Mohon tunggu...
Man Suparman
Man Suparman Mohon Tunggu...

Man Suparman . Email : mansuparman1959@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memilih Berbelanja di Pasar "Kojengkang" Terdekat

12 Mei 2017   07:07 Diperbarui: 12 Mei 2017   09:22 256 1 1 Mohon Tunggu...

LIMA bulan sudah pedagang Pasar Induk Cianjur, Jawa Barat (Jabar), direlokasi ke Pasar Induk Pasir Hayam. Namun hingga kini kegiatan perekonomian di pasar yang diklaim pasar terbesar di Jabar itu, masih belum optimal, karena sepinya pembeli. Itulah yang banyak dikeluhkan pedagang.

Lima bulan yang lalu tepatnya akhir bulan Desember 2016, para pedagang Pasar Induk dari pusat kota Cianjur, pindah mengisi kios, los, lapak di Pasar Induk Pasir Hayam atau sekitar 5 Km ke arah selatan dari pusat kota. Mereka dengan suka cita “boyongan” pindah yang diwarnai dengan aksi pawai dari Pasar Induk yang lama ke Pasar Induk Pasir Hayam.

Jauh sebelum direlokasi atau dibangun Pasar Pasir Hayam, sebagian besar pedagang menolak direlokasi, banyak alasan yang dikemukakan, diantaranya Pasar Pasir Hayam jauh dari keramaian kota karena berada jauh di luar kota. Ada kekhawatirkan sepi pembeli.

Setelah para pedagang mengisi kios, los dan lapak masing-masing yang diberikan secara gratis oleh pemerintah daerah, ternyata kekhawatiran itu, terbukti. Dari sekitar 4.000 pedagang hanya sekitar 50 persen yang masih bertahan berjualan. Sedangkan sekitar 50 persen berhenti berjualan.

Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Cianjur, H. Himam Haris, membenarkan banyak pedagang yang tidak berjualan, namun ia memperkirakan yang masih berjualan sebanyak 60 persen, bukan 50 persen.

Untuk mengoptimalkan kegiatan perekonomian di pasar yang dibangun melalui APBD Kabupaten Cianjur sebesar Rp. 75 miliar ini, pihaknya sudah banyak melakukanm terobosan. Namun hasilnya masih belum optimal,”Mungkin karena relokasi Pasar Induk ke Pasar Induk Pasir hayam ini, tidak komprehensip,” ungkapnya.

Menurut pelbagai keterangan yang disimpin dari para pedagang dan masyarakat, sepinya pembeli diantaranya karena Pasar Induk Pasir Hayam, jauh dari kermaain pusat kota, sehingga warga masyarakat dari pust kota harus naik lagi kendaraan angkutan kota.

Semula warga masyarakat yang akan berbelanja dari luar kota cukup satu kali naik angkot atau dua kali naik, sekarang bisa dua kali atau tidak kali naik angkot untuk menuju Pasar Induk Pasir Hayam,”Jauh dan banyak ongkos nyang dikeluarkan,” kata Ny. Enung, salah seorang pedagang keliling.

Solusinya, para pedagang keliling atau warga masyarakat lebih memilih berjualan di pasar-psar “dadakan” atau pasar “kojengkang” yang banyak tumbuh di sekitar kota dan di dalam kota. Walaupun pasar-pasar ini sempat ditertibkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja, namun mereka tetap bertahan dan jadi buruan pembeli.

Pasar-pasar “dadakan” atau pasar “komnjengkang” diantaranya di dalam kota khusus buka pagi hari yang memasarkan kebutuhan pokok seperti di sekitar Harimart, di Sindanglaka untuk jalur jalan Cikalongkulon/Mande, di Kampung Leles, Desa Sukamanah di Jalan KH. Saleh yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) setempat. Pasar-pasar tersebut selalu diserbu pembeli.

Selain itu, yang ketibanan untung atau ramai pembeli, yaitu Pasar Muka, yang semula ketika masih ada Paar Induk di dalam kota agak kurang ramai, kini menjadi ramai pembeli, banyak masyarakat yang berbelanja di pasar ini,”Memang intensitas perdadangan di Pasar Muka meningkat, pasca direlokasinya Pasar Induk ke Pasar Induk Pasir Hayam,” jelas Himam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN