Mohon tunggu...
Lugas Wicaksono
Lugas Wicaksono Mohon Tunggu...

Remah-remah roti

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Pelajar SMP Olah Limbah yang Cemari Sungai Jadi Bioetanol

10 September 2017   00:37 Diperbarui: 3 Oktober 2017   22:38 0 5 6 Mohon Tunggu...
Pelajar SMP Olah Limbah yang Cemari Sungai Jadi Bioetanol
Hafidin Soharun mengambil limbah marning dari sungai untuk dijadikan bioetanol di Kelurahan Pandanwangi, Blimbing, Kota Malang. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.

Mahdi Romzuz Zaki (14) merasa cemas ketika melihat kenyataan sungai di sekitar rumahnya di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang tercemar limbah cair hasil pengolahan marning. Sudah sejak lama daerah tempat tinggalnya dikenal sebagai sentra produksi makanan ringan berbahan olahan jagung itu. Tujuh pabrik marning sudah berdiri selama tiga generasi di sekitar rumahnya. Selain marning siap konsumsi pabrik-pabrik itu juga menghasilkan limbah cair dari proses perendaman jagung.

Pabrik-pabrik itu memproduksi marning dari mulai jagung sampai marning siap konsumsi. Sebagian juga ada yang diolah setengah matang lalu selanjutnya dibeli dan diolah warga di rumah masing-masing untuk dijual sebagai cemilan. 

Namun pabrik-pabrik itu tidak memiliki tempat penampungan sehingga limbah langsung dibuang ke sungai. Sedikitnya setiap hari 16.000 liter limbah cair dibuang di sungai dengan cara dialirkan melalui pipa-pipa. Melihat itu Zaki cemas karena limbah-limbah itu dapat merusak ekosistem sungai. Mengingat limbah itu memiliki kadar power of hydrogen (pH) atau kadar keasaman yang cukup tinggi.

"Jagung direndam air kapur semalam lalu pagi dikupas kulitnya, air rendaman kulit ini yang dibuang ke sungai. Karena basah berbentuk cair kadar pH-nya tinggi kemungkinan besar bisa merusak ekosistem di sungai," kata Zaki di rumahnya di Jalan Simpang Teluk Bayur Nomor 20, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Sabtu (9/11/2017).

Melihat kondisi seperti itu, Zaki berinisiatif mengolah limbah cair itu menjadi bioetanol yang menjadi bagian dari biofuel. Ia kemudian mengajak Hafidin Soharun (15), koleganya sesama pegiat ekstra kurikurikuler kelompok ilmiah remaja (KIR) di SMPN 14 Kota Malang tempatnya bersekolah untuk bereksperimen. 

Ia memulainya dengan peralatan sederhana berupa erlenmeyer yang diberi selang untuk menyuling limbah cair itu. Mulanya limbah yang mengandung banyak karbohidrat itu difermentasi menggunakan asam sitrat untuk menurunkan kadar keasaman dan bakteri sacaromyces yang didapat dari ragi tape. Proses fermentasi itu selama dua pekan untuk menjadi bioetanol lalu disuling.

"Waktu pengupasan kulit (jagung) mengandung karbohidrat kalau difermentasi dari bakteri ragi tape bisa menghasilkan alkohol, seperti tape kalau didiamkan lama-lama kadar alkohol meningkat," ujarnya.

Mahdi Romzuz Zaki (kiri) bersama Hafidin Soharun dibimbing gurunya dalam membuat bioetanol dari limbah marning di SMPN 14 Malang. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.
Mahdi Romzuz Zaki (kiri) bersama Hafidin Soharun dibimbing gurunya dalam membuat bioetanol dari limbah marning di SMPN 14 Malang. FOTO: MAHDI ROMZUZ ZAKI.
Dari ujicoba yang dilakukannya, 100 mililiter limbah marning bisa menghasilkan 3,5 mililiter bioetanol. Hasilnya pun lumayan baik, kadar alkohol bioetanol yang dihasilkan dari limbah marning itu cukup tinggi yang mencapai 86,5 persen sekali suling. Padahal sesuai teori kadar alkohol setinggi itu harus melalui setidaknya lima kali penyulingan karena rata-rata sekali suling hanya sekitar 20 persen saja.

Ia kemudian berhitung dari 16.000 liter limbah cair yang diproduksi tujuh pabrik marning di sekitar rumahnya kalau diolah akan menghasilkan 640 liter bioetanol setiap harinya. Tentu saja jumlah yang banyak dan dapat menjadi potensi sumber energi terbarukan. Potensi dari limbah ini juga menjadi peluang yang menjanjikan. Kini harga bioetanol beralkohol tinggi berkisar Rp 30 ribu per liter. Itu berarti omset yang bisa didapatkan dari limbah ini mencapai Rp 19,2 juta per hari! 

Kenyataannya uang belasan juta per hari itu selama bertahun-tahun terbuang percuma dan malah mencemari lingkungan. Padahal kalau jeli menangkap peluang, limbah bisa jadi berkah. Bioetanol yang dihasilkan dari limbah marning ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan medis dan sebagai bahan campuran bahan bakar minyak (BBM) kendaraan bermotor seperti bensin yang berbahan baku fosil.

"Bisa buat penghemat bahan bakar kendaraan bermotor dengan dicampur ke bahan bakar yang takaran bioetanolnya tidak lebih dari 25 persen dari keseluruhan bahan bakar," ucapnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2