di meja itu. Meja makan itu terlihat kosong melompong. Tidak ada yang bisa dimanfaatkan untuk mengganjal isi perut yang sudah keroncongan. Yang terlihat hanyalah tumpukan kartu SPP ketiga anaknya, rekening tagihan PDAM dan tagihan listrik yang sudah tiga bulan ini belum terbayarkan. Beruntung air PDAM masih mengalir, dan listrik masih menyala. Karena setiap petugas tagih datang, Salim selalu menyelipkan uang sepuluh ribu rupiah kepada pertugas tukang tagih agar air dan listrik tidak diputus.

‘’Apalagi yang bisa dijual. VCD, kulkas, kompor gas dan meja kursi tamu sudah habis saya jual. Masa TV satu-satunya  hiburan anak-anak harus ikut saya jual ? Siapa lagi yang bisa memberiku hutang ? Tunggakan hutangku di koperasi masih menumpuk. Teman-teman sudah tidak bisa percaya lagi denganku, karena aku selalu tidak tepat waktu untuk melunasi hutangku,’’ keluhnya dalam hati.

Dibukanya tempat penyimpanan  beras kira-kira tinggal satu cangkir isinya. ‘’Beras dan gulanya habis, pak,’’ kata-kata Siti, anak sulungnya yang masih duduk dikelas 3 SMA masih tergiang ditelinganya. Dipundaknyalah segala urusan dapur diserahkan Salim. Biasanya dua adiknya, Kodijah yang masih kelas 3 SMP dan Maryam yang masih kelas 5 SD itu ikut membantunya.

Sebelum berangkat ke sekolah, Siti dan Kodijah mengatakan kepada Salim kalau mereka ditegur ibu wali kelas, SPP nya supaya segera dibayar. Mendengar perkataan anak-anaknya, hati Salim seperti teriris-iris. Sekolah di sekolahan swasta memang mahal biayanya. Tapi Salim tidak punya pilihan lain, karena NEM anak-anaknya tidak cukup untuk diterima di sekolah negeri.

Persoalan hutang memang menjengkelkan lahir dan bathin. Membuat diri ini malu tak terperi, harga diri ini tidak berarti, jiwa menjadi mati dan otak menjadi sepi. Semangat menjadi lenyap, senyum dan tawa hanya bisa dikulum saja. “Jika saya tidak banyak hutang dan mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga ini, tentu istriku tidak akan mencari jalan keluar yang menyedihkan hati kami. Tentu istriku tidak akan mencari jalan keluar yang menyakiti hati anak-anak. Yang mengaburkan  rasa cinta dan kasih sayang sejati. Yang membungkam kebahagiaan, kententraman dan kenyamanan kehidupan ini.

Kenapa saya ini ? Kenapa saya dilahirkan kalau hanya untuk menikmati kesengsaraan hidup tanpa bertepi. Hanya saya dan Allah yang Maha Tahu, bagaimana berkecamuknya perasaan ini, yang galau, kecewa, sedih, dan sakit hati ini,” keluhnya sambil menghirup nafas panjang lalu dikelurakannya dengan desahan kesedihan.

Sudah tiga tahun ini, Salim menduda. Istrinya gantung diri karena tidak tahan dengan tekanan para penagih hutang yang setiap hari datang dengan teriakan makian, teriakan cacian, dan teriakan yang merendahkan harga diri dan kehormatannya.

“Saya sadar bahwa apa yang diberikan kepada saya adalah titipan dari Tuhan. Harta, benda, ilmu, saudara, teman, anak dan juga istri, semuanya adalah titipan dari Allah. Tetapi ketika dia meminta kembali titipannya ternyata saya tidak sanggup menerima kenyataan ini,” dia mencoba interopeksi dengan dirinya sendiri.

“Kenapa kehidupan ini begitu rumit, ruwet, susah berkepanjangan dan hanya sedikit memberi  manfaat pada lingkungan sekitar. Saya menyesal, kenapa saya diberi otak bodoh, perasaan rendah diri yang berlebihan, keimanan yang setengah-setengah, munafik, dan pengecut. Padahal saya adalah andalan utama di keluarga ini, saya diharapkan mampu menjadi pemimpin keluarga ini menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Ah, entahlah. Saya tidak mampu menjawabnya,” kali ini  sambil memegangi kepalanya, dan mengusap-usap rambutnya sendiri. Sehingga rambutnya terlihat kusut sekusut ekspresi wajahnya yang muram durja.

Setelah mengunci pintu rumah, Salim berjalan gontai tak terarah menuju tempat parkir warung nasi pecel Madiun yang tidak jauh dari kediamannya. “Lebih baik menjadi tukang parkir saja, dengan modal sempritan setiap hari dapat duit untuk belanja, daripada jadi buruh pabrik di luar kota yang hasilnya tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” kata-kata almarhum istrinya itu, selalu tergiang-ngiang di telinganya setiap dia berangkat ke lahan parkir yang pernah dimilikinya. Dulu dibelinya dengan seharga 5 juta rupiah dari Mat Kolil, penguasa parkir diwilayah kelurahan ini. Sekarang hanya tinggal kenangan.

Tidak terlihat semangat diwajahnya. Yang dia pikirkan hanya bagaimana bisa membeli beras untuk hari ini, lauk pauk, bayar SPP anak-anak dan bayar listrik. Dia, mencoba mendekati Joko, teman SMA nya dulu, untuk pinjam uang. Namun jawabannya hampir sama seperti jawaban teman-teman yang lain.

‘’ Maaf Lim, gajiku sudah saya berikan semuanya kepada istri.  Saya sendiri saat ini juga kesulitan keuangan, Lim. Angsuran sepeda motorku bulan ini belum terbayar. Maaf ya Lim,’’ kata Joko.

‘’Ya, tidak apa-apa. Saya yang mestinya minta maaf kepada kamu. Saya kok tidak mengerti dengan kesulitan orang lain,’’ kali ini Salim benar-benar bingung mencari jalan keluar persoalan keuangan rumah tangganya.

‘’Kenapa tidak dicoba untuk minta tolong kepada saudara-saudaramu atau mertuamu saja. Siapa tahu ada jalan keluar disana ,’’ sela Joko sambil menstarter sepeda motornya. Salim hanya tersenyum kecut mendengar saran Joko.

Dengan langkah gantai tak terarah, tiba-tiba sebuah sepeda onthel yang dinaiki orang tua paruh baya berhenti tepat di samping Salim. Ternyata orang tua itu adalah mbah Suro tetangga belakang rumah Salim.

‘’Kenapa kog kelihatan kusut begitu ? Sedang nggak punya fulus ya ?’’ gurau mbah Suro sambil menyetandarkan sepeda pancalnya.

‘’Ah, mbah Suro kog tahu saja. Iya mbah, saya memang lagi tidak punya duit. Tadi mampir ke mertua dengan harapan bisa dihutangi uang untuk bayar SPP anak-anak, ehh malah disangoni omelan yang bikin kuping dan hati saya tambah panas.’’

‘’Masih dianggap mertua to ? Saya kira sudah jadi bekas mertua sampeyan ? Kan anaknya yang menjadi istri kamu itu sudah meninggal,’’

‘’Ah, mbah Suro, bisa saja.’’

‘’Dari dulu kog hobinya hutaaaang terus. Mbok ya sekali-sekali ngutangi saya, gitu lho. He...he...he......,.’’ gurau mbah Suro.

‘’Lha yang untuk ngutangi apa mbah Suro. Saya sendiri saja sedang susah cari hutangan,’’ tandas Salim.

‘’Begini Pak Salim, mbok ya jangan utang. Orang berhutang ibaratnya sama saja dengan menggadaikan perasaan kepada orang yang kita utangi,” Salim hanya tersenyum mendengarnya. Tanpa diberitahupun dia sudah mengerti dan paham dengan perihal perasaan orang yang memiliki hutang dan tidak bisa membayar kepada yang dihutangi.

“Saya ini tidak pernah utang uang, tapi kredit barang sering.’’

‘’Ya sama saja to mbah, kredit itu ya sami mawon dengan hutang, hanya bentuknya yang beda.’’

‘’Kalau Pak Salim benar-benar butuh duit, coba saja deh ke mbak  Fatimah, pemilik toko besar di ujung jalan ini. Disamping mengkreditkan barang seperti TV, HP, dan benda elektronik lainnya, dia juga bisa dipinjami uang. Nggak pakai bunga, hanya uang administrasi saja,’’ jelas mbah Suro.

‘’Terus pakai jaminan apa tidak, mbah?’’

‘’Jaminannya hanya kepercayaan dan KTP. Tapi ya itu tadi, pinjamnya tidak bisa besar. Maksimal hanya lima ratus ribu rupiah saja,’’ jelas mbah Suro.‘’Terus bayarnya setiap minggu hanya lima puluh ribu saja.’’

“Persyaratan lainnya apa, mbah ? ”

“Enggak ada, ya hanya KTP tok. Prosesnya sepuluh menit cair. Tapi nanti terimanya enggak limaratus ribu lho, biasanya di potong lima puluh ribu buat administrasi. Terus nyicilnya duabelas kali.”

“Kog pakai administrasi segala. Kalau nyicilnya duabelas kali, jatuhnya kan enam ratus ribu, mbah. Terus kita terimanya hanya empat ratus lima puluh ribu. Mosok pinjem empat ratus lima puluh ribu mengembalikannya enam ratus ribu dalam sepuluh minggu, enggak ah.”

“Tapi kalau dalam kondisi mendesak, pinjaman itu sangat bermanfaat lho. Artinya mbak Fatimah itu ikut membantu meringankan mereka yang kesusahan. Lha buktinya mau minjami duit. Bener opo ora, hayoo ? ” jelas mbah Suro.

Salim hanya tersenyum,”Ya saya pikir-pikir dulu mbah. Saya nggak mampu dengan bayar mingguannya itu lho ? Kalau bayarnya satu tahun kemudian, yo gelem saya.”

“Yo kalau yang itu pinjam saja sama malaikat sana, malah bayarnya bisa diakherat nanti,” kata mbah Suro sambil mlengos, membuang muka sambil menuntun sepedanya dan pergi meninggalkan Salim.

Tidak berselang lama, suara adzan berkumandang dari masjid seberang jalan tidak jauh dimana Salim berdiri. Adzan Dzhuhur yang setiap hari terdengar biasa saja, siang itu seolah memanggil Salim untuk segera ambil wudhu dan ikut sholat berjama’ah. Ada rasa malu di hatinya, kenapa ketika susah dan sedih begini dia selalu ingin dekat dengan Tuhannya untuk mengadukan nasib buruknya dan memohon pertolongannya.

“Ya Tuhanku, yang maha pengasih lagi maha penyayang, untuk kesekian kalinya saya serahkan segala hidup dan matiku kepadaMu. Saya sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berpikir dan berupaya untuk mendapatkan setetes rejeki dariMu,” tidak terasa air mata Salim membasahi pipinya.

Lama sekali, Salim berdoa didalam masjid. Sesekali, dia bangun dan melakukan sholat sunah hajat 2 roka’at. Kyai Umar yang sedang menjalankan ritual wirid, diam-diam memperhatikan kegelisahan Salim yang sesekali terlihat  menangis sesenggukan.

Lalu, Kyai Umar mendatangi Salim dan dengan lembut bertanya perihal kesedihan Salim. “Kenapa sampean begitu sedih, sampai saya lihat menangis sesenggukan. Mungkin ada yang bisa saya bantu ? Ayo nak, ceritakan kepada saya.” Kata Kyai Umar.

“Saya  malu pak kyai, saya bingung, hutang saya banyak. Dan sudah saatnya saya harus mengembalikan hutang-hutang itu, tapi saya tidak tahu harus mendapatkan uang untuk membayar hutang-hutang saya itu.”

“Oooo...bingung dan takut dengan masalah hutang ? terus bingung juga cari uangnya harus kemana ? Sudah dicoba minta bantuan sama saudara atau teman ? “

“Sudah pak kyai, tapi kondisi saudara saya juga sama miskinnya seperti saya ini. Kalau ke teman-teman, mereka sudah enggak percaya sama saya. Lha wong hutang-hutangku sama mereka yang dulu saja belum sanggup aku lunasi.”

“Penyelesaian masalah kamu itu hanya satu, yaitu hutang-hutang kamu itu harus segera dibayar, biar tidak menjadi beban di dunia dan akherat. Hutang itu pasti akan ditagih, kalau ndak dibayar didunia ya nanti di akherat pasti ditagih. Kalau saya yang membantu menyelesaikan masalah hutangnya situ, kog rasanya ndak pantes ya. Lha wong situ yang pakai uangnya, mosok saya yang harus mengembalikan...hehehe...guyon lho nak, jangan tersinggung. Biar situ nggak sedih,” kata Kyai Umar. Salim yang mendengar hanya tersenyum kecut.

Lalu kyai Umar bercerita kepada Salim : Pada suatu hari, Rasulullah sholallahu’alaih wa salam masuk masjid. Tiba-tiba beliau melihat sahabatnya Abu Umamah sedang duduk berdiam didalam masjid. Ditanya oleh beliau, “Wahai Abu Umamah, kenapa engkau duduk di luar waktu Sholat.”

“Aku sedang sedih karena bingung memikirkan hutang-hutangku Ya Rasulullah,” jawab Abu Umamah.

“Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah doa, apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu ?” kata Rasulullah.

“Tentu saja, wahai Rasulullah,” jawabnya.

“Jika kau berada waktu pagi mauoun sore hari, bacalah doa : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia (HR. Abu Dawud).”

Kyai Umar menjelaskan setelah membaca doa itu, Abu Umamah berhasil mengatasi kebingungannya dan membayar lunas semua hutang-hutangnya.  Tentunya Abu Umamah tidak hanya berdoa seperti orang membaca sajak. Dia gunakan akal dan pikirannya dan juga bathinnya untuk memahami makna yang tersirat dan yang tersurat dari doa itu.

“Pemahaman doa itu, orang yang berhutang dan tidak tahu dengan apa dia membayar hutang-hutangnya pasti akan merasa bingung dan lemah yang berujung pada kemalasan. Jadi disamping berdoa, Abu Umamah juga berupaya sekuat tenaga untuk mengatasi kebingungannya, kelemahannya dan juga kemalasannya. Jika dia tidak bingung, tidak lemah dan tidak malas, maka akan mudah untuk berupaya mencari rejeki. Sambil terus berdoa meminta ridho Allah. Dan dari rejeki yang didapatkannya itu, maka Abu Umamah bisa membayar hutang-hutangnya,” jelas kyai Umar.

“Satu lagi, jangan lupa sholat lima waktunya yang tertib. Jangan pas bingung dan pas susah saja. Syukur kalau ditambahi sholat malam, terserah mau tahajud atau mau sholat hajat boleh. Saya terus terang tidak bisa menyelesaikan masalah hutangnya situ, tapi  dengan sedikit uang ini, mudah-mudahan bisa membantu menemukan jalan keluar situ dari lilitan hutang,” tambah kyai Umar sambil merogoh saku baju kokonya dua lembar ratusan ribu rupiah.

“Matur suwun pak kyai, terima kasih,” Karena saking girangnya, Salim mencium tangan kyai Umar dan bergegas lari keluar masjid. Yang ada di benaknya adalah segera membeli beras, bayar listrik dan PDAM.

“SPP nya aku tunda saja dulu, yang penting anak-anak bisa makan, listrik dan air tidak diputus,’’ katanya dalam hati dan langsung berlari keluar masjid.

Keluar dari pintu pagar masjid Salim dengan rasa bahagia langsung menyebrang jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Sebuah mobil sedan meluncur dengan kencang dari arah kanan menabrak tubuhnya dan Salim tidak sempat menghindarinya. Darah mengucur dari kaki dan juga kepalanya, dia tergolek tak berdaya.

Kyai Umar yang mendengar deritan rem ban mobil dan suara teriakan orang-orang, segera bangkit dari wiridnya dan keluar dari masjid. “Masya Allah, ada apa ini ? Siapa yang kecelakaan ?” tanya kyai Umar kepada kerumunan orang-orang yang membantu mengangkat Salim.

“Salim ketabrak mobil pak Kyai,” kata salah seorang dari kerumunan orang-orang itu.

“Astagfirullah, cepat dibawa ke rumah sakit,” teriak kyai Umar.

“Pakai kendaraan apa, pak kyai,” seru orang-orang.

“Pakai mobilnya yang nabrak saja, suruh dia bertanggung jawab. Siapa yang menabrak, siapa,” teriak kyai.

“Sa...sssaya..pak. Mohon maaf, saya tidak bisa mengendalikan mobil saya. Dia tiba-tiba nyelonong dihadapan saya,” ternyata sopir mobil sedan itu adalah perempuan cantik. Kalau melihat penampilannya, dia adalah wanita karier. Dari ID card yang dipakainya tampaknya dia adalah district manager salah satu BUMN.

“Penjelasannya, nanti saja. Sekarang antar korban  ke rumah sakit terdekat, pakai mobilnya ibu, ya,” kata kyai Umar. Tanpa perdebatan, perempuan muda itu langsung membawa Salim yang tergolek di jok belakang mobilnya.

“Siapa yang mendampingi Salim, tadi ? “ teriak kyai Umar.

“Ndak tahu pak kyai, sepertinya tidak ada yang ikut di mobil ke rumah sakit. Wah ..piye to..,” kata salah seorang yang membantu mengangkat Salim masuk ke dalam jok belakang mobil sedan tadi.

“Lailaha ilallaaaah.....kog podo bahlul semua iki piye. Astagfirullahal adzimmmmm...,” geram kyai Umar sambil geleng-geleng kepala.

Sementara mobil sedan yang membawa Salim yang terluka parah, berlari kencang ingin segera sampai di IRD rumah sakit. Sopirnya terlihat sangat panik melihat luka dan mendengar jerit kesakitan Salim. “Allahu Akbar, aduuuhhh...biyungg...aduhhh...,” jerit Salim.

Dan perempuan cantik itu semakin memacu mobilnya dengan cepat. Ketika melewati perempatan, ada truk tronton melaju dengan kencang dan ciiit....sret...duar.., mobil sedan yang membawa korban kecelakaan dan segera ingin sampai di rumah sakit itu terguling-guling di aspal. Dan baru berhenti ketika membentur pohon mahoni di pinggir jalan.

Mobil sedan itu langsung ringsek, perempuan cantik itu berubah menyeramkan karena wajahnya berdarah tersembur pecahan kaca. Badannya terjepit stir mobil, dan tergolek lemah tak bernyawa. Dan Salim, sudah tidak bisa mengaduh kesakitan lagi, karena badannya tergencet jok depan dan kepalanya tertancap wiper mobil. Salim tewas.

Sebelum pemakaman, kyai Umar dalam sambutannya mewakili keluarga menyampaikan pengumuman kepada orang-orang yang melayat,”Jika almarhum semasa hidupnya memiliki tanggungan berupa hutang berupa uang atau harta benda lainnya kepada bapak, ibu, saudara sekalian, karena kondisi ahli waris yang masih belum memungkinkan untuk membayar hutang-hutang almarhum, kami memohon kepada bapak, ibu, saudara keihklasannya. Akan tetapi, jika ada diantara bapak, ibu, saudara sekalian ada yang merasa tidak ikhlas, setelah tujuh hari masa berkabung, bisa menghubungi sanak keluarga yang ditinggalkannya atau melalui saya. Kami atas nama keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada kekilafan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja oleh almarhum maupun keluarganya. Wabilahitaufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x