Mohon tunggu...
luthfiyah Hadiyanti wijaya
luthfiyah Hadiyanti wijaya Mohon Tunggu... 20y

Halo! Saya LuthfiyahHW, Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNIBI

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Covid Menyerang, Bagaimana Nasib Ekonomi Saat Ini

21 April 2021   09:32 Diperbarui: 21 April 2021   09:53 80 0 0 Mohon Tunggu...

BANDUNG -  Setahun lebih semenjak Presiden Jokowidodo mengumumkan bahwa pandemi Covid 19 menyerang Indonesia terdapat banyak perubahan yang cukup drastis terutama bagi para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yaitu Triana (45) selaku pedagang aneka ragam minuman didaerah Cibiru Bandung.

Selama ini Trian hanya mengandalkan aktifitas pendidikan dalam meraih keuntungan hasil perdagangannya, namun semenjak adanya kebijakan PSBB yang membatasi aktifitas pendidikan membuat sirkulasi perekonomian Trian serta rekan golongan menengah kebawah sangat tidak stabil. Selain karena jumlah konsumen berkurang, ia masih harus berjuang agar isnisnya tetap berjalan Bahkan dari situasi ini berdampak pada kondisi keluarganya yang memburuk.

"Dampak dari perubahan yang dirasakan sangat anjlok terutama ketika aktifitas pendidikan dihentikan, karena sirkulasi perekonomian terutama untuk golongan menengah kebawah hanya mengandalkan aktifitas pendidikan. Kalau aktifitas pendidikan ditutup, ekonomi pun macet. Dampak pada keluarga pun gaada yang baik, buruk semua, dampak buruk sekali, asli buruk". Kata Trian saat diwawancara Minggu (11/4/2020) siang.

Lalu Trian mengalami kendala dalam mencapai omzet hasil penjualannya, yang asalnya ia dapat menjual dagangannya hingga 600 cup lalu mendapatkan keutungan sebesar 3 juta setiap bulannya, kini pendapatan yang dihasilkannya turun drastis sebanyak 150 cup perhari atau menghasilkan pendapatan sekitar 750 ribu Rupiah perbulan.

"Ya, sebelum pandemi,virus Covid China datang ke kita nih ya, saya tuh omzet sehari bisa 600 cup. Nah begitu datang virus China, virus tiongkok  wuhan datang ke Indonesia, kemudian aktifitas pendidikan dibatasi anjlok sekali sampai tinggal 150 cup. Berapa tuh? Sekitar 70% yang hilang dan itu terasa bagi masyarakat menengah kebawah," jelasnya.

Selain itu untuk bertahan hidup disituasi pandemi ini, Trian juga mengandalkan bantuan dana dari pemerintah namun merasa bahwa itu tidak sebanding dengan penghasilan yang biasa diraih oleh Trian.

"Bantuan ada sekitar 600.000 perbulan namun apalah artinya hal tersebut  dibandingkan dengan perputaran ekonomi yang maksimal seperti biasanya. Saya gaakan bilang lumayan karena kehilangan 3 juta diganti dengan 600 ribu itu tidak logis." jelasnya.

Trian selaku pedagang memberikan pandangan serta keresahan dalam melihat bagaimana kebijakan yang diputuskan dalam menanggulangi dampak perekonomian akibat padnemi.

 "Kebijakan untuk meyelesaikan kasus nasional ini kalau bicaranya tanpa agama maka harus memiliki nasionalisme yang kuat karena pada saat ini cenderung bersifat egoisme. Tanpa itu hanyalah omong kosong."

Sehingga Trian ikut prihatin atas terjadinya Pandemi karena bukan ia saja yang merasakan imbasnya akan tetapi rekan seperjuangannya pun mejadi korban atas apa yang terjadi saat ini.

"Sangat berpengaruh, disini juga ada kan tukan ojeg yang sampe meninggal. Gabisa makan, gabisa berobat anaknya dulu yang meninggal baru bapaknya efek kelaparan akibat adanya isolasi, pokokya keadaan ini cukup memprihatinnkan seluruh pihak terutama masyarakat kalangan menengah kebawah seperti saya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN