Mohon tunggu...
Mardani
Mardani Mohon Tunggu...

"Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kecerdasan dan Perjuangan Tan Malaka Meraih Pendidikan dari Hasil Utangan

3 Desember 2013   11:47 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:23 0 2 2 Mohon Tunggu...

Masyarakat Indonesia mungkin tak banyak yang tahu soal jasa pahlawan nasional Tan Malaka bagi Indonesia. Pria yang memiliki nama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka itu memuliki jasa yang teramat besar bagi berdirinya Republik Indonesia. Melalui pemikiran revolusionernya, para tokoh pergerakan seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dkk tahu banyak soal revolusi kemerdekaan. Tak hanya itu, perjuangan Tan Malaka untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan tanpa mengemis konsisten diperjuangkannya hingga akhir hayatnya. Namun, di balik semua jasa besar itu, ada sejumlah cerita menarik dari pria yang mendapat julukan sebagai Bapak Republik Indonesia itu. Salah satunya adalah cerita kecerdasan Tan Malaka sejak kecil hingga kesulitan yang dialaminya untuk meraih pendidikan. Sewaktu kecil, Tan Malaka dikenal sebagai siswa yang cerdas di sekolahnya. Saking cerdasnya, para guru yang mendidiknya di sekolah pemerintah kelas dua di Suliki menginginkan Tan Malaka kecil untuk melanjutkan sekolahnya ke sekolah yang lebih tinggi, yakni sekolah pemerintah kelas satu di Kweekschool (Sekolah Guru Negeri) di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), Minang Kabau. Para guru Tan Malaka tidak ingin kecerdasan yang dimiliki muridnya itu sia-sia. Mereka kemudian menemui dan membujuk orang tua Tan Malaka agar mau menyekolahkan anaknya ke Sekolah Guru Negeri itu. Gayung pun bersambut. Kedua orang tua Tan Malaka mendukung keinginan para guru itu. Berkat kecerdasan yang dimilikinya, Tan Malaka berhasil lulus masuk sekolah itu pada 1908. Padahal jumlah pendaftar mencapai ratusan dan yang diterima hanya puluhan. "Tan Malaka masuk ke sekolah itu bersama 76 siswa lainnya. Dari puluhan siswa itu, hanya satu siswa yang berjenis kelamin perempuan dan ia merupakan anak dari salah satu guru pribumi yang mengajar di sana," demikian ditulis dalam buku 'Tan Malaka, Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah' karya Masykur Arif Rahman, terbitan Palapa. Tan Malaka menempuh studi di sekolah itu selama enam tahun. Kecerdasan yang dimilikinya lagi-lagi membuat guru yang mayoritas berasal dari Belanda sangat tertarik kepadanya, salah satunya adalah Direktur II GH Horensma dan istrinya. Saking sukanya, keduanya bahkan mengangkat Tan Malaka sebagai anak angkat mereka. "Mereka memanggil Tan Malaka dengan nama 'Ipie' (panggilan dari Ibrahim." Meski Tan Malaka kadang tidak patuh kepada perintah gurunya, Horensma dan guru-guru lainnya tetap menyukai bocah Minang itu. Sebab, meski kadang bandel, Tan Malaka tetap saja cerdas. Salah satu contoh kenakalan Tan Malaka adalah lebih suka bermain saat disuruh belajar oleh gurunya. Tan Malaka tidak memerlukan waktu banyak untuk menguasai materi pelajaran yang diberi oleh gurunya. Karenanya, dia memiliki banyak waktu untuk bermain. Dua di antara permainan yang paling digemarinya adalah musik dan sepak bola. "Kendati demikian, Horensma tetap menginginkan agar Tan Malaka rajin belajar agar semakin pandai." Horensma sangat menyayangi Tan Malaka. Dia tak mau kecerdasan Tan Malaka sia-sia karenanya Horensma menginginkan Tan Malaka melanjutkan sekolahnya di Rijksweekschool (sekolah pendidikan guru negeri) yang berada di Belanda. Pada 1913, Horensma dan istri berencana liburan ke Belanda. Horensma ingin membawa Tan Malaka . Apalagi di tahun itu Tan Malaka akan mengikuti ujian akhir. Jika lulus tentu saja tak ada halangan untuk Tan Malaka ikut bersamanya ke negeri kicir angin. Sesuai harapan, Tan Malaka berhasil lulus ujian akhir dengan memuaskan. Namun ternyata ada sebuah kendala besar yang menjadi hambatan agar Tan Malaka bisa ikut ke Belanda. Kendala itu adalah dana. Diperlukan uang yang tak sedikit untuk pergi dan bersekolah di Belanda. Sementara, orang tua Tan Malaka tak mungkin membiayai sendiri. Namun Horensma tak putus asa. Dia memiliki ide sebagai jalan keluar. Dia mengajak Tan Malaka pergi menuju Suliki yang tak lain merupakan tempat kelahiran Tan Malaka . Di Suliki keduanya menemui seorang yang bekerja sebagai kontrolir bernama W Dominicus yang tak lain adalah teman baik Horensma. "Setelah melakukan urun rembuk akhirnya semua sepakat untuk mendirikan sebuah yayasan yang bergerak mengumpulkan dana pinjaman sebesar 50 rupiah setiap bulan." Dana pinjaman itu dikumpulkan untuk membiayai Tan Malaka selama melanjutkan studi di Belanda, yang diprediksi antara dua hingga tiga tahun. Untuk jadi jaminan, orang tua Tan Malaka rela menjaminkan harta benda miliknya. Nama yayasan itu sendiri adalah 'Engkufonds'. Anggotanya terdiri dari para engku di Suliki, para guru di sekolah guru dan para pegawai negeri. Tan Malaka berjanji akan mengembalikan utang tersebut setelah selesai studi di Belanda dan kembali di Tanah Air. Setelah semuanya beres, Tan Malaka pun berangkat ke Belanda bersama Horensma dengan menumpang kapal Wilis pada Oktober 1913 dan tiba di negeri kicir angin pada 10 Januari 1914. Dia diterima sebagai mahasiswa di Rijksweekschool (sekolah pendidikan guru negeri), Haarlem, Belanda, setelah lulus serangkaian tes dan mendapat izin dari Kementerian Negeri Belanda pada 1914. Pada waktu awal, Tan Malaka mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, masyarakat, iklim, dan makanan di Belanda. Namun berkat bantuan Horensma, Tan Malaka akhirnya berhasil menyesuaikan diri dan melewati semua itu. Selama studi di sekolah itu, Tan Malaka tidak menyukai pelajaran yang berbasis pada hafalan. Biasanya materi itu berada pada pelajaran yang membahas soal tumbuh-tumbuhan. "Kebencian kepada dunia yang berupa kaji-hafalan yang dipaksakan karena tidak menarik hati, lebih hebat daripada kebencian menghadapi roti keju dan roti keju zonder variasi dari hari ke hari di asrama dulu. Kebencian terhadap roti ini hanya timbul di waktu menghadapinya saja, tetapi kebencian terhadap kaji-hafalan yang dipaksakan adalah terus menerus," kata Tan Malaka. Di Belanda, Tan Malaka tak mau diremehkan oleh orang-orang yang menjajah bangsanya. Dalam setiap kesempatan, Tan Malaka kerap menunjukkan bahwa dirinya lebih baik daripada bangsa Belanda. Salah satunya adalah di bidang sepak bola. Dia selalu berada di garis depan sebagai penyerang saat tengah bermain. Namun sayang Tan Malaka tak pandai menjaga kesehatannya. Jika sudah asyik bermain bola, dia enggan menggunakan jaket tebal saat beristirahat dan kerap telat makan. Alhasil pada Juli 1915, Tan Malaka jatuh sakit dan divonis dokter sakit radang paru-paru. Di Belanda, Tan Malaka beberapa kali pindah indekos demi mengirit Rp 50 yang dikirim orang kampungnya. Singkat cerita, Tan Malaka akhirnya lulus ujian akhir sekolah secara tertulis pada 1916. Namun, dia harus mengikuti satu studi lagi untuk mendapat akta guru kepala. Pemilik akta itu akan langsung diangkat resmi menjadi guru oleh pemerintah. Namun kondisi kesehatan Tan Malaka saat itu kian memburuk. Dia pun disarankan dokter untuk pulang ke tanah air agar mendapat pengobatan secara intensif. Sebab, dengan Rp 50 sebulan yang digunakan untuk mencukupi semua keperluannya, Tan Malaka tidak dapat maksimal mengecek dan mengobati kesehatannya di Belanda. Tan Malaka pun menolak saran dokter. Dia tak mau pulang tanpa hasil. Sebab, dia harus membayar utang-utang yang dimilikinya. Tan Malaka mencari tambahan penghasilan dengan mengajar kursus bahasa melayu kepada warga Belanda. Pada 28 Juni 1918, Tan Malaka mengikuti ujian tertulis untuk akta guru kepala dan mendapat hasil yang menggembirakan. Namun dia gagal mengikuti ujian lisan. Tan Malaka sedih atas kegagalannya itu. "Pada 27 Juni 1919, ia kembali menempuh ujian tertulis. Di akhir Juli, ia mengikuti ujian lisan tetapi lagi-lagi ia tidak lulus." Ada beberapa versi penyebab kegagalan Tan Malaka dalam ujian itu. Versi pertama, kegagalan itu disebabkan karena nilai pengetahuan alam, berhitung dan bahasa Tan Malaka kurang baik. Namun, versi kedua menyatakan kegagalan Tan Malaka dalam ujian itu bukan karena nilai yang kurang baik, melainkan akibat politik imperialisme Belanda saat itu. Saat itu, pemerintah Belanda mengeluarkan aturan setiap tahun hanya satu calon saja dari daerah jajahan yang lulus akta kepala. Bayangkan saja begitu banyak orang yang bangsanya dijajah sekolah di Belanda tapi satu tahun hanya dijatah satu orang saja yang lulus. Waktu terus berjalan, Tan Malaka yang awalnya ditargetkan oleh orang tua hanya dua hingga tiga tahun lulus sekolah di Belanda dan kembali ke tanah air nyatanya hingga 1919 belum juga kembali. Orangtuanya lantas memberinya ultimatum agar Tan Malaka segera pulang. Akhirnya, setelah dua kali gagal, pada November 1919, Tan Malaka berhasil lulus dan mendapatkan ijazahnya yang disebut Hulpactie. Belanda menjadi negeri yang membentuk Tan Malaka . Di negeri ini, Tan Malaka mengenal sosialisme. Dia kerap membaca koran, artikel dan segala macam buku aliran kiri. Belanda menjadi titik awal perjuangan Tan Malaka yang bercita-cita memerdekakan Indonesia dari penjajahan dan menerapkan keadilan bagi semua kelas sesuai sosialisme. Kelak, Tan Malaka menjadi pencetus pertama berdirinya Republik Indonesia. Hal itu bahkan dibukukan dalam bukunya yang berjudul 'Naar de Republiek Indonesia' (menuju Republik Indonesia) pada 1925, beberapa tahun sebelum Bung Hatta dan Bung Karno menulis buku soal konsep kemerdekaan Indonesia. Pemikiran Tan Malaka kemudian banyak dijadikan acuan Bung Karno dan tokoh pergerakan lainnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno bahkan memberi gelar Tan Malaka sebagai 'orang yang ahli dalam revolusi', sementara Moh Yamin dalam tulisannya di sebuah artikel koran menyebut Tan Malaka sebagai 'Bapak Republik Indonesia.'

VIDEO PILIHAN