Mohon tunggu...
Luna Septalisa
Luna Septalisa Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar Seumur Hidup

Nomine Best in Opinion 2021 dan 2022 | Penulis amatir yang tertarik pada isu sosial-budaya, lingkungan dan gender | Kontak : lunasepta@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Bagaimana Aktivitas Digital Berkontribusi pada Pemanasan Global?

4 Juli 2022   11:40 Diperbarui: 4 Juli 2022   19:45 1317
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi seseorang tengah berselancar di internet menggunakan ponsel pintarnya. Sumber: Shutterstock/Aslysun via Kompas.com

Kondisi tersebut diperparah dengan kompetisi antar produsen ponsel pintar yang gemar meluncurkan model terbaru secara teratur sehingga umur ekonomisnya makin lama makin pendek. Ponsel dibuat lebih cepat rusak dan sulit diperbaiki agar konsumen membeli yang baru.

Ironisnya, jumlah ponsel yang dikumpulkan dan dapat didaur ulang dengan benar masih sedikit sehingga ponsel yang rusak hanya teronggok menjadi sampah. Dari 40-50 juta ton limbah elektronik yang diproduksi tiap tahun di seluruh dunia, yang telah didaur ulang dengan benar tidak lebih dari 16% saja.

Jejak Karbon dari Aktivitas Digital

ilustrasi rapat virtual via zoom yang juga menghasilkan jejak karbon-photo by anna shvets from pexels
ilustrasi rapat virtual via zoom yang juga menghasilkan jejak karbon-photo by anna shvets from pexels
Selain proses produksi perangkat elektronik, aktivitas digital kita ternyata juga menghasiilkan jejak karbon yang berdampak pada perubahan iklim dan pemanasan global.

Di Indonesia sendiri, jumlah pengguna internet mencapai 83,7 juta pada tahun 2014. Saat ini, jumlah pengguna internet di seluruh dunia telah menembus angka 4,1 miliar. 

Penggunaan internet atau aktivitas digital menghasilkan jejak karbon yang setara dengan 3,7% dari emisi global. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat 2 kali lipat pada tahun 2025.

Jejak karbon dari aktivitas digital umumnya terkait dengan konsumsi listrik oleh perangkat, di mana sebagian besar sumber energi listrik masih berasal dari energi fosil, terutama batu bara. 

Selain itu, jejak karbon yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh pusat data tempat penyimpanan material yang akan disalurkan ke konsumen dengan menggunakan teknologi transmisi.

Seperti hasil studi oleh Badan Lingkungan Federal Jerman yang dikutip dari dw.com, streaming video melalui kabel serat optik memiliki emisi CO2 yang paling rendah, yaitu hanya 2 gram per jam. Transmisi data dengan menggunakan kabel tembaga (VDSL) menghasilkan emisi karbon sebanyak 2 kali lipat. 

Teknologi seluler 3G menghasilkan emisi sebanyak 90 gram CO2 dalam 1 jam. Sementara itu, teknologi seluler generasi mendatang atau teknologi 5G dapat menghasilkan emisi sebesar 5 gram CO2 per jam.

Meski pusat penyimpanan data hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan penggunaan energi, jumlahnya bervariasi tergantung pada seberapa efisien penggunaan dan pendinginan server. Peningkatan volume data yang ditransmisikan, baik dalam bentuk jaringan, bioskop rumah atau konferensi video, dapat memengaruhi konsumsi energi yang berdampak pada peningkatan emisi karbon.

Hasil penelitian dari badan riset, Gartner menyebutkan bahwa konsumsi listrik untuk berselancar di internet dalam kurun 1 tahun adalah 365 kWh (kilowatt per jam). Jumlah emisi CO2 aktivitas ini setara dengan emisi yang dihasilkan dari berkendara dengan mobil sejauh 1.400 km. Untuk satu kali aktivitas kita di mesin pencari Google, butuh listrik sebesar 3,4 Wh, dengan jumlah emisi CO2 yang dihasilkan sebanyak 0,8 gram.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun