Mohon tunggu...
Nyimas Shieta Prima
Nyimas Shieta Prima Mohon Tunggu... Jurnalis - Mahasiswa Universitas Sriwijaya

Jurusan Hubungan Internasional

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Diplomasi Gunboat di Era Sekarang Ini

2 Desember 2021   16:10 Diperbarui: 2 Desember 2021   16:16 103 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Apa itu Diplomasi Gunboat?
Diplomasi kapal perang atau gunboat adalah suatu usaha atau aksi yang dilakukan oleh suatu negara dengan penggunaan kekuatan angkatan laut untuk mengatur hubungan internasional tapi tanpa mendeklarasikan peperangan. Skema atau strategi politik yang mengancam penggunaan kekuatan militer, apakah eksplisitas atau tersirat, dan sebagian besar ditampilkan melalui angkatan laut. Secara umum, gunboat diplomacy atau diplomasi kapal perang ini merupakan suatu penggunaan kekuatan militer yang digunakan suatu negara sebagai suatu bentuk paksaan ataupun dorongan pada lawan untuk mencapai kepentingan suatu negara. Seperti kutipan yang dijelaskan oleh James Cable, yaitu:
 

… penggunaan atau ancaman penggunaan suatu kekuatan angkatan laut terbatas yang bukan sebagai tindakan perang, dalam upaya mengamankan keuntungan atau mengurangi kerugian, baik dalam sengketa internasional yang berkepanjangan, maupun terhadap warga negara asing di dalam wilayah yurisdiksi negara tersebut

Kutipan tersebut dijelaskan oleh James Cable tersebut dalam bukunya yang berjudul Gunboat Diplomacy 1919-1991: Political Applications of Limited Naval Force. Dalam buku tersebut James Cable menjelaskan gunboat diplomacy atau diplomasi kapal perang ini secara umum merupakan penggunaan kekuatan laut negara dalam upayanya untuk mencapai atau mengamankan kepentingan negara yang kegunaannya tidak hanya sebagai suatu ancaman, tapi juga sebagai suatu hal simbolis yang juga memiliki suatu arti eksperesi kekuatan dan berguna untuk mendukung tercapainya kepentingan tersebut.

Dalam dunia politik internasional, diplomasi kapal perang mengacu pada pengejaran tujuan kebijakan luar negeri dengan bantuan tampilan kekuatan angkatan laut yang merupakan ancaman langsung perang, persyaratan tidak dapat disetujui kekuatan yang unggul. Sebuah negara yang bernegosiasi dengan kekuatan Barat akan melihat bahwa sebuah kapal perang atau armada kapal telah muncul di lepas pantainya. Melihat kekuatan seperti itu hampir selalu memiliki efek yang cukup besar, dan kapal semacam itu jarang perlu menggunakan tindakan lain, seperti demonstrasi senjata. Diplomasi gunboat merupakan karakteristik diplomasi yang sering terjadi di Asia. Selain terjadi di Asia, gunboat diplomacy juga masih sering terjadi di seluruh dunia. Hanya saja gunboat diplomacy yang terjadi saat ini adalah dengan menerapkan kemajuan teknologi militer, seperti penggunaan drone, satelit, dan juga rudal.

Menurut James Cable, terdapat 4 konsep dalam mengimplementasi Gunboat Diplomacy, yaitu:
1. Sebagai suatu kekuatan definitif atau definitive force, konsep ini menjadikan Gunboat Diplomacy sebagai suatu senjata oleh sesuatu yang kuat terhadap yang lemah. Namun kata “kuat”dalam hal ini tidak diukur oleh potensial kekuatan suatu negara secara menyeluruh, tetapi kemampuan untuk menerapkan kekuatan yang sesuai dan tepat dalam kasus tertentu agar dapat menghasilkan fait accompli. Fait Accompli merupakan suatu kondisi yang dimana hal yang telah terjaid secara sepihak, sehingga dapat mencapai a point of return (batas persediaan) atau tidak dapat ditarik kembali dari pembuatan keputusan tersebut yang dimana dalam hal ini bentuknya bisa saja berupa proses kekuatan laut agar mencapai tujuan tertentu dari yang telah diputuskan, diperhitungkan resikonya, dan dieksekusi untuk mencapai tujuan utama tersebut.

2. Sebagai suatu kekuatan dengan maksud memiliki tujuan operasional atau purposeful force, konsep ini berbeda dengan definitive force. Kekuatan militer yang digunakan dakan konsep ini bertujuan untuk mempengaruhi dan mengetahui pengambilan keputusan oleh pihak lawan yang dimana hasilnya nanti akan sangat bergantung pada reaksi lawan terhadap penggunaan dan penempatan kekuatan angkatan laut tersebut. Puposeful force ini juga dapat dijadika alternatif dari perang dan juga dapat digunakan sebagai suatu bentuk serangan aatau suatu ancaman dalam pencegahan permasalahan yang bisa saja menimbulkan peperangan apabila tidak dicegah. Salah satu bentuknya adalah dengan cara memproses kekuatan laut tersebut tanpa melakukan penyerangan, tujuannya adalah mencari tahu reaksi lawan terhadap suatu tindakan tersebut yang bisa saja digunakan sebagai suatu alat untuk memecah perhatian musuh dan juga untuk memperkirakan kekuatan militer musuh dalam reaksi yang diberikan atas perlakuan proses non agresif.

3. Sebagai suatu catalytic force, kekuatan angkatan laut yang digunakan dalam konsep ini merupakan sebagai suatu alat untuk memberi ruang atau kesempatan bagi pembuat keputusannya yang dimana dalam konsep ini kekuatan angkatan laut ada dalam kondisi standby atau berjaga. Penempatan strategis ini dapat mencegah atau mengantisipasi dari keadaan – keadaan yang tidak diinginkan agar dapat segara diatasi karena segala sesuatu bisa saja terjadi kapan saja. Salah satu bentuk dari adanya penempatan pangkalan militer di tempat-tempat strategis tanpa adanya sikap penyerangan, seperti pangkalan militer yang tersebar di lokasi tertentu yang strategis sebagai suatu rencana cadangan yang disiapkan untuk melindungi kemungkinan apabila gagalnya dari rencana utama tersebut.

4. Sebagai expressive force, kekuatan angkatan laut dalam konsep ini memiliki fungsi yang tepat yang dimana kapal perang atau gunboat digunakan untuk menekankan atau menegaskan sikap dari suatu negara tersebut, juga memberikan tampilan yang mendukung pada pernyataan yang tidak meyakinkan, dan juga penyedia penyaluran emosi dari pembuat keputusan. Fungsi dari expressive force ini masih membingungkan dalam artian dari kegunaannya, namun fungsi dari expressive force ini tidak terlalu mengancam seperti purposeful force. Fungsi ini juga membuat kekuatan angkatan laut suatu negara dapat menyerupai hal-hal resmi dan aspek perwakilan dari negara tersebut yang dimana di dalamnya terdapat diplomasi. Dalam kegunaan konsep gunboat ini expressive force bisa dalam bentuk latihan militer atau penempatan aset militer yang tidak bersifat memaksa dalam peggunaan untuk memberikan kesan yang diinginkannya.


Sejarah Diplomasi Gunboat
Diplomasi gunboat ini mulai dikenal sejak abad ke 19 yakni ketika kapal-kapal perang negara – negara di Eropa bermanuver di sepanjang pantai perairan negara kecil yang akan mereka rebut dengan aksi terus menembakkan meriam ke arah daratan. Tujuan dari manuvernya kapal-kapal perang tersebut adalah untuk mendaptkan pengaruh untuk memenangkan diplomasi dan juga agar negara yang menjadi incaran tersebut menyerah. Seiring berkembangnya zaman, tindakan diplomasi gunboat ini banyak digunakan oleh negara-negara yang memiliki kekuatan besar agar dapat menguasai negara lain dengan rencana dengan membuat kebijakan pemerintahnya menggunakan kekuatan militernya yang tidaklah seimbang. Selain itu negara yang memiliki kekuatan besar juga memanfaatkan kondisi yang belum berdirinya hukum internasional yang berlaku terutama mengenai hal seperti penjajahan dan ancaman maupun serangan antar negara.

Diplomasi gunboat ini mulai berubah ke arah kekuatan multipolar pada awal tahun 2000, negara-negara yang dahulunya merupakan korban dari diplomasi gunboat seperti Korea Selatan, China, dan India kini mulai menggunakan diplomasi yang sama untuk mencapai tujuan negaranya masing-masing. Pada saat ini, diplomasi gunboat bukanlah suatu aktivitas yang telah tertinggal oleh zaman, diplomasi ini masih digunakan dengan baik oleh negara yang sudah berkembang maupun negara yang maju dalam mendukung tujuan nasional mereka. Dengan dibuatnya dan berkembangnya rencana dari kolonialisme dan berlakunya hukum internasional yang terkait, maka prinsip dari diplomasi gunboat yang telah dibuat digunakan dengan cara mempertahankan kaitannya dengan tujuannya. Tujuan dari itu adalah untuk mendapatkan suatu kepentingan dari suatu negara dengan cara memaksa negara lain tanpa menimbukan konflik yang diperkirakan berskala besar dan menggunakan anggaran yang lumayan besar.


Diplomasi Gunboat
Contoh penting dan kontroversial dari diplomasi kapal perang adalah Insiden Don Pacifico pada tahun 1850, di mana Menteri Luar Negeri Inggris Lord Palmerston mengirim satu skuadron Angkatan Laut Kerajaan untuk memblokade pelabuhan Yunani Piraeus sebagai pembalasan atas melukai subjek Inggris, David Pacifico, Athena, dan kegagalan berikutnya dari pemerintah Raja Otto untuk mengkompensasi Pacifico kelahiran Gibraltar. Efektivitas demonstrasi sederhana dari proyeksi kemampuan kekuatan suatu negara berarti bahwa negara-negara dengan kekuatan angkatan laut, terutama Inggris, dapat membangun pangkalan militer misalnya adalah Diego Garcia dan mengatur hubungan yang menguntungkan secara ekonomi di seluruh dunia. Selain penaklukan militer, diplomasi kapal perang adalah cara yang dominan untuk membangun mitra dagang baru, pos-pos kolonial, dan perluasan kerajaan. Mereka yang kekurangan sumber daya dan kemajuan teknologi dari imperium Barat menemukan bahwa hubungan damai mereka sendiri dengan mudah dibongkar dalam menghadapi tekanan seperti itu, dan karena itu mereka bergantung pada negara-negara imperialis untuk akses ke bahan mentah dan pasar luar negeri.

Contoh lain dari diplomasi gunboat adalah kapal perang yang digunakan oleh Amerika dengan tujuan agar negara di Amerika Latin dan Amerika Tengah tidak menentang politik dan kebijakan Amerika. Pada bulan Desember 2011 hingga Januari 2012, dalam latihan yang diadakan oleh Velayat 90 tersebut AL Iran menunjukkan kemampaun yang dimilikinya dalam latihan menembak sub-surface to surface missile yaitu rudal dari kapal selam ke kapal permukaan. Latihan tersebut memiliki tujuan yaitu untuk memberikan suatu pesan atay peringatan kepada negara lain, terutama yang melintasi Selat Hormuz dengan makna apabila merasa adanya ancaman Iran mampu untuk menutup selat tersebut. Dalam diplomasi maritim kawasan Timur Tengah terutana Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, Selat Hormuz merupakan selat yang sangat menentukan dan sangat penting. Selang beberapa hari kemudian, kapal induk terbesar yang dimiliki Angakatan Laut Amerika Serikat yaitu USS Abraham Lincoln berlayar melintasi Selat Hormuz dengan dikawal oleh kapal-kapal Cruiser dan Destroyer Angkatan Laut Amerika serta frigate Angkatan Laut Inggris dan Angkatan Laut Perancis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan