Mohon tunggu...
Trimanto B. Ngaderi
Trimanto B. Ngaderi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas

Penulis, Pendamping Sosial Kementerian Sosial RI, Pegiat Urban Farming, Direktur PT LABA Indoagro Nusantara

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dua Hari Raya, Dua Agama

22 Desember 2015   13:03 Diperbarui: 22 Desember 2015   13:03 32
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Kerukunan dan kerjasama antarumat beragama sudah terjadi sudah sejak lama. Pada zaman Rasulullah saw membangun negara kota Madinah, umat Islam-Kristen-Yahudi hidup berdampingan secara damai, bersama-sama membangun Madinah yang aman, adil, dan makmur. Umat beragama selain Islam mendapatkan perlindungan harta, jiwa, dan keluarganya. Mereka pun mendapatkan haknya sebagai warga negara sama seperti warga negara lainnya.

Demikian pula yang terjadi pada masa-masa berikutnya. Pada masa khilafah Abbasiyah, Umayyah, dan Turki Utsmani. Di beberapa negara Arab, seperti Suriah, Palestina, Yordania, Libanon, Mesir juga terdapat kaum Nasrani yang tidak sedikit jumlahnya. Karena dalam Islam, sudah menjadi kewajiban penguasa untuk melindungi dan menjamin hak-hak minoritas, dengan catatan mereka tunduk pada peraturan dan tidak mengingkari perjanjian yang telah disepakati.

Banyak sekali kisah-kisah yang menceritakan kerjasama antardua agama, persahabatan, kekeluargaan, dan pembelaan. Walau tak sedikit juga cerita-cerita yang memilukan, perseteruan, dan pertumpahan darah. Semua penuh warna dan dinamika.

 

Berbeda Titik-Tolak

Dalam agama Nasrani, kelahiran Isa as (Yesus) dijadikan sebagai titik awal tahun Masehi. Hal ini (mungkin) terkait dengan penantian orang Yahudi saat itu yang telah lama menunggu datangnya Mesias (Juruselamat). Lahirnya Yesus Kristus dianggap sebagai era baru, yang akan membawa perubahan dan menyelamatkan Bani Israil dari penindasan penguasa Romawi di Yerusalem.

Sedangkan dalam Islam, kelahiran Muhammad saw (maulid Nabi) tidak dijadikan sebagai titik awal tahun baru Islam. Tahun baru dihitung dari hijrahnya nabi dan para sahabatnya dari kota Mekah menuju Madinah, makanya disebut tahun Hijriyah. Karena peristiwa hijrah ini dianggap sebagai momen penting umat Islam menuju era baru, tatanan baru, kebangkitan, dan membangun sejarah peradaban yang tinggi.

Orang memperingati kelahiran Muhammad saw tidak lebih sebagai penghormatan, rasa syukur, kecintaan. Sedangkan orang memperingati tahun baru Hijrah merupakan simbol perjuangan, kesatuan umat, kekuatan, dan juga masa depan. Hijrah adalah cita-cita bersama, tonggak awal sejarah, kemerdekaan, sekaligus harapan masa depan yang gemilang.

 

Makna Positif

Berbarengannya hari raya Islam dan Kristen bisa bermakna positif. Kalau selama ini kita saling curiga, ber-suudhon, bertikai, bahkan saling bermusuhan; sudah saatnyalah kita duduk bersama, bekerja bersama dalam rangka membangun bangsa menuju masyarakat yang rukun dan damai. Mewujudkan kesalingpahaman dan hormat-menghormati demi cita-cita pembangunan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun