Kandidat

Jangan Tanya AHY ke Mana

4 September 2018   09:57 Diperbarui: 4 September 2018   10:52 285 0 0

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang kecewa ketika AHY tidak mendapat tiket menjadi capres maupun cawapres di Pilpres 2019. Kecewa bukan karena tidak dipilih, tapi kecewa karena sistem pemilu yang menghambat pilihan-pilihan alternatif karena dibatasi syarat PT 20 persen. 

Demokrasi yang harusnya menjadi ruang kebebasan bagi setiap individu untuk dipilih maupun memilih, malah ditutup rapat demi menyajikan remacth pilpres 2014.

Kendati demikian, saya cukup berbangga hati melihat kebesaran hati dan sikap satria dari seorang AHY yang dikatakan "anak ingusan" ini. Dengan gagah, AHY mengatakan ia akan tetap berjuang dan mendharmabaktikan dirinya untuk rakyat Indonesia. Adakah pemimpin-pemimpin sebelum ini yang setangguh ini? Saya pikir belum ada.

Pasca reformasi, lihat sikap Megawati yang terkesan enggan mengakui kemenangan SBY di Pilpres 2004. Bahkan Megawati tidak tampak batang hidungnya dalam setiap acara kenegaraan yang dipimpin SBY. Bahkan tak jarang kader-kader PDIP diorganisir untuk menjatuhkan SBY melalui saluran demonstrasi.

Pada Pilpres 2014 juga terjadi hal sama. Kemenangan Jokowi juga ditolak oleh pengusung Prabowo saat itu. Sejumlah indikasi kecurangan-kecurangan diangkat ke hadapan publik.

Inilah bedanya pemimpin milenial dengan pemimpin era baby boomers. Generasi milenial lebih cenderung mengedepankan aspek-aspek sportivitas ketimbang ngambek-ngambekan. Generasi milenial juga lebih mengusung nilai-nilai perkawanan ketimbang permusuhan. Seperti istilah, satu musuh terlalu banyak, seribu teman masih sedikit.

Anak muda itu tidak pantang menyerah. Proses penempaan adalah modal besar baginya untuk menjadi lebih baik. Itulah pelajaran yang sangat berarti yang saya petik dari kata-kata AHY "tidak ada jalan yang lunak".

Dalam proses kehidupan, apa-apa yang kita lalui adalah hikmah yang patut dijadikan batu pijakan untuk lebih baik kedepannya. Artinya baik atau buruk, benar atau salah, proses yang kita jalani tidak ada yang sia-sia. Sesuatu yang berlalu adalah pengingat kita untuk melangkah lebih baik kedepannya.

Jadi, jangan tanya AHY kemana. Ia selalu berada di hati kami generasi muda Indonesia dan kami pun ada dan senantiasa siap menanti sentuhan tangan dingin AHY dipentas kepemimpinan nasional kedepannya. AHY, we love you, we are with you.