Mohon tunggu...
Maximus Ali Perajaka
Maximus Ali Perajaka Mohon Tunggu... Dosen; Penulis

Alumnus STFK Ledalero, Maumere-Flores, Asian Social Institute Manila, Philippines, CCFA Program, Des Moines, Seattle, WA

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pendidikan dalam Ketakutan (2)

30 Juni 2020   18:44 Diperbarui: 30 Juni 2020   18:41 13 0 0 Mohon Tunggu...

Sebelum pandemi Covid-19, kita ramai mewacanakan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan penguatan kompetensi teknologi digital. Ketika pandemi Covid-19 tiba, kita kalang kabut. 

Pendidikan berjalan sempoyongan, tambal sulam. Dan, supaya tampak tegar dan kuat,  kita lalu menganggap pandemi Covid-19 sebagai  'berkat tersamar' karena mempercepat penyerapan teknologi digital untuk menghadapai gelombag digitalisasi akibat revolusi industri 4.0.

Bahaya Digitalisasi Pendidikan

Para pemangku kepentingan pendidikan pun bergegas mengembangkan sistem pembelajaran secara daring. Berbagai aplikasi pembelajaran secara daring, mulai yang gratisan hingga yang berbayar mahal diburu. Pendidikan 'go digital' begitu slogannya.

Tentu saja, selaras dengan arah gerak peradaban, digitalisasi pendidikan mutlak perlu dikembangkan. Namun, yang perlu diwaspadai, jangan sampai terjadi, digitalisasi pendidikan  dimaknai sebagai pembelajaran secara daring semata. Dan,  orientasi utama dari digitalisasi pendidikan  tak boleh dijadikan tunggal, membangun kompetensi digital semata:  mencetak manusia digital.

Digitalisasi pendidikan  sejatinya adalah salah ciri masyarakat informasi yang memproduksi dan berbagi ilmu pengetahuan, data dan informasi dengan mengandalkan teknlogi internet. 

Hal ini telah dibayangkan oleh ilmuwan sosial, Alvin Toffler (1980) dan ia menyebutnya sebagai cirikhas kehidupan masyarakat Gelobang Ketiga. Herman Bryant Maynard dan Susan E. Mehrtens (1993) menyebutnya sebagai keunggulan masyarakat Gelombang Keempat: dan jiwa dari aktivitas bisnis di abad ke-21.

Pergeseran paradigma dari era industri ke era teknologi-informasi telah membuat aktivitas pendidikan beralih, dari pertemuan  fisik dan komunikasi langsung menjadi pertemuan virtual melalui berbagai media berbasis teknlogi internet.

Dari satu sisi, digitalisasi pendidikan memungkikan para pelaku pendidikan lebih mudah, cepat dan punya banyak pilihan untuk mengakses dan berbagi ilmu pengetahuan dan infomasi. 

Namun, pada sisi lain,  mereka akan kehilangan banyak kesempatan untuk mengembangkan berbagai dimensi kepribadian secara utuh dan sehat. Digitalisasi memustahilkan interaksi sosial yang menjadi dasar bagi perkembangan moral dan spiritual. Bahkan, sistem ini memustahilkan kesempatan untuk belajar mengasah keterampilan berteknologi digital dari instruktur yang berpengalaman.

Beban digitalisasi pendidikan menjadi makin berat apabila kita  merujuk ke pendapat filsuf teknologi berkebangsa Perancis, Jacques Ellul. Ellul (1954:248) menulis, (sekarang) pendidikan tak lagi tak lagi bertujuan memanusiakan manusia atau mengembangkan nilai-nilai, tetapi itu hanya punya tujuan tunggal yakni menghasilkan 'manusia teknisi'.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x