Ricki Maldini
Ricki Maldini Mahasiswa Ilmu Sejarah

" Keyakinanmu itu tak perlu membeku dalam dadamu saudaraku, cair merupakan pilihan agar KEHORMATAN aku, kau dan mereka menjadikan nya ADA " { Betawi Meng-Indonesia }

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Manusia Muda dan Sejarah

23 Mei 2018   20:46 Diperbarui: 25 Mei 2018   04:43 530 0 0

Berangkat dari asumsi bahwa sejarah itu membosankan bisa saja tepat, namun belum tentu benar. Tepat karena merupakan potret dari ucapan manusia, belum tentu benar karena ucapan itu mungkin keliru. Karena ucapan adalah refleksi atas kenyataan yang ditangkap seseorang, sementara di lain sisi ada nilai universal yang dienyahkan dalam pikiran nya.

Dimulai dari bangku sekolah, apapun tingkatan nya, yang mengatakan bahwa pelajaran sejarah itu membosankan, sudah bukan menjadi rahasia pribadi, tetapi sudah menjadi semacam 'kebenaran' baru ' kebohongan yang diucapkan berulang-ulang, akan menjadi suatu kebenaran ' ( J. Goebbles ).

Kenapa saya mengatakan itu adalah suatu kebohongan ? Karena, ada suatu pendekatan sistemik yang berupaya untuk menjauhkan generasi muda dari sejarah dirinya, agama, sosial-budaya dan negerinya, karena kekuatan itu tidak ingin generasi suatu negeri tumbuh dengan pemahaman sejarah yang baik sehingga menghasilkan kesadaran luar biasa. Kalau bisa, malah tidak perlu mengerti sejarah atau manipulasi sejarahnya.

"Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, maka hancurkanlah para generasi mudanya, jika ingin menghancurkan generasi muda maka hancurkanlah karakter murid dan para gurunya dan untuk menghancurkan Karakter Murid dan Gurunya maka hancurkanlah sistem pendidikannya "

Gitu ga ya kira-kira ? jika ya perbaiki, jika tidak perbaiki juga tentunya.

Betapa kita mengerti bahwa dalam perjalanan sejarah umat manusia, pemuda selalu memainkan peranan yang penting, revolusi-revolusi yang terjadi di dunia dan Indonesia adalah karena kesadaran pemudanya contohnya sumpah pemuda 1928, kebangkitan nasional 1908 ditandai berdirinya budi oetomo yang dimotori oleh para mahasiswa stovia, reformasi 1998. Mereka semua bertujuan untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang.

Lalu apa hubungan nya manusia muda dan sejarah ?

Manusia adalah sejarah itu sendiri, artinya sejarah tidak perlu memaksa melainkan menjadi kewajiban manusia untuk menggali ( hakikat ). Ketika manusia dilahirkan di dunia dia tidak terpisah melainkan ia telah menjadi bagian dari seluruh sistem tata surya, Manusia, alam, dan waktu merupakan bagian yang satu dan berkaitan. Ia tidak akan lepas dari peran orang tuanya, dimana ia dilahirkan, dan kapan ia dilahirkan, ketika kelak tumbuh besar ia tidak akan memaksa dirinya untuk mengenang tetapi menjadi suatu kewajiban untuk mengenang, untuk apa ? Tentunya, untuk mengevaluasi waktu yang telah dilewatkan nya.

Begitupun sejarah diluar dirinya, agamanya, budayanya dan negerinya. Semua yang melekat pada dirinya adalah konsekuensi dari kelahiran nya sebagai manusia sehingga ia terikat oleh hal-hal tersebut. Berarti ia harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, orang lain, agama, dan bangsanya.

Dengan dilahirkan nya seorang anak manusia dengan ruang dan waktu, maka kewajiban dengan sendirinya menempel pada jiwanya, yaitu sejarah dirinya dan yang berkait dengan dirinya.

Manusia memang bersifat otonom, ia bebas menentukan pilihan mau jadi apa atau menjadi siapa di masa depannya. Jika demikian halnya, benarkah bahwa mewujudkan berbagai aspek hakikat manusia ( atau menjadi manusia ) adalah tugas setiap orang ? Jika setiap orang bebas menentukan pilihanya, bukan berarti ia bebas pula menentukan pilihan untuk tidak menjadi manusia.

Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis ia akan hilang ditelan sejarah, maka menulis adalah bekerja untuk keabadian, begitu kata Pram. Begitupun, orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama dia tidak membaca sejarah ia akan salah dalam mengambil sebuah keputusan, maka membaca sejarah adalah bekerja untuk kemanusiaan, begitu kata saya.

Jadi tunggu apalagi ? Bacalah sebagaimana itu bukan penjara, pahamilah bahwa disetiap deretan kata dan peristiwa terletak sebuah bagaimana caranya menjadi bijaksana.