Mohon tunggu...
Maya Indah KS
Maya Indah KS Mohon Tunggu... Novelis

Seorang ibu yang senang menulis

Selanjutnya

Tutup

Novel

Misteri Mata Laura

10 Oktober 2019   06:51 Diperbarui: 11 Oktober 2019   14:40 0 0 0 Mohon Tunggu...
Misteri Mata Laura
| Dokumentasi pribadi

Menjelang pernikahan Robet, musibah datang. Ayahnya Robet meninggal dunia. Robet mabuk berat dan tidak sadar meniduri pembantunya. Istri Robet mulai curiga melihat Inah perutnya semakin membesar. Inah mengaku sudah diperkosa Robet, tapi Robet mengelak atas tuduhan Inah.          Istri Robet langsung kontraksi saat mendengar Inah diperkosa suaminya. Saat melahirkan Laura, nyawa istri Robet tidak bisa diselamatkan.

Robet mengusir Inah dan menyalahkan Inah atas kematian istrinya. Inah syok dan perutnya mulas. Robet tidak punya pilihan lain akhirnya membantu Inah melahirkan di rumahnya.

           Robet ingin mengusir Inah, tapi niatnya diurungkan karena Laura tidak mau diberi susu dari botol. Robet terpaksa menyuruh Inah untuk menyusui Laura.

          Omanya Laura sangat marah ketika Robet menyuruh Inah menyusui anaknya. Bagi Robet Laura adalah kenangan terakhir dari istrinya.

          Tiga bulan usia Laura, Robet sudah membelikan banyak mainan. Robet merasa aneh mata Laura tidak pernah merespon seperti Ririn anaknya Inah.

Robet mulai mencari pendonor mata dari luar negeri. Robet putus asa dan selalu menyalahkan Inah atas kebutaan Laura. Ririn merasa tertekan dan sakit hati melihat Robet memperlakukan ibunya dengan kasar.

Inah sudah tidak kuat menerima cacian akhirnya pamit pergi mengajak Ririn keluar dari rumah Robet. Laura histeris dan tidak mau ditinggal. Robet tidak kuasa melihat Laura menangis akhirnya melarang pembantunya pergi. 

Robet sangat berduka melihat ayahnya terbujur kaku. Tujuh hari menjelang pernikahannya, ayahnya Robet menghembuskan napas terakhirnya karena mengidap penyakit diabetes dan jantung.

Robet merasa menjadi anak yang tidak berguna. Robet merasa gelar dokternya sia-sia karena tidak bisa menyembuhkan ayahnya.

Robet sangat rindu pada Misca calon istrinya. Robet tidak bisa menemui Misca karena sedang dipingit menjelang pernikahannya.

Robet mulai mendatangi BAR. Robet mengajak sahabatnya Alan untuk minum di BAR. Robet tidak menyadari Alan begitu membencinya dan sakit hati karena Misca lebih memilih Robet.

Robet menenggak minuman begitu banyak. Alan diam-diam menuangkan obat perangsang. Alan berharap Robet akan bangkit birahinya dan tidur dengan pelacur. Alan sudah merencanakan akan memanggil Misca jika Robet sudah tidur dengan seorang pelacur.
Usaha Alan gagal, Robet minta diantar pulang. Alan membujuk Robet agar menginap di hotel, tapi Robet menolaknya.
"Lan, antarkan aku pulang!" pinta Robet sambil sempoyongan.
"Kamu mabuk berat, nanti ibumu tahu dan marah, kita nginap di hotel saja, ya?" bujuk Alan.
"Tidak! Antarkan aku pulang! Cepat kamu yang menyetir mobil," tolak Robet.
Alan menghela napas panjang, usahanya sia-sia untuk menjebak Robet. Alan mengendarai mobil Robet.
"Sudah sampai, Rob!" ucap Alan.
"Okay! Apa kamu mau menginap?" tanya Robet.
"Tidak! Aku pulang saja," jawab Alan.
"Bawalah mobilku, besok kamu antar lagi mobilnya ke sini, ya? Maaf aku tidak bisa mengantarmu," ucap Robet.
 "Ya, baiklah! Aku pulang dulu!" ucap Alan.

Robet berjalan sempoyongan. Tubuhnya mulai merasakan panas. Robet melepas bajunya. Robet mengetuk pintu berulang-ulang.
 ***

Inah gadis manis yang bekerja di rumah Robet berlari dan membuka pintu. Inah terkejut melihat Robet sudah telanjang dada.

Robet berjalan terseok-seok. Inah menutup pintu dan berlari membantu Robet yang hampir jatuh. Tangan Robet sudah merangkul pundak Inah.

Mata Robet mulai buram, Robet melihat wajah Inah sangat banyak. Campuran alkohol dan obat perangsang membuat akal pikirannya berkurang.

"Misca? Sayang... kamu datang?" bisik Robet sambil mencium rambut Inah.

Inah ketakutan dan buru-buru memapah Robet ke kamarnya. Robet menutup pintu dengan kakinya. Inah sangat terkejut melihat Robet menutup pintu.

Robet memutar lagu kesayangan Misca. Inah ketakutan dan lari dari hadapan Robet. Melihat Inah lari, tangan Robet menarik tangan Inah.

Robet mematikan lampu kamar. Robet terus memeluk Inah dan mengajaknya berdansa.

Robet terus bernyanyi mengikuti alunan suara musik. Teriakan Inah tidak didengar Robet.

"Tuan... lepaskan! Aku bukan Misca, Tuan!" teriak Inah sambil berontak.

Robet tidak mempedulikan teriakan Inah. Robet terus memeluk dan bernyanyi. Robet mulai merasakan aneh, desiran birahinya bangkit bersentuhan dengan Inah.

Robet menjatuhkan tubuh Inah di atas ranjang mewah. Robet sangat bernafsu memburu Inah dengan ciuman. Inah terus berontak tapi Robet terus mencumbunya.

"Sayang, diamlah... sebentar lagi kita akan menikah, love you... Misca," bisik Robet.

Inah menangis dalam pelukan Robet. Inah tidak kuasa karena tenaga Robet begitu kuat mencengkeram kedua tangannya.

Robet sangat buas menciumi Inah. Robet tidak sadar bahwa malam itu yang dicumbunya adalah Inah. Malam itu malam yang tragis buat Inah. Robet sudah memperkosanya.
***


          Tidak ada yang bisa dilakukan Inah selain menangis disisi Robet yang tertidur di atas ranjangnya. Inah memakai baju dan lari ke kamarnya.

          Inah mulai berpikir akan keluar dari pekerjaan, tapi Inah sangat takut jika harus keluar dari pekerjaannya. Ayahnya sedang sakit keras dan membutuhkan uang yang banyak untuk pengobatannya. Inah tidak tega jika ibunya harus menanggung biaya pengobatan ayahnya sendirian.

          Inah berusaha melupakan kejadian kalau Robet sudah memperkosanya. Saat Inah diperintah ibunya Robet untuk membangunkan dari tidurnya, tubuh Inah gemetar.

           Inah masuk dengan langkah yang sangat pelan. Rasa jijik dan muak ditahan Inah melihat Robet.

          "Tuan... bangun Tuan... " panggil Inah.

          Robet menggeliat, matanya mencari sesuatu di sekitar kamar.

          "Misca mana?" Tanya Robet.

          "Misca tidak ada Tuan!" Jawab Inah ketus.

          "Semalam dia datang, dia membukakan pintu dan tidur bersamaku. Apa dia sudah pulang?" Tanya Robet.

          "Yang membukakan pintu semalam itu saya, Tuan! Tuan semalam mabuk, saya yang mengantarkan Tuan ke kamar," jawab Inah masih ketus.



          Inah berharap Robet mengingat semua perbuatannya dan meminta maaf pada Inah. Robet justru bingung dan terus mengingat kejadian semalam.

          "Kamu yang mengantarkan aku ke kamar? Aku masih ingat saat memeluk Misca! Kamu tidak bohong, kan?" Tanya Robet penasaran.

          "Tuan sedang mabuk, Tuan mengira saya adalah Misca," ujar Inah.

          Robet tercengang mendengar ucapan Inah. Robet membuka selimut dan terkejut tubuhnya telanjang tanpa sehelai benang. Robet bangun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi.

          "Apa yang aku lakukan semalam? Aku hanya ingat Misca, tidak mungkin aku bercumbu dengan pembantu!" Gerutu Robet.

          Inah keluar dari kamar, Inah kembali menangis setiap mengingat kejadian dirinya diperkosa Robet.

          Seminggu berlalu, Robet dan Misca akhirnya menikah. Robet membawa Misca ke rumahnya. Inah tidak pernah membahas perbuatan Robet pada orangtuanya dan orangtua Robet. Inah lebih memilih mengubur semua kejadian yang pahit karena tidak ingin menyakiti Misca.

          Satu bulan menikah Misca sudah dinyatakan hamil. Robet sangat bahagia akan memiliki seorang anak.

          Pada kehamilan Misca yang memasuki tiga bulan, Inah mulai resah. Inah belum mendapatkan haid. Inah sering mual dan tidak nafsu makan.

          Inah selalu menghindari Robet, dan tidak ingin melihat wajahnya. Robet tidak pernah menyadari kalau Inah sedang hamil.

          Misca diam-diam memperhatikan Inah. Misca merasa heran melihat Inah selalu memakai baju dengan ukuran besar. Saat memasuki usia kehamilan delapan bulan, Misca curiga kalau Inah sedang hamil. Misca melihat perutnya Inah membesar.

          "Inah, antarkan aku ke dokter kandungan, ya?" Pinta Misca.

          "Iya, Nyonya," jawab Inah.

          Misca sengaja mengajak Inah ke dokter kandungan agar bisa memeriksakan perut Inah. Misca curiga Inah hamil di luar nikah. Misca tidak curiga kalau yang menghamili Inah adalah Robet.

          Inah tidak curiga sedikitpun rencana Misca. Sepanjang perjalanan Inah hanya diam.

          "Inah, apakah kamu sudah punya calon suami?" Tanya Misca.

          "Belum Nyonya," jawab Inah.

          "Kalau kekasih, apakah kamu sudah punya punya kekasih?" Tanya Misca.

          "Belum Nyonya, aku belum punya kekasih," jawab Inah.

          Misca merasa aneh mendengar pengakuan Inah. Misca tahu Inah belum pernah pulang ke kampung halamannya selama Misca ada di rumah Robet.

          Sampai di rumah sakit, Misca bertemu dokter kandungan. Misca juga meminta dokter kandungan untuk memeriksa perut Inah.

         Misca menggandeng tangan Inah menuju tempat tidur untuk diperiksa. "Kamu juga harus periksa perutmu, ya? Aku melihat perutmu membesar," bisik Misca.

          Inah terkejut dan tidak bisa menolak. Inah pasrah saat dokter mulai memeriksa tensi darah Inah dan meraba perurnya.

          "Kandungannya sehat, mungkin usianya sama dengan kandungan Misca," ucap dokter.

          Tubuh Inah gemetar, ada rasa takut dan bahagia mendengar kondisi kandungannya. Inah mulai menangis dan tidak berkata sepatah kata pun.

          Misca terkejut mendengar Inah sedang hamil. Misca berusaha tenang di depan dokter. Sepanjang jalan arah pulang, Misca hanya diam.

                                   ***

          Misca sudah tidak sabar menunggu Robet pulang. Misca ingin Robet ikut bertanya siapa ayah yang dikandung Inah. Saat Robet sudah pulang, Misca memanggil Inah.

          "Inah, kemarilah... jujurlah pada kami, siapa yang menghamilimu?" Tanya Misca.

          Robet sangat terkejut mendengar Inah hamil. Inah hanya diam tidak mampu menjawab pertanyaan Misca.

          "Apa?! Inah hamil? Siapa yang menghamilimu?" Tanya Robet.

          Mendengar suara Robet, darah Inah berdesir menahan marah. Inah hanya menunduk tidak menjawab pertanyaan Robet dan Misca.

          "Inah, jujurlah! Aku janji akan membantumu, katakan siapa yang menghamilimu?" Tanya Misca.

          "Tidak disangka kamu sudah berjinah! Aku kira kamu perempuan baik-baik!" Umpat Robet.

          Umpatan Robet membuat telinga Inah semakin panas. Inah tidak menyangka orang yang memperkosanya menghina di depan Misca.

          "Inah? Jawablah! Kalau kamu tidak mau menjawab, aku akan melaporkanmu ke polisi!" Ancam Misca.

          Misca pura-pura mengancam Inah agar mengaku. Tubuh Inah gemetar. Inah tidak mau masuk penjara dan membuat orangtuanya malu dan kesulitan.

          "Tuan Robet yang menghamiliku, Nyoya! Dia sudah memperkosaku," jawab Inah.



        Misca tersentak mendengar pengakuan Inah. Mata Misca melotot ke arah Robet.

          "Rob! Benarkah itu?" Tanya Misca sinis.

          "Itu tidak benar! Mana mungkin aku tidur dengan pembantu! Dia mengarang cerita, Misca!" Bantah Robet.

          Misca mendekati Inah yang masih menunduk dan duduk di atas lantai. Jantung Misca berdegup kencang. Misca takut kalau yang dikatakan Inah adalah benar. Karena Misca tahu, tidak pernah melihat Inah dekat dengan pria.

          "Inah, ceritakanlah kapan Robet memperkosamu? Kamu jangan takut, aku akan membelamu jika itu benar!" Bujuk Misca.

          "Misca! Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri?" Sela Robet.

          "Diam, Rob! Aku ingin mendengar sendiri dari Inah," sanggah Misca.

          Misca merangkul Inah dan memapahnya untuk duduk di kursi. "Jangan takut, katakan sejujurnya, Inah," bisik Misca.

          "Seminggu sebelum Nyonya dan Tuan menikah, malam itu Tuan pulang malam dalam keadaan mabuk. Aku membukakan pintu untuk Tuan. Aku melihat Tuan berjalan sempoyongan. Aku membantunya masuk ke dalam kamar. Tuan mengira aku adalah Nyoya. Tuan menyalakan musik dan mematikan lampu. Tuan mengajakku berdansa dan terus menyebut nama Misca. Aku sudah berontak tapi Tuan terus memelukku. Lalu... Tuan memperkosaku." Kata Inah.

          Misca terkejut mendengar pengakuan Inah. Misca percaya apa yang dikatakan Inah tidak bohong. Robet mengingat kembali kejadian malam itu saat mabuk. Robet menahan marah ketika mengingat pagi itu bangun tidur tidak memakai baju.



         Begitu sulit untuk Misca menyalahkan Robet, karena saat memperkosa Inah dalam keadaan mabuk. Misca memahami Robet mengira Inah adalah Misca. Hati Misca sangat terkoyak. Misca menahan amarah dan merasakan perutnya mulai mulas.

          "Kamu kenapa Misca? Kamu sakit? Jangan dengarkan Inah, aku lupa saat kejadian itu. Apa yang dikatakan Inah belum tentu benar," ucap Robet.

          "Arrrggggh, perutku sakit sekali, Rob!" Keluh Misca.

          "Ayo kita ke dokter!" Ajak Robet.

          Misca tidak sadar sedang kontraksi. Sepanjang jalan Misca terus meringis kesakitan. "Rob, bagaimanapun kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan Inah," ucap Misca menahan sakit.

          "Aku tidak melakukannya, Misca!" Bantah Robet.

          Sampai di rumah sakit, Misca langsung ditangani dokter. Misca terpaksa dibawa ke ruangan persalinan karena sudah mengeluarkan darah. Misca harus melahirkan bayinya secara prematur.

           Misca sangat stress dan tidak bisa membayangkan apakah masih bisa terus bertahan hidup dengan Robet setelah tahu memperkosa Inah.

          Setelah bayi perempuan dilahirkan, Misca kehilangan banyak darah. Misca mengalami pendarahan yang hebat. Nyawa Misca tidak bisa diselamatkan.

          Robet sangat sedih mendengar Misca sudah tiada. Jasad Misca dibawa ke rumah orangtuanya. Selama dua minggu Robet menginap di rumah Misca sambil menunggu bayinya keluar dari inkubator.

          Robet sangat dendam pada Inah. Robet berpikir Misca meninggal karena lahiran terlalu dini. Robet menyalahkan Inah sebagai penyebabnya.

           Hari itu juga Robet pulang ke rumah dan ingin mengusir Inah. Robet tidak mau kepulangan ibunya dari luar negri mendengar Inah hamil karena dirinya.

          "Inah! Keluar kamu!" Teriak Robet.

          Inah keluar dari kamar dan menghampiri Robet. Inah sangat ketakutan melihat Robet marah. Perut Inah langsung kontraksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2