Mohon tunggu...
MJK Riau
MJK Riau Mohon Tunggu... Pangsiunan

Lahir di Jogja, Merantau di Riau

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Mengapa Harus Jumpa?

17 Desember 2019   13:35 Diperbarui: 17 Desember 2019   13:47 60 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Harus Jumpa?
sumber: cnnindonesia.com

Tidak dapat dipungkiri, bahwa munculnya Pep membawa Barca mendominasi dunia bola, saat itu, membuat banyak orang terpesona. Pep bukan saja manajer hebat namun juga manajer kopig. Permainan cantik dan menyerang melekat pada Pep. Bandingkan dengan komentar Klopp, waktu Liverpool menang. Liverpool tidak perlu bermain cantik, yang penting menang. Barangkali Mou lebih jujur dalam menerapkan strategi pragmatis dalam meracik permainan bola, anak anak asuhnya.

Namun baik Klopp mau pun Mou memang terbukti sudah mampu menundukkan Pep. Walau pun Pep juga sudah mampu menundukkan Mou dan Klopp. Mungkin Pep masih punya banyak PR untuk menundukkan Klopp. Tapi itu pernah dibuktikannya di Etihad Stadium, musim lalu. Bukan itu saja, setelah Pep mampu atasi Klopp, Pep juga berhasil membawa City Juara BPL. Kalau Mou rasanya udah berat untuk bersaing dengan Pep.

Pindahnya Pep ke Bayern dari Barca, membuat Pep menjadi pesona lain untuk Bundesliga. Kemenangan Pep atas Mou di Piala Super Eropa, mengawali karier Pep di Bayern. Saat itu Pep baru menukangi Bayern sebagai Juara Piala Champions dan Mou juga baru menjadi juru racik Chelsea sebagai Juara Liga Eropa. Laga Piala Super Eropa yang bukan saja seru tapi juga bikin haru.

Pep mampu menghilangkan pesona  Messi dan Barca tentunya. Apalagi kemudian Madrid mampu menggondol La Decima bersama Don Carlo. Barca seolah kehilangan tempat lagi, sampai kemudian munculnya Enrique. Barca kembali memuncak setelah mampu mengatasi Simeone dan Don Carlo yang tadinya berbagi gelar. Don Carlo di Champions sedang Simeone di La Liga. Enrique mampu membawa Barca kembali merajai Eropa.

Namun karier Enrique terlalu cepat dihentikan Zidane. Pesona Pep di Barca yang tidak mampu ditunjukkan Bayern di Liga Champions, tergantikan oleh Zidane, yang tadinya dianggap unpredictable. Baru 6 bulan menangani Madrid, Zidane langsung meraih Juara Liga Champions bersama Madrid.

Bukan itu saja. Zidane bahkan mampu membawa Piala Liga Champions bersama Madrid, 3 kali berturut-turut. Sementara prestasi Pep dengan City di Liga Champions belum menggembirakan. Tentu saja Zidane banyak menyita perhatian dibanding Pep. Walaupun pada saat Zidane mulai menurun, Pep justru semakin gemilang di Liga Domestik.

Namun keduanya akan bertemu tahun depan. City sedang kurang beruntung. Madrid belum juga mampu tampil optimal.Walau pun begitu, salah satu akan hilang dari peredaran, setelah mereka bertemu di babak knock out Liga Champions. Apakah Zidane ataukah Pep yang akan lolos.

Kalau saja Zidane mampu mengatasi Pep, bisa jadi Madrid akan menjadi finalis Liga Champions. Dua musim berturut-turut tim yang mampu mengatasi City, menjadi finalis Liga Champions. Jika Madrid mampu masuk final Liga Champions, biasanya Madrid juara.

Namun Madrid saat ini belum mencapai perfoma terbaiknya. Bahkan laga lawan Barca akan menjadi batu sandungan Madrid. Madrid juga tidak mampu memanfaatkan peluang untuk menggeser posisi puncak klasemen La Liga setelah hanya berhasil bermain seri lawan Vakencia.

Begitu juga halnya dengan City, yang justru sedang dalam kondisi menurun. City bahkan sudah ketinggalan jauh dari Liverpool di Liga Primer Inggris. City walau pun berhasil menjadi juara group di babak penyisihan Liga Champions tetapi masih mengalami kesulitan menghadapi Atlanta. Akankah nasib Pep di Liga Champions tidak akan sehebat saat Pep di Barca?

Itulah yang selalu menghantui Pep baik sejak di Bayern, mau pun di City.

Namun mengapa Pep harus jumpa Zidane?

sumber: cnnindonesia.com
sumber: cnnindonesia.com

VIDEO PILIHAN