Mohon tunggu...
Luna Septalisa
Luna Septalisa Mohon Tunggu... Long-life learner

Lahir 1 September 1994 | Perempuan Introvert | Suka membaca, menulis, dengar musik, berenang | Amatiran yang masih belajar menulis | kontak : lunasepta@yahoo.com (email) 085228648800 (WA) | kunjungi : https://lunaseptalisa.wordpress.com/ (blog pribadi)

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Kalau yang Sederhana Bisa Membuat Bahagia, Kenapa Selalu Mengejar Kemewahan?

9 Agustus 2019   11:39 Diperbarui: 9 Agustus 2019   12:28 0 2 2 Mohon Tunggu...
Kalau yang Sederhana Bisa Membuat Bahagia, Kenapa Selalu Mengejar Kemewahan?
woman happiness sunrise-sumber : pixabay.com

Disclaimer! Tulisan ini bukan bermaksud ngajak kere atau menyuruh Anda untuk memiskinkan diri. Saya hanya ingin berbagi sekaligus introspeksi dan menginspirasi (menginspirasi apaan?!) kepada pembaca semua. Jadi, sebelum protes, ada baiknya ikuti dulu tulisan ini. Baru setelah itu silahkan simpulkan sendiri. 

Saya tidak melarang Anda berkeinginan atau bercita-cita punya rumah mewah dengan lahan 10 hektar, mobil mewah, uang milyaran, gadget keluaran terbaru, pakaian dan asesoris rancangan designer ternama dll. 

Namanya berkeinginan atau bercita-cita, apapun itu sah-sah saja. Lagipula siapa sih yang tidak ingin jadi orang kaya dan terkenal? Jujur saja, kalau lihat artis-artis di TV atau selebgram-selebgram yang bisa jalan-jalan ke luar negeri pakai jet pribadi, pasti ada rasa kepingin atau minimal berandai-andai jadi seperti mereka walaupun cuma "secuil". Ngaku aja deh, nggak usah bohong! Saya juga gitu soalnya. 

Minimal kita pernah ngomong ke diri sendiri seperti, "enak ya dia hidupnya nggak pernah susah. ngeluarin duit 100juta udah kayak ngeluarin duit 100rb" atau "enak kali ya kalau aku sekaya dia. apa-apa serba gampang" atau "pengen deh bisa punya baju/tas/sepatu dll kayak yang dia pakai. tapi pasti mahal" dan kata-kata lainnya yang senada. 

Tapi, benarkah semua kemewahan itu bisa menjamin kita lebih bahagia? Apakah mereka bahagia dengan kemewahan yang dimiliki? Hanya diri sendiri dan Tuhan lah yang lebih tahu. 

Tidak ada standar untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa orang yang punya banyak uang pasti lebih bahagia dibanding mereka yang tidak punya banyak uang. Atau mereka yang terkenal dan dikagumi banyak orang hidupnya lebih bahagia dibanding orang biasa seperti kita, misalnya. Kenyataannya belum tentu seperti itu. 

Ada yang hidupnya tidak pernah tenang walaupun harta berlimpah. Mengapa? Mungkin kekayaannya diperoleh dengan jalan korupsi atau cara-cara lain yang tidak jujur. 

Ada yang sedang dipuncak karir, terkenal dan dikagumi banyak orang namun selalu merasa kesepian dan tertekan. Mengapa? Mungkin dia sudah lelah karena terus-menerus "memakai topeng" hanya untuk menyenangkan hati semua orang. 

Kebahagiaan tidak hanya dinilai dari apa yang tampak di luarnya saja. Kebahagiaan itu ada di hati. Jadi, kalau hati tidak merasakan kebahagiaan tapi bibir menyunggingkan senyum, bisa jadi itu senyum palsu alias "fake smile". 

Kemewahan yang kita miliki bukan jaminan kebahagiaan. Hal-hal kecil dan sederhana pun bisa membuat kita bahagia jika kita tahu cara menikmati dan mensyukurinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x