Media

Suliono, Orang Gila Beneran tapi Dikira Teroris Muslim

12 Februari 2018   20:39 Diperbarui: 12 Februari 2018   21:11 342 0 1

Sebelum insiden penyerangan Gereja Lidwina tentu masih segar di ingatan publik soal teror pada ustad dan masjid-masjid oleh 'orang gila'. Meski kepolisian setempat sudah mengonfirmasi kebohongan tersebut, masih ada kalangan masyarakat tertentu yang percaya jika penganiayaan itu benar adanya. Bagi yang percaya ada beragam teori yang dipakai. Mulai dari kebangkitan PKI, upaya Cinaisasi, memusuhi umat Islam, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, selalu ada jari yang mengarah ke partai politik atau politisi tertentu. Kabar burung seperti ini terbukti efektif menarik perhatian, bahkan memancing kebencian.

Hari Minggu (11/2) lalu, kabar penganiayaan kembali muncul. Kali ini tidak berlangsung di tempat ibadah umat muslim, tapi di gereja Katolik yang lokasinya agak jauh dari pusat keramaian. Gereja Lidwina ini ada di daerah Bedog, Sleman, kira-kira 8 km dari Malioboro sebagai pembanding kalau ada yang pernah jalan-jalan ke Jogja. Suasananya tenang, daerahnya terhitung masih sepi dengan banyak lahan kosong dan area persawahan. Terasa sejuk dari hawa udaranya maupun interaksi masyarakatnya. Siapa mengira ada pemuda yang bakal menebas-nebaskan pedang sepanjang satu meter pada satu ibadah pagi?

Insiden penyerangan oleh tersangka S sebaiknya tidak dibingkai dengan analisis intoleran. Meski berlangsung di tempat ibadah dan sampai jatuh korban luka-luka, peristiwa ini tidak lain ialah imbas dari kelalaian satu orang. Tanpa mengecilkan dampak psikologis dan luka jasmani dari para korban, pelaku S tampak benar-benar sedang tidak stabil kondisi kejiwaannya. 

Tidak ada motif membangkitkan PKI, Cinaisasi, dan memusuhi umat tertentu. S adalah setitik nila bagi kebinekaan Indonesia. Benar, S membekali dirinya dengan kitab suci Al-Quran, secarik kertas bertuliskan jihad, dll, tetapi fakta-fakta tersebut juga tidak bisa secara otomatis menggantikan fakta bahwa S masih berusia cukup muda, sejak lulus SMP jauh dari orang tua, berasal dari keluarga kurang mampu, dan dikelilingi oleh lingkungan yang buruk.

Tidak ada motif politis khusus yang memungkinkan terjadinya penyerangan di Gereja St. Lidwina. Di kawasan Jogja saat ini tidak sedang berlangsung pemilihan kepala daerah apapun, keadaan di daerah gereja tersebut selalu aman lantaran kerukunan dan pengertian yang didapuk oleh warga sekitarnya. Letaknya pun relatif jauh dari pusat kota, sehingga apabila ini memang aksi yang sistematis, maka S dan komplotannya (jika ada) bakal menjadi tim teroris yang bodoh serta gagal. Keberadaan Gereja Lidwina yang jauh dari mana-mana membuat penyerangan ini tidak valid apabila dicap sebagai serangan terorisme. Karena buat apa melakukan teror kalau dilakukan di tempat yang sepi?

Dari pantauan berita yang dimuat di media massa hingga saat ini, S diketahui tinggal nomaden di masjid dan musola di daerah Magelang dan sekitarnya. Ada kalender dari Padepokan Topo Lelono, Magelang, yang ditemukan di kamar S dalam rumah orang tuanya. Jika dilihat modal Google Maps, TKP bisa dibilang berada dalam segaris lokasi padepokan yang berada di Secang, Magelang. S mungkin memang sedang berkelana tidak tentu arah dari padepokannya. Bisa dibuktikan dengan dokumen-dokumen berharga yang S bawa bersamanya. Jika benar berkomplot, mana mungkin ia membawa seluruh riwayat hidup yang nantinya bakal membahayakan keberlangsungan kelompok terorisnya sendiri?

Aksi S adalah pelajaran bagi kita semua, bagi institusi pendidikan, bagi keluarga, bagi kelompok-kelompok keagamaan. Bukan saatnya menyalahkan pihak A, pihak B, pihak C, ini merupakan kegagalan kita semua sebagai masyarakat majemuk. Kehidupan keluarga S yang kurang beruntung (bahkan rumah orang tuanya di tahun 2018 ini belum dialiri listrik!) dan pribadinya yang menutup diri dari dunia luar menjadikan tindakannya menjadi beralasan. 

Meski tindakan tersebut tidak bisa diterima, jangan warnai aksi S dengan asumsi-asumsi spekulatif dan konspiratif. S adalah bagian dari penerus bangsa yang salah jalan, satu-satunya cara menghindarkan bentrokan adalah dengan memperbaiki sistem pendidikan dan pembekalan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini. Mari jaga kedamaian Indonesia dengan menahan komentar yang memecah belah.