Mohon tunggu...
Muhammad Dahlan
Muhammad Dahlan Mohon Tunggu... Petani -

I am just another guy with an average story

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Hilang

9 Maret 2017   22:08 Diperbarui: 11 Maret 2017   22:00 427
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Matahari di langit cerah menyengat tepat di atas ubun-ubun. Aku, dengan nafas tersengal-sengal dan sisa-sisa tenaga yang masih ada merangkak dalam menapaki bebatuan terakhir sampai jua di samping Mahmud yang sekitar lima menit lebih dulu tiba di puncak gunung.

“Kita berhasil, Adnan! Kita berhasil!” teriak Mahmud ke arahku sambil merentangkan kedua belah tangannya seperti burung membentangkan sayap. “Kau lihatlah ke bawah sana. Seperti apa kubilang saat kuajak kau kemari tadi, desa kita terlihat sangat indah dari ketinggian sini,” sambungnya lagi kini dengan gerakan badan berputar-putar. Ekpresi khasnya bila dia merasa gembira.

Aku melongok ke bawah. Tampak gugusan hutan sungkai menghijau di sepanjang lereng gunung, hamparan sawah dengan padi menguning keemasan di kaki gunung, sungguh pemandangan yang menyejukan mata. Bukit-bukit dan lembah-lembah hijau berbaris saling silang secara berurutan seperti sengaja disusun. Nun jauh di sana tampak Sungai Telake yang berkelok-kelok laksana ular raksasa meliuk-liuk menjaga rumah-rumah kayu milik penghuni desa Long Kali di sepanjang kedua sisinya. Kendaraan yang melintas di jalan raya tampak hanya sebesar mobil mainan kanak-kanak. Orang-orang yang sedang beraktivitasdi luar rumah terlihat mungil dengan gerakan dan cara berjalan yang terlihat lucu. Semua tampak kecil dan terlihat jelas apa yang ada di bawah sana, tidak ada yang bisa disembunyikan dari penglihatan.

Kelelahan melewati rintangan akar pohon yang saling melintang, hadangan pohon besar yang tumbang dan menaklukan jalan bebatuan yang membuat langkah menjadi berat dalam menerobos semak belukar yang penuh duri dalam pendakian ini diganjar setimpa ldengan panorama alam yang memukau. Ingin kuteriak pada dinding tebing agar terbawa oleh angin untuk menyampaikan begitu indahnya alam desa ini kepada seluruh manusia yang berada di bawah sana.

“Adnan,kau lihat truk tangki minyak Pertamina yang baru turun dari ponton penyeberangan itu. lihatlah truk yang suka meraung pongah di jalan tanah depan rumah kita, dari sini tampak kecil dan tak sanggup mengirim raungannya kepadakita di ketinggian sini,” kata Mahmud seraya tertawa terbahak-bahak.

Mahmud benar. Saat hari panas jalan tanah yang sebagian dilapisi bebatuan kerikil di depan rumah kami selalu berdebu, terlebih setiap kali dilalui truk-truk tangki bermuatan minyak yang tidak tahu berjalan perlahan walaupun masuk-keluar kampung. Apabila hujan lebat, jalan jadi sangat becek dengan cepat mengirim bau aroma masam mencuka menusuk ke hidung sampai ke malam.

Aku tidak pernah merencakan saat ini aku akan ada di puncak gunung tertinggi di antara beberapa gunung yang mengitari desa kami. Ini adalah ide Mahmud. Hari ini merupakan hari pertama kami masuk sekolah setelah libur panjang selama sebulan. Sekarang kami duduk di kelas dua. Aku dan Mahmud sepakat untuk duduk sebangku, sama seperti sejak kami mulai masuk di sekolah dasar ini setahun yang lalu. Tadi ibu Bertha masuk memperkenalkan diri sebagai wali kelas kami. Aku bertanya dalam hati kenapa kami tidak mendapatkan guru lain karena dia telah menjadi wali kelas kami saat di kelas satu lalu. Kemudian ibu Bertha meminta kami keluar dari ruangan kelas untuk bergabung dengan semua murid dari kelas lain berkerja bakti membersihkan halaman sekolah yang menjadi sangat kotor karena kurang terurus selama libur panjang.

“Kegiatan belajar belum akan dimulai hari ini. Daripada kita menghabiskan waktu hanya untuk menunggu waktu pulang sekolah, lebih baik kita pergi ke puncak gunung itu,” ajak Mahmud kepadaku sambil menunjuk ke arah barisan pegunungan di belakang sekolah kami.

Saat itu aku sedang memungut sampah yang berserakan di pekarangan sekolah dan memasukannya ke keranjang yang dipegang Mahmud.

“Untuk apa kita pergi ke sana?” sergahku cepat karena kaget dengan ajakan Mahmud.

“Dari atas ketinggian sana kita bisa melihat pemandangan desa dengan segala seluk-beluk di sekelilingnya. Apa kau tidak tertarik?”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun