Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Penulis - Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Seri untuk Negeri (3): Literasi sebagai Revolusi Pendidikan Bangsa

21 Maret 2021   04:04 Diperbarui: 21 Maret 2021   05:46 287
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Inspirasi. www.quirkbooks.com

Bangsa Indonesia hingga tahun 2018 ini masih mengalami krisis literasi yang sangat akut dan cenderung mengkhawatirkan bagi perkembangan mentalitas bangsa. Rupanya keadaan itu masih berlangsung hingga hari ini. Dari 61 negara yang diteliti kemampuan literasinya, Indonesia menempati peringkat ke-60. Fakta ini pastinya sangat mencemaskan bagi perkembangan bangsa ini ke depan.

Kemampuan baca-tulis telah menjadi sebuah habitus atau kebiasaan hidup sehari-hari bagi negara-negara maju, seperti Finlandia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang dan yang lainnya. Tolok ukur kemajuan sebuah bangsa memiliki habitus literasi yang tinggi sebenarnya cukup mudah, yakni dengan melihat bagaimana orang-orang di negara itu menghabiskan waktu di tempat umum. Mereka dengan mudah dan nyaman menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis saat di halte, ruang tunggu pesawat, stasiun, caf, taman kota, bis, kereta, pesawat, dan tempat lainnya. 

Bagaimana orang Indonesia menghabiskan waktu pada situasi seperti itu? Ada cukup banyak pilihan aktivitas, seperti: tidur, ngobrol, bermain handphone, atau sekedar melamun saja.

Di sisi lain, dunia pendidikan pun setengah hati dalam mengembangkan kemampuan literasi anak didik karena tuntutan kurikulum dalam tataran praktis justru tidak memberi ruang dan waktu bagi anak didik untuk berliterasi. Anak-anak dituntut belajar banyak mata pelajaran dengan materi yang begitu menumpuk. Belajar di sekolah dan waktu pasca jam sekolah hanya habis untuk menghafalkan, memahami, dan mempersiapkan tes atas materi itu. Pendekatan saintifik dalam kurikulum tinggal harapan saja ketika dihadapkan pada kenyataan praktis di lapangan di mana pendidikan kita masih berorientasi pada materi dan evaluasi.

Revolusi Pendidikan

Mengembangkan pendidikan sesungguhnya sama halnya membangun sebuah rumah yang kokoh dan sekaligus artistik. Kemampuan literasi layaknya sebuah pilar dari rumah pendidikan tersebut yang ikut serta memperkokoh berdirinya rumah. Oleh karena itu, bangsa yang hebat adalah bangsa yang mampu mengembangkan pendidikan dengan literasi yang begitu kuat dan membudaya sepanjang masa. Pendidikan tanpa literasi yang kuat pada akhirnya akan berdampak pada kehancuran sebuah bangsa, bagaikan rumah tanpa pilar yang kokoh sehingga mudah roboh diterjang apapun.

Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam Kurikulum sebenarnya menjadi pintu yang baik dalam mengoptimalkan literasi di dunia pendidikan. HOTS sejalan dengan pendekatan saintifik di mana anak didik dituntun untuk belajar menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create). Dengan menerapkan HOTS dalam pembelajaran di sekolah, seharusnya para siswa akan belajar secara dinamis dengan melibatkan pikiran, jiwa/hati, dan raganya untuk mengembangkan dirinya secara utuh-menyeluruh dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Belajar IPA (Fisika, Biologi, Kimia) dengan menghabiskan waktu di ruang kelas bersama buku teks dan berbagai teori tentunya akan sangat menjenuhkan. Akan tetapi, belajar IPA dengan melihat, mengamati, meneliti, bahkan melakukan ujicoba (problem solving) atas gejala dan masalah alam atau lingkungan pastinya akan lebih menantang bagi para siswa dan berguna bagi kehidupan nyata, bukan sekadar belajar untuk ulangan dan dapat nilai. Pembelajaran menjadi benar-benar terhubung dengan kehidupan nyata.

Belajar IPS (Sosiologi, Ekonomi, Sejarah) hanya lewat buku teks yang ada pastinya membosankan. Gejala dan masalah sosial di masyarakat dapat menjadi sumber belajar yang menarik, faktual, dan aktual sehingga para siswa dapat menganalisis dan mengevaluasinya. Generasi muda dapat belajar dari masyarakat nyata sehingga menjadi pelajaran bagi mereka dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Melalui pembelajaran model HOTS tersebut, sesungguhnya menjadi pintu untuk mengoptimalkan literasi di sekolah. Untuk bisa melakukan analisis, evaluasi, dan menciptakan solusi atau karya, para siswa akan merasa butuh untuk memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuannya dengan membaca berbagai literatur di luar buku teks, seperti buku, makalah, berita, jurnal, atau jenis tulisan lainnya. Dengan cara ini, literasi tidak lagi menjadi kewajiban atau tuntutan yang dipaksakan tetapi literasi benar-benar menjadi sebuah kebutuhan intelektual para siswa.

Banyak program literasi yang dilakukan hanya sekadar proyek pendidikan atau program tambahan yang dilekatkan pada aktivitas anak didik sehingga yang terjadi adalah keterpaksaan dan cenderung gagal. Literasi sejatinya menjadi sebuah habitus dan kebutuhan. Dengan pembelajaran HOTS sesungguhnya mendesain sebuah kebiasaan literasi dalam dunia pendidikan sebagai sebuah kubutuhan dalam mencapai kedalaman atau kematangan intelektual. Dengan demikian, literasi menjadi habitus yang berkesinambungan sepanjang hayat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun