Mohon tunggu...
Mohamad Sastrawan
Mohamad Sastrawan Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Matraman

http://malikbewok.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Menelusuri Jejak Islam di Banten Lama

1 Januari 2019   07:59 Diperbarui: 1 Januari 2019   19:09 1128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Masjid Agung Banten Lama yang kini memiliki payung seperti di Haramain (dokpri)

"Pengaruh Islam pada Kesultanan Banten sangat besar, hampir 90 persen peninggalan-peninggalan di Banten Lama itu dipengaruhi Islam," kata Rohani saat ditemui di kantornya belum lama ini.

Menurutnya, di antara peninggalan Islam di Banten berupa masjid yang  kini menjadi Masjid Agung Banten Lama. Ada pula gerabah yang bermotif kaligrafi Islam, nisan dan makam keluarga sultan.

"Yang paling banyak diziarahi adalah makam Sultan Maulana Hasanuddin," jelasnya.

Para peziarah bertawasul dan bertabaruk (mencari berkah) dengan berdoa di dekat makam. Ada hari-hari tertentu yang menjadi favorit untuk bertabaruk, salah satunya adalah saat bulan maulud Nabi, yakni Rabi'ul Awal.

Selain makam, ziarah juga dilakukan masyarakat kepada meriam yang dianggap keramat. Meriam yang dianggap penjelmaan seorang kiai adalah Meriam Ki Amuk.

Meriam Ki Amuk yang dikeramatkan (dokpri)
Meriam Ki Amuk yang dikeramatkan (dokpri)
"Di sini, yang dianggap sebagai masterpiece, itu Meriam Ki Amuk. Meriam ini diziarahi oleh masyarakat yang memiliki kepercayaan dia adalah penjelmaan dari seorang kiai sakti," kata Rohani.

Meriam menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kesultanan Islam Banten. Alat perang ini diletakkan di tempat-tempat strategis seperti benteng dan pelabuhan. Salah satu benteng yang terkenal adalah benteng Speelwijk.

Dahulunya, benteng Speelwijk digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda dan sekaligus berfungsi sebagai penyimpanan meriam. Di dalam benteng terdapat terowongan yang terhubung dengan Keraton Surosowan.

Istana ini dahulunya merupakan kediaman para Sultan Banten, mulai dari Sultan Maulana Hasanuddin hingga Sultan Haji yang pernah berkuasa pada tahun 1672 hingga 1687. Istana Surosowan dibangun pada tahun 1552 namun kemudian dihancurkan oleh Belanda pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1680.

Benteng Speelwijk yang menjadi pertahanan Kesultanan Banten (dokpri)
Benteng Speelwijk yang menjadi pertahanan Kesultanan Banten (dokpri)
Selain di keraton, meriam juga diletakkan di Pelabuhan Karangantu. Kesultanan Islam Banten memiliki koleksi sejumlah meriam sebagai senjata pamungkas menghadapi gempuran kaum agresor. Sebagai salah satu senjata andalan, meriam diletakkan di benteng-benteng pertahanan yang posisinya strategis. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, beberapa meriam Kesultanan Banten diberi nama, di antaranya:

1. Ki Amuk adalah meriam besar memiliki panjang 3,45 meter, kaliber 31 cm dan beratnya mencapai 6 ton. Meriam ini oleh beberapa ahli diyakini sebenarnya adalah Meriam Ki Jimat. Meriam Ki Jimat disebut dalam Babad Banten yang ditempatkan dalam bangunan mandapa (tempat suci di keraton) Keraton Surosowan yang moncongnya mengarah ke utara. Ki Amuk memiliki ciri khas adanya tiga inskripsi tulisan Arab pada punggungnya, hiasan matahari yang dikenal dengan Surya Majapahit dan sepuluh gelang pada tubuhnya.

2. Ki Kalantaka, satu dari dua meriam yang dirampas dari kapal orang Parenggi (orang-orang Eropa) atas perintah Mangkubumi. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Pangeran Muhammad (Kanjeng Ratu Baten Surosowan). Pada peristiwa penyerbuan Mataram terhadap Belanda di Jaketra, meriam ini dipakai untuk menembaki pasukan Belanda dan dijaga oleh para punggawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun