Lisa Selvia M.
Lisa Selvia M. Freelancer

Anti makanan tidak enak | Suka ke tempat unik yang dekat-dekat | Emosi kalau nemu hoaks

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Rela, Bulan Ramadan Dinodai?

16 Mei 2019   00:13 Diperbarui: 16 Mei 2019   11:00 233 20 5
Rela, Bulan Ramadan Dinodai?
Sumber ilustrasi: press.fourseasons.com

Ramadan yang saya ketahui adalah bulan penuh berkah dan penuh dengan bermaaf-maafan. Bahkan sebelum berpuasa juga kerap terlontarkan ucapan permintaan maaf bersliweran di WAG atau di status media sosial. Jadi bagi saya bulan Ramadan identik dengan saling meminta maaf atau pengampunan atas kesalahan yang mereka sudah lakukan baik sadar atau tidak.

Tapi tahun ini berbeda, suasana memanas akibat pemilu yang baru dilaksanakan bulan kemarin. Banyak ujaran-ujaran kebencian disertai penyebaran kabar bohong dari oknum-oknum yang sangat disayangkan justru dari cara bertutur kata dan identitas berpakaiannya adalah umat muslim.

Contohnya dari seseorang yang mengancam memenggal kepala seorang Presiden ? Anggaplah dia mengancam memenggal kepala orang-orang yang tidak terkenal. Tetap saja hal ini tidak dapat dibiarkan. Kalau saya mempunyai tetangga seperti laki-laki yang mengaku dari Poso ini saya langsung laporkan si bersangkutan ke polisi. Apalagi ada videonya, "Waduh enak bener buat laporan pengaduan ke kepolisian" kata saya dalam hati.

Tetapi di balik oknum-oknum yang punya hobi membuat suasana bulan Ramadan memanas, ternyata ada banyak pihak yang menyejukkan suasana paska pemilu. Para ulama atau kyai bersahaja ini mengajak para umat, masyarakat sekitar bahkan seluruh rakyat Indonesia agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan. Bukan justru mengajak para umat untuk berperang demi capres yang mereka pilih.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kendal Jawa Tengah, KH Asroi Tohir, adalah salah satu ulama yang turut menghembuskan nafas-nafas Islam yang menyejukkan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi dalam pelaksaan Pemilu 2019 bisa berjalan secara aman, tertib dan lancar.

"Terima kasih juga kami ucapkan kepada penyelenggara Pemilu, Polri dan TNI," kata Asroi, setelah acara doa bersama di aula Mapolres Kendal, pasca-proses rekapitulasi tingkat kabupaten, Sabtu (4/5/2019).

Dari pihak PP Muhammadiyah dalam keterangannya di Yogyakarta juga mengucapkan selamat kepada seluruh elite politik dan rakyat Indonesia karena telah melangsungkan pemilu 2019 secara damai. Ditambah juga pemuda Muhammadiyah mengapresiasi kinerja KPU bahkan menggelar aksi beri dukungan kepada KPU.

Sementara di Jawa Timur, kyai-kyai sepuh di Jawa Timur, di antaranya Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi, Pengasuh Pesantren Miftachussunnah Surabaya KH Miftahul Ahyar, Pengasuh Pesantren Ploso Kediri KH Zainuddin Djazuli dan KH Nurul Huda Djazuli, serta Pengasuh Pesantren Sidogiri KH Nawawi Abdul Djalil. Mereka adalah orang-orang yang mendukung paslon #01 dan #02, bahkan telah bersepakat untuk menjaga kondusivitas pasca-pemilihan umum (Pemilu) serentak 2019.

Dari hasil pertemuan kyai-kyai berpengaruh yang telah saya sebutkan di atas, melakukan pertemuan di kediaman Ketua PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), The Gayungsari, Surabaya. Dari tempat ini mereka menghasilkan seruan sebagai berikut:

  1. Bersyukur kehadirat Allah SWT atas terselenggaranya Pemilu 2019 yang aman, tertib dan lancar dan bersedia menerima siapapun yang ditakdirkan Allah SWT untuk menjadi pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia atas dasar keputusan resmi KPU.
  2. Terima kasih kepada masyarakat yang telah menggunakan hak pilihnya secara tertib dan bertanggung jawab. Dan terima kasih juga Kepada segenap aparat negara yang telah bertugas dengan baik.
  3. Menjaga suasana masyarakat yang aman dan kondusif, menjauhi segala bentuk provokasi dan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah umat, sesuai kaidah dar'ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih.
  4. Bersabar menunggu dan mengawasi proses penghitungan suara yang dilakukan KPU secara profesional, adil dan amanah dalam menjalankan tugasnya sesuai undang-undang yang berlaku untuk menghasilkan pemilu yang berkualitas.

Ada juga pertemuan para ulama, habib, dan cendekiawan muslim di Hotel Kartika Chandra Jakarta, Jumat (3/5/2019) yang lalu. Acara ini adalah perkumpulan kasih sayang dan persaudaraan. KH Said Aqil berkomentar mengenai pertemuan ini  "Kemarin para ulama, habaib, cendekiawan sekitar 1000 orang bukan perkumpulan politik, tendensius politik, tapi pertemuan multaqo ukhuwah, multaqo wudiyah, multaqo saling kasih sayang, persaudaraan." 

Diharapkan pertemuan ini bisa meredakan gesekan dalam masyarakat terutama umat muslim dalam memasuki bulan Ramadan. "Kita bersaudara sesama umat Islam, bahkan sebangsa dan setanah air. Itu yang harus kita pentingkan, kita prioritaskan," seru KH Aqil.

Pertemuan tersebut sangat berharga menurut KH Aqil, dimana dihadiri oleh ulama-ulama sepuh dari berbagai daerah, seperti KH Maemun Zubair, KH Muhtadi Dimyathi, dan TGH Turmudzi Badaruddin.

Ajakan untuk mengapresiasi KPU dan seruan untuk menyejukkan suasana akibat gesekan kontestasi Pemilu 2019 ini baru sebagian yang saya angkat dari sisiran berita daring.

Kembali saya mengingat status-status bahkan video tidak mengenakkan dari oknum-oknum yang  rela untuk berperang membuat saya mengelus dada. Di manakah identitasmu sebagai muslim yang sedang menjalani bulan ramadan wahai kawan? Begitu pentingkah calon yang dipilih oleh kalian hingga mengalahkan bulan penuh berkah yang senantiasa kalian syukuri?

***

sumber : 1, 2, 3, 4, 5, & 6