Mohon tunggu...
Maria Fillieta Kusumantara
Maria Fillieta Kusumantara Mohon Tunggu... Administrasi - S1 Akuntansi Atma Jaya

Music Addict. Writer. Content creator

Selanjutnya

Tutup

Book

Kelamnya Siksa Neraka Hantui Anak-Anak

8 Oktober 2022   18:15 Diperbarui: 8 Oktober 2022   18:19 165
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : kibrispdr.org

Mendengar kata 'Siksa Neraka', sebagian dari kita pasti auto keiingat sama komik legendaris karya MB Rahimsyah terbitan CV Pustaka Agung Harapan bukan? Pasalnya komik 18 halaman ini sempat jadi bacaan mayoritas anak-anak madrasah bahkan dijual dengan harga tak sampai dua ribu rupiah lho. 

Hmm saya jadi makin penasaran nih apa sih keistimewaan komik Siksa Neraka sampai bisa viral banget belakangan ini dan dijual semurah itu? Langsung deh weekend ini saya niatkan menjelajah yah meskipun gerimis sempat mengguyur Jakarta di sore hari. Ternyata, bukan main sulitnya mencari buku ini guys. Kebanyakan toko buku jadul dan bekas yang saya datangi sudah tak lagi menjualnya entah karna kehabisan stok, sepi peminat, atau pemberhentian cetak. 

Akhirnya saya mencoba jalan terakhir yaitu download dari berbagai situs resmi. Meski terkendala lambatnya pengaksesan situs karna banyaknya downloader yang berminat, akhirnya komik tersebut berhasil saya dapatkan. Alangkah terkejutnya saya, sampul komiknya tampak begitu sadis menampilkan secara gamblang perempuan telanjang yang lidahnya dipotong dengan gergaji, lelaki yang telinganya di tusuk tombak hingga tengkorak yang diborgol. 

Tak berhenti disitu saja, MB Rahimsyah menggambarkan semua jenis siksa neraka beragam tingkatan digambarkan secara detail tanpa sensor sama sekali. Yang menjadi pertanyaan saya, kok bisa ya buku semacam ini dijadikan bahan bacaan anak-anak yang notabene kelompok paling rentan terpapar informasi? Memang, isi bukunya sangat informatif sih, tapi kemanakah peran editor dan lembaga sensor yang 'katanya' amat sangat rumit dalam menentukan kelayakan terbit itu?  

Hasilnya, sudah bisa ditebak. Banyak anak mengalami ketakutan  pasca membaca komik ini. Tidak hanya itu, banyak pula yang merasa diri tertampar dan mulai melakukan sholat pertobatan. Sekilas efek ini tidak terlalu berbahaya. 

Mungkin sang penulis lega mengetahui harapannya untuk menyadarkan anak-anak akan pentingnya ibadah telah terpenuhi. Tapi, apakah benar mengedukasi anak untuk rajin beribadah harus seperti itu? Yang ada, anak akan melakukan ibadah dengan rasa takut dan terancam tanpa betul-betul memahami esensinya. 

Bisa dibayangkan apa jadinya jika hal ini terjadi terus menerus bahkan sampai sang anak beranjak remaja dan dewasa. Mereka bisa jadi menganggap Tuhan sebagai hakim kehidupan yang selalu membuntuti mereka kemanapun dan dimanapun bukannya sebagai sahabat yang bisa mereka andalkan dalam setiap langkah hidupnya. Frasa 'Hukuman dari Tuhan' yang diketengahkan di komik ini juga semestinya tidak diekspos bertubi-tubi secara kejam.

Karna dengan begini, anak-anak bisa saja mengasosiasikan bahwa Tuhan itu jahat dan suka menghukum. Padahal sejatinya, Tuhan itu Maha Baik dan semua agama seharusnya menawarkan kedamaian jiwa dan perlindungan bagi umatnya. Mungkin di zaman itu, kita masih lengah dengan hal-hal ini, tapi kedepannya saya berharap buku edukasi keagamaan khususnya untuk anak-anak bisa berbenah lebih baik dan tidak lagi menimbulkan kegaduhan dan trauma seperti Siksa Neraka ini. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun