Mohon tunggu...
Didi Widyo W.
Didi Widyo W. Mohon Tunggu... ASN Pendidik

ASN, Pendidik, Birokrat, SocioTechnopreneur

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Indonesia Kehilangan Empati?

29 Maret 2020   12:47 Diperbarui: 29 Maret 2020   12:49 71 4 2 Mohon Tunggu...

Di tengah kejadian pandemi biasanya mudah memantik rasa solidaritas dan empati setiap manusia. Tetapi hari ini kita membaca di beberapa media utama, ada 21 akun yang dilaporkan oleh Ketua Cyber Indonesia  karena melakukan ujaran kebencian atau penghinaan kepada Ibunda Presiden Joko Widodo, Alm. Hj. Sujiatmi Notomihardjo. Berbagai jenis ungkapan yang dibuat menunjukkan bahwa si pembuat ungkapan atau pengujar telah kehilangan atau tidak memiliki lagi rasa, kehilangan empati dan bahkan rasa kemanusiaan, sebagaimana dikatakan si pelapor.

Fenomena ini bisa dijelaskan dengan pendekatan Martin Buber atau Walter Kaufmann yang mengenalkan konsep "Kita-Mereka". Dunia dibagi ke dalam dua bagian atau kelompok: yang dikutuk dan yang terpilih, partai Setan dan partai Tuhan atau katak dan kelelawar. Hubungan antara Kita dan Mereka tidak ada keselarasan dan tidak memiliki empati.

Ada jurang yang dalam dan lebar antara dua kelompok itu. Bila salah satu kelompok berbicara, walaupun benar, maka tidak akan didengar oleh kelompok lainnya. Setiap kelompok menilai, mengasumsikan dan memproyeksikan kelompok lain, seperti apa dan bagaimanapun yang disukai. Kebaikan, kecerdasan, kebenaran, integritas hanya milik Kita. Sementara Mereka itu buruk, bodoh, salah dan munafik. Ketika Kita berinteraksi sesama Kita, semua berjalan dengan baik, tetapi ketika akan berinteraksi dengan Mereka, maka impuls empati itu telah dimatikan.  

Fenomena ini sangat jelas ketika menjelang dan bahkan setelah Pemilihan Pilpres, dan residu itu masih tebal hingga sekarang. Kelompok yang kalah masih menyimpan kebencian atau dendam yang kemudian diungkapkan dalam bentuk berbagai hinaan sebagaimana di awal tulisan ini.

Kebencian, kata Elie Wiesel, adalah virus yang menular dari manusia ke manusia dan dari kelompok masyarakat ke kelompok yang lain. Sejarah mencatat permusuhan akibat kebencian yang pernah dan mungkin akan terjadi antar kelompok karena merasa kelompok lain salah, bahkan hanya sekadar sedikit perbedaan pandangan. 

Protestan dan Katolik atau Lutheran dan Romawi suci, Syiah dan Sunni, Serbia dan Kosovo, atau India dan Pakistan. Tentu contoh lebih mikro di Indonesia juga cukup banyak yang justru bermusuhan hanya karena sekadar perbedaan pandangan atau pilihan.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita ("k" kecil) semua, dan semua kita adalah "Kita".

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x