Tri Lokon
Tri Lokon karyawan swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan https://www.instagram.com/trilosnito

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Natal Yang Sunyi dan Hening dari Pertapaan Gedono

25 Desember 2011   05:28 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:47 1782 1 5

Sabtu, 24 Desember 2011, pukul 23.oo wib. Dari terminal Bis Tingkir Salatiga, hanya dibutuhkan 20 menit dengan mobil pribadi, menuju ke Pertapaan Susteran Trapistin Gedono yang berada di lereng Gunung Merbabu. Setibanya di pertapaan, puluhan kendaraan mobil pribadi tampak sudah terpakir. Ini pertanda bahwa yang mengikuti perayaan malam Natal kali ini cukup banyak.

Sunyi. sepi, dingin, bahkan tak tampak orang berkerumunan, itulah suasana sesaat kami tiba di pakiran. Saya sempat bertanya kepada salah seorang penjaga soal kapan dimulainya ibadah. Kami mendapat informasi ibadah akan dimulai pukul 24.00 Wib. Sedangkan kami tiba di lokasi jam sebelas lebih seperempat jam. Jadi, tidak terlambat, tetapi kok suasananya sunyi sepi begini?

Tak terdengar bunyi lagu-lagu Natal yang biasanya diputar sebelum ibadah mulai seperti di gereja-gereja di kota. Tak ada hiasan atau ornamen Natal yang terpajang di sekitarnya. Ketika kami membuka pintu Kapel, baru kami mendengar alunan syahdu lantunan ibadah “tengah malam” yang dikidungkan lirih oleh 30-an suster pertapa dalam keremangan malam. Kidung pujian itu menambah khimadnya suasana malam itu.

[caption id="attachment_151699" align="aligncenter" width="622" caption="Suster Pertapa dari Gedono"][/caption]

Kapel Susteran Pertapa Santa Maria Bunda Pemersatu Gedono ini bebentuk huruf L dan didesain secara terpisah antara bagian umat dan suster. Konon, almarhum Romo Mangunwijaya, sebagai arsitek Kapel ini sengaja membangun dua ruang terpisah karena sesuai dengan spiritualitas para suster yang kontemplatif dan meditatif aktif serta sedikit mungkin kontak dengan dunia luar. Kapasitas ruang untuk umat ini bisa menampung 150 orang saja. Uniknya, dinding Kapel terbuat dari tumpukan batu Merapi yang dikombinasikan dengan kayu-kayu coklat hingga membuat teduh bagi siapa saja yang berdoa di kapel ini.

Kami mendapat bangku di belakang di dekat pintu masuk. Tidak lama kami duduk berbaur dengan umat lain, tiba-tiba semua lampu gantung di dalam Kapel dimatikan.  Suster Martha ED OCSO muncul dibalik kegelapan sambil memegang lilin bernyala,  mengatakan, “Dalam kesunyian dan keheningan malam ini, mari kita persiapkan hati kita untuk menyambut kelahiran Yesus di Betlehem”.

Setelah kurang lebih lima belas menit dalam kegelapan, seorang pastor mendekat ke altar dan kemudian membacakan maklumat warta gembira kelahiran Yesus didampingi dua suster pembawa lilin penerang. Suasana masih sunyi dan khidmat ketika selanjutnya seorang Suster menyerahkan kepada Pastor bayi Yesus di palungan dan kemudian diterima untuk diletakkan di Gua Natal di depan altar. Prosesi itu, diiringi dengan lagu Malam Kudus yang dinyanyikan dengan lembut dan meditatif oleh para suster lainnya.

Dengan selesainya prosesi peletakan bayi Yesus di palungan ke dalam Gua Natal itu, ibadah Natal dimulai. Lampu Kapel dinyalakan semua. Liturgi Ekaristi berlangsung dengan lancar dan khidmat. Koor dibawakan sendiri oleh para suster. Pemaknaan Natal oleh Pastor cukup mengena di hati umat dan para suster.

“Yesus lahir di Betlehem. Kemudian diletakkan di palungan. Palungan adalah tempat untuk meletakkan makanan ternak. Kelahiran Yesus diletakkan di palungan, makin bermakna ketika Yesus menjadi “makanan” bagi semua orang. Apalagi Betlehem terkenal dengan sebutan kota roti. Yesus yang lahir di Betlehem dan kemudian diletakkan di atas palungan mempunyai makna bahwa Yesus hadir di dunia untuk memberikan hidupnya sampai di kayu salib hingga menjadi keselamatan bagi kehidupan manusia.” Kata Pastor DR. Martosudjito Pr, Dosen Liturgi Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, dalam renungannya.

[caption id="attachment_151700" align="aligncenter" width="622" caption="Ekaristi"][/caption]

Pukul 01.45 ibadah Natal selesai. Semua suster berkenan memberikan selamat Natal di teras luar Kapel kepada umat yang datang dari luar kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Manado, Surabaya, Semarang, Solo dan Salatiga serta penduduk setempat. Setelah bersalaman dengan para suster, umat dipersilahkan untuk menikmati susu coklat dan makanan kecil hasil buatan para suster sebagai tanda suka cita dalam menyambut umat yang datang ikut beribadah di malam Natal hingga dini hari. Kesempatan ini biasanya kami gunakan untuk ngobrol dengan tamu yang datang dari jauh serta saling bersalam Natal.

Kami meninggalkan pertapaan Gedono dengan penuh sukacita. Kami telah merayakan Natal dalam kesunyian dan keheningan bersama para suster pertapa. Natal yang sunyi dan hening ternyata membawa sukacita berupa damai di hati umat manusia, karena Yesus adalah sumber kehidupanku.