Ahmad Indra
Ahmad Indra Administrasi

Menulislah 'tuk memperpanjang usiamu

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Takbir dan Delegitimasi

20 April 2019   06:40 Diperbarui: 20 April 2019   14:56 2504 15 5
Takbir dan Delegitimasi
Dok. VoA Indonesia

Pekik takbir berkumandang di acara deklarasi kemenangan Prabowo - Sandi kemarin lusa, sehari setelah hari pencoblosan. Kubu 02 mengklaim kepemilikan atas 62% suara sah meski didasarkan pada perhitungan internal yang mereka lalukan. 

Dan dalam sebuah video yang lain, Neno Warisman terlihat memimpin para pendukung Prabowo dalam melafalkan takbir yang biasa diperdengarkan umat Islam saat 'Ied.

Tak lama berselang, para pendukung paslon 02 pun secara masif menyebarluaskan apa yang mereka sebut sebagai kecurangan pemilu melalui media sosialnya masing-masing. Termasuk mengenai terganggunya arus komunikasi tim 02 karena adanya gangguan dari pihak luar yang dikatakan sebagai kelompok atau pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atau memiliki alat. 

Diarahkan atau tidak, semua itu akan tertuju pada 1 simpulan, kecurangan Pemilu yang secara sistematis menguntungkan kubu petahana. 

Dan lebih parahnya, keadaan pun diperburuk dengan ditemukannya bukti-bukti kesalahan entry data oleh KPU. Meski telah diklarifikasi sebagai human error, tak urung tuduhan kecurangan melalui penyelenggara pemilu tetap dilayangkan ke mereka. 

Blow up kesalahan KPU itu tentu menguntungkan para pendukung 02 karena pada masa kampanye pun sudah terlihat motip untuk mendeligitimasi KPU.

Munculnya klaim kemenangan oleh Prabowo tentu makin mengokohkan asa pendukungnya dan hal itu amat mungkin akan berdampak buruk jika hal yang berlawanan diumumkan oleh KPU kelak. Sebab saat ini yang mereka yakini hanyalah kemenangan sehingga tak ada kata "kalah" dalam perbendaharaan kata mereka.

Saya hanya berharap, selepas menggunakan takbir sebagai legitimasi deklarasinya, mereka tak menggunakan ayat-ayat jihad jika kenyataannya nanti tak seperti yang sudah mereka gaungkan. Meski saat ini, sebagian dari mereka sudah berdalil dengan surat al-Muthaffifin (orang-orang yang berbuat curang) mengacu pada kejadian-kejadian yang merugikan pihaknya.

Hal yang berbeda terjadi di kubu Jokowi. Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin, Moeldoko, dalam sebuah keterangannya telah menyatakan 6 sikap terkait Pilpres 2019. 

Dalam poin ke-3, dinyatakan bahwa TKN akan mematuhi apa yang menjadi ketetapan KPU sebagai penyelenggara pemilu. Hal itu, lanjutnya, berarti juga bahwa mereka siap menerima hasil resmi KPU yang bisa jadi berlawanan dengan hasil hitung cepat lembaga-lembaga survey yang memenangkan pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin.

Dengan sikap menahan diri itu, paling tidak kubu 01 dapat memberikan andil yang menyejukkan suasana pasca pilpres. 

Prof. Mahfud MD dalam sebuah episod Indonesia Lawyer Club (ILC) beberapa waktu lalu sudah mengingatkan KPU bahwa momen pasca pemilu sudah pasti akan dihiasi oleh ketidakpuasan pihak yang kalah. 

Setiap kekalahan pasti akan menimbulkan tuduhan curang yang dialamatkan kepada lawannya, meskipun aktualnya kecurangan dilakukan oleh ke dua belah pihak. Sarannya, bagi pihak yang  merasa dicurangi, tinggal kumpulkan saja data kecurangan yang mereka bisa temukan untuk selanjutnya diajukan ke pengadilan. 

Dan skarang, hal itu sudah masif dilakukan oleh pendukung 02. Mengumpulkan bukti-bukti, namun sayangnya mereka melaporkannya ke media sosial yang tak punya kewenangan untuk mengadili sebuah perkara. 

Bukan tanpa tujuan, hal itu dilakukan justru karena mereka sadar bahwa dengan gencarnya pemberitaan melalui media sosial, opini masyarakat dari semua kalangan akan terbentuk. Tak peduli mereka yang bertitel, berdasi ataupun masih abg. 

Cara itu ditempuh saat media-media arus utama dirasa telah "berpihak" kepada lawan politik. Sehingga untuk mencapai akar rumput, facebook dan twitter-lah yang menjadi garda depan, termasuk dalam menyebarkan berita batil (berita bohong, provokasi dsb) yang tentu tak mudah dilakukan oleh media arus utama.

Pada dasarnnya semua kondisi itu akan kembali ke sosok Jokowi dan Prabowo. Saat mereka mengatakan bahwa jalinan silaturahmi tak akan putus dengan kalah - menangnya salah satu pihak, hal itu harus dibarengi dengan kemampuan mereka dalam meredakan ketegangan yang terjadi saat ini. Yakni mengalirkan semangat berkawan mereka itu kepada para pendukungnya. 

Saya tak bisa membayangkan hal yang bisa terjadi saat kubu Jokowi juga melakukan hal sama, yakni menggunakan dalil agama sebagai legitimasi. Politik identitas yang kerap diperlihatkan oleh kubu 02 bisa kita lihat hasilnya saat ini. 

Dengan keyakinan bahwa Prabowo - Sandi adalah pilihan para ulama melalui ijtima'-nya, tak jarang mereka melukiskan kontes ini sebagai pertempuran melawan kebatilan dimana masa depan Islam dipertaruhkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2