Mohon tunggu...
Wulansari Maulida
Wulansari Maulida Mohon Tunggu... Dosen -

Tau samawa yang lahir di Sumbawa, tgl 22 Oktober 1988.\r\n\r\n\r\nfb: lala.samawa@gmail.com\r\n\r\nmy blog: http://wulan-amrirahady.blogspot.com\r\n

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cinta Seorang Janda Muda

22 Desember 2013   12:50 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:37 251
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Ia masih ada. Ia masih hidup dalam hatiku. Meskipun hatinya kini mendua. Antara aku dan ibunya.

-------------

Pagi di stasiun dengan jadwal keberangkatan pukul 7. Ah, aku tak pernah mengira akan menjejakkan kakiku di stasiun paling tua di kotaku. Untuk waktu sepagi ini pula. Kalau saja perempuan di sampingku tak mengiba padaku. Aku takkan menyia-nyiakan waktuku untuk waktu yang masih pagi ini. Kereta pun melaju perlahan. Aku tak merasakan bahwa aku dalam perjalanan menuju kota yang tak pernah ingin kujumpai lagi sejak kejadian tragis dua tahun silam.

Dalam perjalanan, perempuan di hadapanku menawariku makanan kecil dan aku pun melahapnya sebagai pengusir rasa bosan yang tiba-tiba saja menyerang. Sungguh jika bisa kupilih, aku ingin naik bus saja daripada kereta api yang sesepi ini. Tapi aku tak dapat memilih lagi. Karena perjalanan ini bukan kehendakku semata.

"Maulida, kau taukah? Aku rindu pada lelakiku. Rindu yang sangat ini begitu bergejolak mesra dan seperti tak tertahankan lagi," Perempuan di hadapanku mengawali percakapan yang sesungguhnya tak ingin kudengar.

"Kenapa tidak kau datangi saja lelakimu, Mbak? Bukankah kalian masih resmi menjadi suami istri?

"Raganya memang masih suamiku. Jika ia datang padaku, ia tak menampakkan bahwa di antara kami ada sebuah masalah besar sedang menghalang. Tapi kau tak tau, bahwa hatinya seolah ia bukanlah suamiku lagi,"

Ingin hati sebenarnya untuk tidak meneruskan percakapan, tapi apalah daya, perempuan di hadapanku kini matanya telah berkaca-kaca, sesenggukan, dan pertahanannya pun runtuh. Ia menangis. Menyesali nasibnya.

"Apa yang dapat kulakukan untukmu, Mbak? Melihat kau sesedih ini aku jadi tak sampai hati," aku mulai gelagapan dengan percakapan yang sudah tercipta ini.

"Dengarkan saja kisahku," ucapnya masih dengan mata sembab.

"Ibunya tidak menyetujui pernikahan kami,"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun