Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menulis Makna (12): Kesempurnaan, Bukanlah Tujuan tapi Sarana yang Menggerakkan

24 Juni 2021   07:07 Diperbarui: 24 Juni 2021   07:26 101 23 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis Makna (12): Kesempurnaan, Bukanlah Tujuan tapi Sarana yang Menggerakkan
Ilustrasi. www.moneycrashers.com

Tidak akan pernah ada sesuatu yang dapat dikerjakan, jika seseorang menunggu sampai ia dapat mengerjakannya sebaik mungkin sedemikian sehingga tak ada seorang pun yang menemukan kekurangannya. (John Henry C. Newman)

Kesempurnaan sebagai sebuah tujuan adalah sebuah kesia-siaan belaka, yang akan menghadirkan sakit hati, frustasi, dan bahkan melukai orang lain. 

Orang akan jatuh pada standar diri yang begitu tinggi dalam mencapai tujuan hidupnya dan celakanya standar itu juga dijadikan ukuran pada orang lain. Kebenaran dan ketepatan dalam hidup hanya ada pada dirinya saja. Pikiran dan perasaan menjadi beku karena begitu dinginnya ekspresi dan apresiasi atas segala hal yang terjadi.

Orang yang selalu menuntut sempurna dalam berbagai hal, bisa menjadi sangat brutal dalam menilai apapun sejauh matanya melihat, telinganya mendengar, hatinya merasakan, dan pikirannya memahami. Harapan begitu tinggi melambung ke angkasa, tuntutannya begitu sadis menekan. Hidupnya begitu menegangkan dengan target-target yang harus dicapai. Bisa jadi, hidupnya akan kehilangan kesempatan untuk sekadar bersantai, bercanda, ataupun bersuka ria dalam tawa.

Kesempurnaan sebagai sebuah proses dalam mencapai tujuan hidup adalah sebuah kecerdasan hidup dalam menyikapi gelora kehidupan yang naik-turun memaksa pikiran dan perasaan harus berkolaborasi menata dalam segala perilaku. 

Kesempurnaan sesungguhnya bukanlah wujud nyata yang harus dicapai, namun kesempurnaan menjadi semangat yang tak kunjung padam, yang selalu menyalakan semangat berpikir sehat dan bernurani seiring nilai-nilai moral peradaban. Tanpa semangat ini, manusia akan kehilangan arah dan pada akhirnya jatuh pada rutinitas yang terus menggelinding yang akan terhenti tatkala terbentur sesuatu atau tercebur dalam kekelaman.

Ilustrasi. therightbridge.blogspot.com
Ilustrasi. therightbridge.blogspot.com
Sempurna sebagai hasil, pastinya berbeda dengan sempurna sebagai proses. Sempurna sebagai hasil sudah jelas dalam ranah pikiran setiap manusia, yakni target yang ingin dicapai. Yang akan terjadi adalah berhasil atau gagal, yang akan melahirkan kebahagiaan atau kesedihan, kebanggaan atau kekecewaan. Sempurna sebagai proses adalah sebuah kesinambungan dalam hidup yang memberikan kerangka kehidupan dengan longlife learning (belajar sepanjang hayat), belajar untuk menjadi lebih baik dan lebih baik dalam hidup.

Hari-hari kehidupan dapat dijalani setiap manusia dengan lepas bebas tanpa tekanan target yang sempurna, tapi dengan proses sempurna, selalu belajar menjadi lebih baik

Setapak demi setapak, segala aktivitas kehidupan dari pagi hingga malam dijalani dengan kemantapan hati dan ketenangan pikiran. Menjalani kehidupan dengan pikiran jernih, hati tulus, nurani teruji, dan santun perilaku menjadikan hidup penuh nikmat dan hikmat. Kegagalan, kesedihan, dan ketidakmampuan dalam hidup tidak lagi menjadi kegaduhan dan kekacauan, justru sebaliknya semuanya itu menjadi pembelajaran hidup yang berharga.

Hidup adalah sebuah anugerah terbesar dari Sang Pencipta. Hidup patut disyukuri dan dijalani dalam semangat untuk selalu memaknai hidup itu dengan berbagai kebijaksanaan hidup. Diam ataupun lari, cemberut ataupun senyum, menangis ataupun tertawa, malas ataupun rajin, sesungguhnya kehidupan semesta tetap berjalan terus tanpa menghiraukan apa yang kita pikirkan, kita rasakan, kita katakan, dan kita lakukan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN