Mohon tunggu...
Margita Widiyatmaka
Margita Widiyatmaka Mohon Tunggu...

Saya seorang pembelajar. Pembelajar apa saja yang dapat saya jadikan bahan pembelajaran, untuk memahami kehidupan dan memaknainya dengan cara yang baik dan penuh keindahan. Hobi utama saya bertualang dalam dunia nyata maupun maya (internet), menulis maupun mohon saran/tanggapan, menulis puisi atau apa saja yang bisa saya tulis berdasarkan pengalaman dan informasi. Mudah-mudahan puisi/tulisan saya bisa menjadi sesuatu yang bernilai atau bermanfaat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Nonton Wayang Orang Membangkitkan Kenangan

18 September 2014   15:44 Diperbarui: 18 Juni 2015   00:20 43 0 0 Mohon Tunggu...

Bagi kebanyakan orang Jawa menonton (nonton) wayang kulit kalau kita lihat realitanya ternyata lebih sering daripada menonton wayang orang.  Kalau kita amati lebih jauh, wayang kulit pun makin jarang dipertontonkan ("ditanggap") dalam acara-acara hajatan karena alasan keuangan yang mahakuasa. Masyarakat lebih sering "nanggap"  Campur Sari yang dipandang lebih praktis, murah, dan cukup meriah. Bisa dibayangkan apalagi masyarakat yang "nanggap" wayang orang mungkin  terbatas pada orang-orang tertentu dari kalangan penggemar atau paguyuban wayang orang saja, lembaga terkait/institusi/perusahaan yang para pemimpinnya peduli pada eksistensi wayang orang.  Oleh karena itu lahirnya Paguyuban Wayang Orang (PWO) Panca Budaya DIY yang melibatkan seniman-seniman dari 4 (empat) kabupaten (Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul) dan 1 (satu) kota (Yogyakarta) sejak 2 (dua) tahun yang lalu sungguh bagi saya (Kompasianer), dan Insya Allah masyarakat umumnya, merupakan upaya positif membangkitkan kenangan dan "kesenangan" masa kecil. PWO Panca Budaya DIY dalam kiprahnya keliling memberikan hiburan gratis kepada masyarakat (tentu dengan bantuan sponsor, termasuk Pemda DIY) dipimpin oleh Agus Setiawan, bersama Tukiran (Naskah/Sutradara), Agus Ley-loor (Art Dierector), Widodo K. (Penata Tari), Ki Agus Hadi Sugito (Dhalang),  dan Eko Purnomo (Penata Gendhing).

Pengalaman saya nonton 2 (dua) kali pergelaran PWO Panca Budaya DIY baru-baru ini cukup berkesan dan mungkin dapat membangkitkan kenangan masa kecil saya.

Pertama, saya nonton wayang di Pendapa Kepanjen, Kec. Berbah, Kab. Sleman, dengan lakon "Begawan Mintaraga" yang bercerita tentang Arjuna yang sedang bertapa di suatu hutan memohon doa restu kepada dewa agar kelima anggota keluarga Pandhawa kelak dalam Perang Bharatayuda tidak ada yang terbunuh (utuh).Arjuna lulus, dari berbagai godaan baik para raksasa pengganggu maupun para putri ayu penggoda, dan dikabulkan doa permintaannya.  Hanya saja Ki Lurah Semar Badranaya (Dewa Ismaya) selaku pengasuhnya menyayangkan kenapa doanya hanya ditujukan sebatas pada keutuhan kelima anggota Pandhawa, tidak meluas ke anak-cucunya. Hikmah yang bisa saya ambil, meski Arjuna telah lulus dari uji kesabaran dalam bertapa, tetapi masi ada saja kekurangan Arjuna (manusia), yakni masih mementingkan keluarganya dalam arti sempit.

Kedua, saya nonton wayang di Balai Desa Ngawu, Kec. Playen, Kab. Gunungkidul, dengan lakon "Karmapala" yang bercerita tentang keluarga Resi Gotama. Resi memiliki istri bernama Dewi Indradi, dan 3 (tiga) orang anak yaitu Dewi Anjani, Guwarso, dan Guwarsi. Dewi Indradi berselingkuh dengan Dewa Indra (Bathara Surya) melalui Cupu Manik Astagina - hadiah Dewa Indra pada saat pernikahannya. Ketiga anaknya akhirnya memperebutkan Cupu itu. Peristiwa ini membuat kesal dan kecewa Sang Resi. Dewi Indradi yang diam saja tak mau menanggapi kemarahan Sang Resi (suami) dikutuk jadi tugu, sedangkan ketiga anaknya yang memperebutkan Cupu yang dibuang Sang Resi jatuh di telaga berubah menjadi kera atau monyet (Subali, Sugriwa, dan Anjani).  Hikmah atau pelajaran yang bisa saya (kita) ambil dari cerita ini adalah "Barang siapa menanam, akan memetik hasilnya".  Menanam kebaikan akan menghasilkan kebaikan, menanam keburukan akan menghasilkan keburukan. Dalam versi cerita ini (versi cerita asli?), "karma" dimaksud lebih berkonotasi atau bermakna negatif.  Dalam cerita yang sama, Kedung Darma Romansha (KDR)--penyair muda potensial--melalui puisinya "Ngundhuh Wohing Karma" justru memiliki sudut pandang yang berbeda dari lakon "Karmapala". Ia memandang Sang Resi sebagai sumber kesalahan, disebabkan Sang Resi suntuk bertapa sehingga lupa mengurus itri dan anak-anaknya. Indradi merasa kesepian ditinggal bertapa, anak-anak merasa bebas dibiarkan sehingga hawa nafsu mereka sulit terkendali.

Dalam kenangannya (ketika masa kecilnya sering nonton wayang di Indramayu-Jawa Barat), KDR lebih familiar menyebut istri Resi Gotama sebagai "Windardi" daripada "Windradi" atau "Indradi".  Dalam cerita "Karmapala" versi puisinya, Windardi (Dewi Indradi) memberontak (tidak diam), dan meratapi kesepiannya sebagai yang tersebut di bait kedelapan :

"wahai resi yang tidur dalam keterjagaannya

aku ingin kau jilati kesepianku

agar tuntas segala rindu birahiku

tubuhku meranggas

aku haus

tapi kau batu yang keras

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN