Mohon tunggu...
Maryati
Maryati Mohon Tunggu... Selalu optimis dan menebar kebaikan

Ibu dari 4 orang anak, sebagai sinden dan pemandu "Upacara Adat Sunda" di Kepri. Pernah menjadi guru les/privat di rumah sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Badai Kehidupan Dapt Kutempuh Berkat Warisan dari Ibu

3 Desember 2020   15:16 Diperbarui: 3 Desember 2020   15:23 34 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Badai Kehidupan Dapt Kutempuh Berkat Warisan dari Ibu
Dok. pribadi

Tema: Ibu,  Sekolah Pertamaku*Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Cinta kasih anak kepada ibu tidak sebanyak cinta kasih ibu.*

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:    

. . .
"'An Abi Hurairah radiyallahu 'anhu qala, ja-a rajulun ila Rasulillahi SAW,  faqala Ya Rasuullah: man ahaqqu-nasi bihusni shahabatiy? Qala ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? qala tsumma abuka,".
Yang artinya: "Dari Abu Hurairah RA dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?' Rasul pun menjawab: 'Ibumu'. 'Lalu siapa lagi?', 'Ibumu'. 'Siapa lagi', 'Ibumu'. 'Siapa lagi', 'Ayahmu'."
Dalam kitab Fath Al-Bari karya Imam Ibnu Hajar Al-As qalani dijelaskan perkara Rasul menyebut ibu sebanyak tiga kali.

Bicara tentang sosok yang satu ini, tidak akan ada habisnya. Begitu banyak jasa dan motivasinya bagi kehidupanku. Mulai dari saat kandungan hingga menjadi seorang Ibu yang dikaruniai empat orang anak.

Ibuku seorang sosok yang pantang menyerah, kerja keras, mandiri, rela berkorban, mengalah, dan juga cerdas dalam menyikapi segala masalah yang dihadapi.

Masa kecil ibuku tidaklah sebahagia anak-anaknya. Itu karena korban dari perceraian orang tua yaitu kakek dan nenek. Terkadang dia menjadi pelampiasan ibunya sendiri. Sekolah hanya sampai SR saja. Mungkin kalau sekarang namanya SD. Jika dilihat dari segi perekonomian, Bapaknya Ibu bukan orang miskin tapi bergelar Rd (Raden) pada zamannya.

Pernikahan dengan Bapak pun, Ibuku tidak direstui oleh sang kakek karena Bapakku orang miskin yang bisa menjatuhkan wibawa kakek. Tapi Ibu tetap nekat dan akhirnya dinikahkan juga walau restu yang terpaksa.

Do'a restu orang tua yang tulus memang sangat penting bagi kita sebagai anak. Demi mewujudkan sebuah rumah tangga yang "SAMAWA"
Apa yang dialami oleh orang tuaku sepertinya banyak sekali rintangan dalam menjalani kehidupan. Mereka harus serba mandiri menghadapi liku-likunya. Mulai dari Bapak yang harus bisa mencukupi Istri dan belasan anak. Bekerja keras keduanya. mencoba dan selalu mencoba dari sebuah kegagalan. Mandiri tanpa harus berkeluh kesah pada orang tua.

Keduanya bekerja sebagai pedagang di Pasar,  ibu berjualan beras sedangkan Bapak berjualan ikan basah. kadang pulang jualan,  dia harus berperan menjadi seorang penjahit pakaian, buat kue pengantin pesanan orang.

Belasan anak bisa mereka sekolahkan dan memberikan Nutrisi gizi yang baik. Dikampung saat itu menjadi sorotan bagi yang lain, karena Ibuku bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi ternama yaitu ITB.

Walaupun hidup pas-pasan tapi kalau untuk makanan buat anaknya selalu makanan istimewa. Jarang banget makan dengan tahu tempe, pasti dengan daging atau ayam. Tidak seperti tetangga yang lainnya, yang lebih mengutamakan perhiasan dibanding makanan bergizi ataupun menyekolahkan anaknya. Pikiran mereka kebanyakan bahwa kekayaan bisa dilihat dari banyaknya perhiasan yang mereka pakai.

 Semua kesulitan dan pedihnya kehidupan rumah tangganya, mereka enggak pernah cerita pada orang  tuanya. Cukup ditelan berdua.
Walau mereka berdekatan dengan orang tua masing-masing, namun yang aku pelajari dari mereka seperti tinggal di perantauan. Yang serba harus mandiri menghadapi badai kehidupan.

Belajar dari sekolah pertamaku yaitu Ibu, Aku mulai belajar mandiri merantau ke Batam sendirian. Tanpa bekal uang yang cukup, tanpa saudara dan tanpa teman yangku kenal.
Alhamdulillah semua badai kehidupan telahku  lalui selama tiga tahun merantau untuk bekerja.

Pertemuanku dengan calon suami begitu singkat. Tiga bulan sebelum habis kontrak dan tiga bulan setelah di Kampung lalu menikah. Menikah tanpa menanyakan status pekerjaan. Ternyata aku dapatkan suami yang pengangguran. Tapi tidak mengapa, karena itu konsekuensi yang harus aku jalani. Dulu permintaanku pada sang Illahi hanya meminta  kriteria "Satu Suku Satu Agama" sesuai keinginan Ibuku.

Bukan tanpa sebab, aku memilih kriteria itu. Semata hanya ingin mendapatkan Do'a restunya. Pernah menjalin hubungan dengan orang kaya dan pernah juga menjalin hubungan dengan orang Sumatra, tapi aku tidak direstuinya. Kalau sama orang kaya aku dapatkan, mungkin orang tuaku merasa trauma punya besan orang kaya raya. Tetapi jika aku dapatkan orang Sumatera, katanya nanti susah untuk bertemu orang tua/susah mudik.

Setelah tiga bulan menikah, aku merantau ke Batam lagi. Tanpa modal kerja, tanpa saudara. Kami berdua sama-sama pengangguran, hanya membawa uang cukup untuk makan sebulan. Untuk bayar kos pun tak ada.
Perjalanan panjang yang di awal pernikahan dan di perantauan, cukup membuatku kenyang menghadapi badai kehidupan.

Warisan yang tidak ternilai harganya, itulah yang kudapat dari pengalaman hidup orang tua. Mulai punya anak satu hingga punya anak empat. Tak ada yang membantu persalinan setelah melahirkan, karena kami tidak ingin merepotkan orang tua lagi. Cukup suamiku yang mengurus segalanya. Mulai dari mandikan bayi, gendong bayi, memasak, mencuci kain, menyetrika, dan jemur pakaian.

Bersabar menghadapi segala cobaan, tidak merugikan orang lain, dan tidak ingin merepotkan orang lain termasuk merepotkan keluargaku di Bandung,  itu adalah moto hidupku di rantau orang. Semua itu aku dapatkan dari sekolah pertamaku di rumah yang digurui oleh Ibu sendiri.


Biaya tidak ada saat pasca operasi anak pertama, suami pun baru kerja dua bulan di SPBU, karena selama datang ke Batam cuma aku yang kerja. Itu pun sampai hamil 6 bulan. Suami dapat kerja saat usia kandunganku 7 bulan.

Alhamdulillah biaya operasi dipinjami oleh PT  tempat suami bekerja. Itu setelah seminggu anakku di tahan di rumah sakit sebagai jaminan supaya kami bisa menebus biaya RS. Selain itu juga, suami dapat cuti gratis tanpa potong gaji selama 40 hari. Benar-benar suatu  keajaiban bagi kami.

Keadaan perekonomian pun semakin membaik setelah kelahiran anak pertama. Kami juga bisa melunasi tunggakan sewa kamar selama berbulan-bulan dan bayar ke warung.

Setiap kelahiran anak, selalu mendapatkan hasil dari sebuah kesabaran, perjuangan, dan pengorbanan. Lahir anak pertama, suami sudah dapat kerja walau baru dua bulan. Lahir anak ke dua, diangkat jadi  pengawas perusahaan. Lahir anak ketiga, suamiku barulah diangkat menjadi "Manajer Perusahaan."

Sebagai seorang istri, aku enggak pernah mengeluh atau manja di saat suami lagi kerja. Jika ingin berobat, kami pergi berempat ke RS  menaiki mobil Taksi atau ojek. Tanpa suami yang menemani. Jangka waktu 10 tahun 100% hadir  terus tanpa sakit dan tanpa Izin maupun tanpa keterangan. Suamiku tidak masuk kerja hanya karena aku melahirkan saja.

Selama cita-cita hidupku belum tercapai puncaknya. Aku selalu memberikan dukungan  yang lain selain tidak manja, memberikan langkah-langkah supaya sukses bekerja dan dapat dipercaya perusahaan. Aku beri teori dan trik pada suamiku, karena aku dulu selalu diberikan kepercayaan di mana pun aku bekerja. Cuma sayangnya setelah mempunyai anak, aku enggak diperbolehkan lagi kerja oleh suamiku. Selain itu juga, aku punya alasan lain tidak bekerja lagi. Kondisi kesehatan yang enggak bisa kerja berat setelah melahirkan secara operasi Caesar dan juga enggak tega meninggalkan anak-anak di rumah.

Perekonomian kami pun semakin membaik setelah lahir anak keempat. Namun kebahagiaanku tidaklah mencapai titik yang sempurna karena orang yang selama ini mengajarkan tentang arti kehidupan, arti kemandirian yang enggak pernah diajarkan oleh sekolah mana pun. Sekolah pertama dan terakhirku. Kini telah meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku belum bisa membalas jasamu Ibu.

Maafkan anakmu Ibu, karena enggak bisa menemuimu dan belum bisa mengunjungi rumah barumu. Kemandirian dan kebesaran hatimu untuk tidak merepotkan siapa pun. Tertanam hingga akhir hayatmu. Hanya hitungan  sehari dua hari sakit yang kau alami. Kain kapan pun telah engkau siapkan.

*Selamat jalan Ibu, semoga Ibu tenang di alam sana. Tetes air mata sebagai saksi bisu    dalam setiap coretanku. Hanya Do'a yang bisa aku panjatkan untukmu Ibu, semoga Ibu tenang di alam Surga.

label Ibu Sekolah Pertamaku

Batam, 03-12-2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x