Mohon tunggu...
Lugas Rumpakaadi
Lugas Rumpakaadi Mohon Tunggu... Jurnalis - WotaSepur

Wartawan di Jawa Pos Radar Banyuwangi yang suka mengamati isu perkeretaapian.

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Cost Overrun pada Proyek Kereta Cepat Pertama di Dunia

5 November 2021   13:21 Diperbarui: 29 April 2022   21:50 985
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kereta Cepat di Tokyo, Jepang. (Sumber: Pexels/Justin Brinkhoff)

Faktor kedua, para politikus juga melarang JNR untuk mengambil keuntungan dari produktivitas pekerjanya, serta memaksa untuk tetap membayar gajinya lebih dari dua kali lipat dari kebutuhan jumlah total pegawai.

Faktor terakhir, adalah adanya paksaan dari para politikus untuk membuat dan mengoperasikan jalur di rute yang tidak produktif. Sebagai contoh adalah Joetsu Shinkansen yang menghubungkan Tokyo dan Niigata.

Joetsu Shinkansen merupakan jalur kereta cepat yang mahal dalam proses pembangunannya. Bahkan, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan pembangunan Tokaido Shinkansen. Hal ini disebabkan karena jalur kereta cepat tersebut menembus medan pegunungan.

Proses pembuatan jalur tersebut dilakukan pada masa pemerintahan Perdana Menteri Kakuei Tanaka, yang memiliki kampung halaman di Niigata. Proyek ini diketahui penuh dengan kepentingan politik Tanaka. 

PM Tanaka kemudian dipaksa mundur setelah 2 setengah tahun menjabat karena tuduhan korupsi, menerima suap, dan mengarahkan kontrak pembangunan pemerintah menuju ke prefekturnya.

Hingga tahun 1986, efek dari pembangunan proyek kereta cepat di Jepang belum juga berakhir. 

JNR tercatat memiliki utang sebesar 5 triliun Yen sebagai akibat dari pembangunan kereta cepat di jalur Joetsu dan jalur lainnya. Perusahaan juga mencatatkan utang sebesar 25 triliun Yen untuk operasional kereta cepat.

Jika ditotal, utang perusahaan sudah mencapai 32,1 triliun Yen, termasuk adanya utang lain selain yang disebutkan sebelumnya. Bahkan, perusahaan juga masih memiliki kewajiban 5 triliun Yen pensiunan yang belum terbayarkan.

Apabila ditinjau kembali, JNR terus mengalami kerugian mulai tahun 1964 hingga 1986 sekitar 22 tahun. Sepanjang tahun tersebut, JNR masih dapat mempertahankan perusahaannya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Jawabannya, JNR mempertahankan perusahaan dengan cara berhutang. Sepanjang tahun-tahun tersebut, JNR bisa melakukan pinjaman dengan memberikan jaminan berupa lahan yang dimilikinya. 

Namun, ternyata hal tersebut berdampak juga pada sektor lain dan menimbulkan bubble pada perekonomian, yang terlihat dari melambungnya harga tanah di ibukota negara tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun