Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, Lulusan S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Mengintip Geliat Bisnis Tanaman Hias di Kota Gresik

7 Desember 2018   05:32 Diperbarui: 7 Desember 2018   05:33 301 3 2
Mengintip Geliat Bisnis Tanaman Hias di Kota Gresik
Ekor monyet, salah satu tanaman hias yang diminati pembeli (dok.pri)

Bagi sebagian orang memelihara tanaman hias merupakan kelangenan (hobi) yang mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Berawal dari sekedar hobi bercocok tanam tanaman hias itu kemudian lahirlah passion (semangat/gairah) untuk menjadikan tanaman hias sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Satu orang berhasil berbisnis (baca = berjualan/berdagang) tanaman hias, lalu cerita tentang keberhasilan itu didengar oleh tetangga dekatnya. 

Sang tetangga yang baru mendengar cerita tadi menjadi tertarik, akhirnya ikut memelihara dan berbisnis tanaman hias begitu seterusnya cerita sukses dari mulut ke mulut (tutur tinular) hingga akhirnya warga sedesa beramai-ramai berbisnis tanaman hias. 

Begitu pula dengan sentra tanaman hias yang ada di Dusun Banyu Urip, Desa Miru - Kedamean - Gresik. Anda mungkin tak menyangka kalau Kota Gresik yang selama ini dikenal sebagai pusat industri khususnya industri semen ternyata memiliki perkampungan tanaman hias yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. 

Dusun Banyu Urip sebagai sentra tanaman hias 

Kini perkampungan Dusun Banyu Urip, Miru mayoritas warganya hidup dengan mengandalkan tanaman hias. Sebagian warga menjadikannya sebagai usaha sambilan karena mereka memiliki usaha kecil lainnya seperti warung makanan dan toko sembako (pracangan). Sebagian warga lagi juga bekerja di sektor formal seperti pegawai negeri atau karyawan pabrik karena di sekitar perkampungan itu banyak kita temukan pabrik-pabrik besar.

Ketika pertama kali memasuki Dusun Banyu Urip, Miru, pengunjung disuguhi pemandangan berupa cantiknya beraneka jenis tanaman hias yang dipajang di depan rumah. Hampir setiap halaman rumah warga Banyu Urip, Miru itu dijadikan show room beragam jenis tanaman hias.

Jalan Dusun Banyu Urip, Miru (dok.pri)
Jalan Dusun Banyu Urip, Miru (dok.pri)
Jalan perkampungan sudah dicor layaknya jalan-jalan besar di pusat Kota Gresik atau kota besar lainnya. Lebar jalan kurang lebih 12 meteran. Proses pengerjaan jalan dan pemasangan gorong-gorong (box culvert) hingga saat saya berkunjung ke sana, Selasa (04/12/2018) masih berlangsung. Jalan masuk ke perkampungan sempat ditutup karena ada proyek itu. Arus lalu-lintas dialihkan melewati gang (kampung) di sebelahnya.

Dulu ketika sedang booming tanaman adenium (Kamboja Jepang) Dusun Banyu Urip, Miru penuh dengan tanaman itu. Hampir semua warganya mengusahakan tanaman yang asalnya dari gurun di Afrika itu. Ketika musim anthurium, masyarakat di desa itu juga beramai-ramai mengembang-biakkan anthurium yang asalnya dari hutan Amazone itu. Singkat kata, jenis tanaman yang diusahakan warga Dusun Banyu Urip, Miru tak jarang mengikuti perkembangan trend yang ada.

Ragam tanaman hias (dok.pri)
Ragam tanaman hias (dok.pri)
Kini ketika bisnis tanaman hias menjadi mata pencaharian yang bisa diandalkan, warga setempat mengusahakan hampir semua jenis tanaman hias. Bahkan tanaman-tanaman yang cocok untuk daerah beriklim sejuk sudah banyak dikembangkan di daerah Banyu Urip, Miru. Warga setempat menggunakan penaung (paranet) atau bahkan green house sederhana sebagai tempat pengembangan (budidaya) agar kondisi suhu dan intensitas cahaya matahari terkontrol, mirip dengan keadaan di daerah pegunungan seperti Batu (Malang) dan daerah Pacet (Mojokerto).

picsart-12-07-04-18-53-5c099c47aeebe103592c4de2.png
picsart-12-07-04-18-53-5c099c47aeebe103592c4de2.png
Cerita sukses pedagang tanaman hias Desa Miru 

Ada ratusan bahkan mungkin ribuan warga Dusun Banyu Urip, Miru yang kini menggantungkan hidupnya dari berjualan tanaman hias. Tak jarang dari warga tadi memiliki 2 stan (lapak) atau lebih. Yuk kita simak bersama kiat usaha atau pengalaman salah satu pemilik lapak tanaman hias 

Beliau adalah Mbak Sulis. Wanita asli Sepanjang, Sidoarjo itu bersuamikan Nanang (43). Sayangnya saya tidak berhasil bertemu langsung dengan mas Nanang karena beliaunya sedang ada tugas ke luar pulau. Untuk menggali informasi lebih dalam seputar cerita sukses dan pengalaman berusaha tanaman hias, saya melakukan wawancara dengan mbak Sulis.

Salah satu sudut stan tanaman hias Mbak Sulis (dok.pri)
Salah satu sudut stan tanaman hias Mbak Sulis (dok.pri)
Menurut Sulis sebelum menjalankan usahanya yang sekarang ini, suaminya kala masih bujangan sudah menekuni bisnis tanaman hias. "Mas Nanang masa mudanya sudah punya stan tanaman hias di daerah Jogoloyo (Gunung Sari)" ungkap Sulis mengawali bincang-bincang kami siang itu.

Sekitar delapan tahunan Nanang berjualan tanaman hias di daerah Jogoloyo Surabaya. Setelah menikah usahanya dipindahkan ke tempat yang sekarang ini. Di Dusun Banyu Urip, Miru sebagai desa kelahiran Nanang, bisnis mereka maju dengan pesat. Hingga kini mereka memiliki dua (2) stan tanaman hias. 

Nanang-Sulis merekrut seorang pekerja untuk menjaga lapak tanaman hias yang satunya. Sementara rumah yang mereka tinggali memiliki halaman yang cukup luas. Di halaman rumah itulah ratusan jenis bibit tanaman hias maupun tanaman buah dipajang untuk ditawarkan kepada para pembeli.

Mbak Sulis di stan tanaman hiasnya (dok.pri)
Mbak Sulis di stan tanaman hiasnya (dok.pri)
Dari hasil pernikahannya dengan Nanang, Sulis dikaruniai dua orang anak. Keduanya laki-laki, berusia 8 dan 7 tahun. Untuk usaha berjualan tanaman hias yang mereka tekuni di Desa Miru itu sudah dijalaninya selama dua belas (12) tahun. Ketika ditanya berapa omset perharinya, Sulis hanya tersenyum sambil nyelethuk " Ndak mesti pak, lha namanya juga rezeki, kadang rame kadang juga sepi". Namun dengan santun ia menyebutkan dalam sehari sedikitnya ia mendapatkan hasil penjualan sebesar 700 ribu hingga 1 juta rupiah. 

"Kadang kalau lagi hoki, 1 buah mawar jambe (sejenis palem, red) bisa laku 5 sampai 7 juta" lanjut Sulis sambil menunjuk ke arah tanaman yang dimaksud.

Usaha berjualan tanaman hias yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun itu berjalan tanpa menggunakan permodalan pihak lain, baik suntikan dana dari pemerintah maupun swasta. "Semua permodalan murni hasil jeripayah kami sendiri" tukas Sulis dengan penuh semangat. 

Lebih lanjut Sulis mengatakan sebelum mengembangkan usaha di desa kelahirannya (Miru, red), Nanang sudah mempunyai tabungan dari hasil kerja kerasnya berbisnis tanaman hias di kawasan Jogoloyo. Usahanya berkembang dengan pesat hingga punya 2 stan penjualan, semata-mata karena keuntungan hasil kerja keras yang diraihnya bukan bantuan permodalan pihak lain.

Tanaman favorit pembeli 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3