Mohon tunggu...
Adi Prima
Adi Prima Mohon Tunggu... Administrasi - Photojournalist

Saya adalah seorang freelance photojournalist di Sumatera Barat, memotret satwa-satwa dilindungi, benda bersejarah, tokoh- tokoh besar dan keindahan bentangan alam, adalah kegemaran saya.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Cinta Rupiah Tidak Harus Memilikinya

30 Desember 2017   07:52 Diperbarui: 30 Desember 2017   13:21 754
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak sekolah berbelanja makanan ringan dengan uang ribuan di Tuapeijat, Mentawai (foto : Adi Prima)

 

 MENTAWAI. Ternyata, sistem barter/tukar barang masih ada di tengah masyarakat Indonesia. Saat musim panen, barter antara petani dan pengepul, nelayan dengan agen minyak, masih bisa kita jumpai di Kepulauan Mentawai. Bukannya tidak cinta, masyarakat lebih suka membawa pulang sembako, daripada bullaggat(Rupiah).

Saat musim lobster (udang) di Kepulauan Mentawai, sebelum melaut nelayan akan ketempat pengepul dan meminjam beberapa liter bensin untuk mesin boat. Sepulang dari mencari lobster (udang) atau tangkapan laut lainnya, hasil tangakapan akan dibarter dengan bensin dan sembako pengepul.

 Begitu juga saat musim cengkeh, pagi hari sebelum ke ladang, petani akan mampir ke warung pengepul untuk mengambil kopi, gula, roti, teh dan bahan makanan lainnya. Sepulang dari ladang, pinjaman petani di pagi hari akan dipotong dengan hasil cengkeh yang berhasil dibawa. Belum selesai sampai disana, para petani masih enggan juga membawa rupiah, mereka lebih suka membawa beras, minyak goreng, roti dan rok*k untuk dibawa pulang.

"Ya, menjadi pengepul memang enak di sini, harga yang didapat sedikit lebih murah, apalagi kita juga berjualan sembako, singkatnya, dua kali untung", ucap Simay, salah seorang pengepul cengkeh dan hasil alam Mentawai di Desa Bosua, Pulau Sipora.

Jarak tempuh yang cukup jauh, juga menjadi alasan petani dan nelayan kenapa lebih memilih pengepul di tingkat dusun ketimbang membawa hasil alam dan hasil lautnya ke ibukota Tuapeijat.

Tidak jauh berbeda, jika pernah berkunjung ke pedalaman Siberut, tempat para Sikerei (masyarakat adat Mentawai) yang terkenal dengan tato tertua di dunia, para tamu sering membawa kerajinan tangan tradisional yang didapat dengan cara barter.

Melihat pola interaksi seperti ini, tepat sekali rasanya jika kita katakan 'Mencintai rupiah tidak harus memilikinya di Mentawai'

TANTANGAN TANPA RUPIAH

Anak sekolah berbelanja makanan ringan dengan uang ribuan di Tuapeijat, Mentawai (foto : Adi Prima)
Anak sekolah berbelanja makanan ringan dengan uang ribuan di Tuapeijat, Mentawai (foto : Adi Prima)
 Tidak ada rupiah di tangan pastinya bukan tanpa masalah, apalagi di jaman sekarang. Tidak semua kebutuhan ada dijual di pengepul dan tidak semua toko mau menerima barter. Yang pasti Rupiah adalah alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Di dusun tidak banyak uang tunai, namun cengkeh, kopra, nilam, pisang dan sikobou (talas-red), melimpah. Jika tolak ukurnya Rupiah mungkin orang di dusun terbatas, tapi jika diukur dengan ketersedian bahan makanan, warga dusun tidak kekurangan. Udang dan lokan juga melimpah contohnya di Sungai Dusun Saliguma, Siberut, tempat saya berasal, ucap Erkanus Salimu (31).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun