Mohon tunggu...
Sosbud

Wayang Kulit Budaya Jawa

16 September 2018   22:32 Diperbarui: 16 September 2018   22:32 378 0 0 Mohon Tunggu...

Indonesia merupakan suatu negara dengan kebudayaan yang sangat beragam. Setiap daerah dan suku di indonesia memiliki adat istiadat, kebiasaan, dan sifat khasnya masing-masing. Contohnya orang suku Jawa terkenal dengan sopan santunnya, tatakramanya dan juga kelemah-lembutannya. Hal-hal ini merupakan ciri khas mereka saat bergaul dengan suku-suku lain dan telah menjadi sifat-sifat dasar mereka yang diturunkan. Tapi tentu saja tidak seluruh orang Jawa memiliki sifat-sifat yang sama persis tersebut karena tiap orang pun memiliki cirinya tersendiri. 

Orang Jawa pada umumnya memiliki beberapa filosofis hidup. Mereka memliki pandangan bahwa hidup sebagai manusia haruslah memiliki manfaat bagi manusia lain dan lingkungan alam sekitar (urip iku urup). 

Orang Jawa juga mudah untuk beradaptasi dengan berbagai situasi lingkungan (Wong Jowo Kuwi Gampang Ditekak-tekuk). Mangan ora mangan sing penting kumpul berarti makan tidak makan yang penting berkumpul, ini menunjukkan rasa solidaritas dan kebersamaan yang dimiliki orang jawa. Nrimo Ing Pandum berarti menerima pemberian dari yang kuasa, maknanya adalah harus selalu bersyukur terhadap apa yang sudah dimiliki dan diberikan oleh Tuhan.

Wayang kulit merupakan salah satu kebudayaan suku Jawa yang cukup khas. Kata wayang berasal dari kata 'ayang-ayang yang artinya bayangan. Bagi suku Jawa, cerita pewayangan selalu menggambarkan bentuk kehidupan manusia di dunia, yakni peperangan terhadap angkara murka dan perjuangan untuk membangun kebaikan. Hal itu sesuai dengan prinsip filosofis hidup yang selalu dipegang teguh oleh orang Jawa. (https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-suku-jawa)

Sejarah wayang kulit tidak jauh berbeda dari sejarah wayang yang biasanya. Bila dilihat dalam catatan sejarah, belum ada bukti konkret mengenai adanya wayang sebelum abad pertama. Hal ini terjadi bersamaan dengan masuknya budaya Hindu dan Budha ke Indonesia. Hal ini semakin diperkuat dengan pertunjukan wayang kulit yang mayoritas menceritakan tentang Ramayana atau Mahabarata.

Cerita-cerita yang ditampilkan dalam sebuah pertunjukan wayang kulit banyak mengandung unsur budaya Hindu dengan sifat-sifat khas orang Jawa itu sendiri, seperti dalam cerita Ramayana. 

Diceritakan bahwa ayah Rama, Raja Ayodya atas perintah istri keduanya yang licik, mengasingkan Rama, putra pertamanya, pewaris sah dari tahtanya ke hutan. Rama merupakan putra yang sangat patuh, dengan demikian tanpa ragu-ragu dia pergi ke hutan bernama Hutan Dandaka bersama istrinya, Sita dan adik laki-lakinya, Lakshmana. 

Lalu, Rahwana (raja iblis jahat Alengka) mengetahui kepergian mereka ke hutan dan terpesona oleh kecantikan istri Rama, Sita. Rahwana berencana untuk menjadikan Sita selirnya dengan cara menculiknya. Saat Rama mengetahui keinginan Rahwana tersebut, dia sangat marah lalu memanggil temannya Hanoman dan prajurit kera untuk menyelamatkan Sita. (https://www.quipper.com/id/blog/tips-trick/your-life/ini-dia-cerita-dan-karakter-wayang-yang-terkenal/)

Pesan yang tekandung dalam cerita Ramayana juga sangat sesuai dengan filosofis hidup orang Jawa. Kita tidak boleh memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain, pesan tersebut sesuai dengan filosofis orang Jawa mudah untuk beradaptasi dengan berbagai situasi lingkungan. Jika kita jadi pemimpin, kita harus berani dan bijaksana, pesan yang ini sesuai dengan filosofis yang mengatakan bahwa hidup sebagai manusia haruslah memiliki manfaat bagi manusia lain dan lingkungan alam sekitar.

Suatu penampilan cerita wayang kulit itu sangat kaya akan budaya karena ceritanya yang berdasarkan kebudayaan orang Jawa itu sendiri. Seni Pertunjukkan Wayang Indonesia sudah mendapat pengakuan dari UNESCO, maka Kementrerian Kebudayaan dan Pariwisata telah melaksanakan kegiatan sosialisasi wayang ke luar negeri. Kini wayang kulit telah menjadi suatu warisan budaya yang mendunia dan juga budaya Jawa yang terkandung di dalamnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x