Mohon tunggu...
Lisa Noor Humaidah
Lisa Noor Humaidah Mohon Tunggu... Bekerja di Sektor Pembangunan

Tertarik pada ilmu sosial, human interest, sejarah dan sastra

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

#DiRumahAja, Bagaimana Jika Tidak Nyaman/Aman?

3 April 2020   17:30 Diperbarui: 3 April 2020   19:56 87 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
#DiRumahAja, Bagaimana Jika Tidak Nyaman/Aman?
nytimes.com

Tidak lama setelah tulisan tentang Pentingnya Menjaga dan Merawat Kesehatan Jiwa di Masa yang Rapuh tayang, saya mendapat pertanyaan bagaimana jika sumber masalah/kecemasan tersebut adalah pasangan kita di rumah?

Rumah tempat kita berteduh, tempat yang seharusnya paling aman untuk menghindar dari segala kemungkinan dan resiko terburuk di luar sana menjadi tempat tidak aman dan nyaman.  Apakah ada pilihan lain selain tetap bertahan dan menghadapinya?

Tulisan guru dan kakak senior saya Leya Catlleya di artikel yang berjudul "7 Alasan Perempuan Terdampak Virus Corona secara Berbeda.." memberi gambaran lengkap bagaimana masalah khusus yang dihadapi oleh perempuan pada masa sulit ini. 

Beberapa di antaranya adalah beban di rumah tangga yang bertambah karena kebijakan bekerja di rumah dengan tugas mendampingi sekolah jarak jauh untuk anak-anak dan juga meningkatnya kekerasan di dalam rumah tangga.

Persoalan-persoalan ini telah menjadi persoalan dunia, dialami oleh negara-negara yang menghadapi pandemic ini terutama China sebagai negara pertama yang terdampak.

Mbak Leya mengutip berita di BBC.com (8 Maret 2020) tentang aktivis perempuan dari LSM Cina Weiping yang menyebutkan laporan kasus kekerasan meningkat tiga kali lipat.

Mereka menyerukan hastag #AntiDomesticViolenceDuringEpidemic dengan pesan kuat agar situasi pandemic COVID-19 tidak menjadi situasi pandemic juga bagi kekerasan terhadap perempuan dan keluarga. Dampak dari situasi ini, perceraian meningkat tajam setelah pandemic mulai berakhir.

Berdasarkan data di salah satu kota di provinsi Hunan, sejak Februari 2020, angka pendaftaran perceraian mencapai 206 dibandingkan dengan 311 perkawinan yang didaftarkan. Bahkan digambarkan staff kantor pencatatan perkawinan tidak sempat mengambil air minum karena begitu banyaknya yang mengantri untuk mendaftarkan perceraian.

Mengapa bercerai?  Selain soal kekerasan dalam rumah tangga, infidelity (ketidaksetiaan) tidak semua pasangan merasakan cinta pada masa karantina. Tapi justru sebaliknya. Mereka saling membenci. Berita tentang ini dapat dibaca di sini.

Melalui berita-berita tersebut kita dapat banyak belajar. 

Lalu, bagaimana jika ada teman/saudara kita mengalaminya? Kita bisa membantu dengan cara paling sederhana yaitu menjadi pendengar yang baik dan empatik yang memberikan dukungan moral positif bagi mereka yang menghadapi situasi yang tidak mudah di rumah mereka. Bahwa mereka tidak sendiri.

Seperti apa itu pendengar yang baik dan empatik? Ada elemen penting untuk diperhatikan ketika kita memberikan semacam pertolongan pertama untuk kasus kekerasan terhadap perempuan. Ini tips dari Lembaga Kesehatan Dunia (WHO), UNWomen, dan UNFPA. Untuk memudahkan ingat soal LIVES.  Apa itu?

L-isten. Mendengarkan dengan empati tanpa menghakimi dan atau menyalahkan. Mendengarkan tanpa harus memberi bumbu-bumbu pada cerita yang disampaikan dan pertanyaan yang menyudutkan. Pernyataan yang menyudutkan/menghakimi misalnya kamu terlalu A sehingga menyebabkan terjadinya D, dan seterusnya.

I-nquire. Kita bisa bertanya tentang hal-hal yang dibutuhkan dan dikhawatirkan misalnya terkait dengan kesehatan mental anggota keluarga yang lain misalnya anak. Kita bisa berbagi sesuatu hal positif, semangat dan motivasi yang mungkin dapat  menjadi pembelajaran, tentu tanpa sekali lagi menyudutkan atau menghakimi.

V-alidate. Tunjukkan bahwa kita percaya pada apa yang disampaikan. Bahwa situasi yang dialami tidak mudah. Dan ia tidak sendiri sebab ada kita yang paling tidak menyediakan telinga untuk mendengarkan dan memberikan pendapat jika diminta.  

E-nhance safety. Pastikan ia aman, juga untuk menghindari kekerasan yang lebih buruk, yang mungkin menimpanya. Hal ini tentu saja sangat terkait dengan seberapa parah tingkat kekerasan yang dialami. Diskusikan dan cari tahu cara terbaik dan aman agar terhindar dari kemungkinan-kemungkinan yang beresiko atau mencelakakan. Terakhir,

S-upport. Bantuan untuk menghubungkan pada pihak – pihak lain untuk mendapatkan tambahan informasi, layanan konseling atau hal lainnya, jika diperlukan. Pada situasi krisis seperti ini, seluruh layanan dimaksimalkan untuk fokus pada pandemic terutama layanan kesehatan. Namun ada inisiatif-inisiatif dari kelompok masyarakat lain yang bisa kita akses.

Misalnya lembaga sosial masyarakat yang menyediakan layanan konseling seperti telah saya bagi pada tulisan sebelumnya di sini dan juga lembaga yang didukung oleh dana negara seperti Komnas Perempuan. Untuk mengakses layanan mereka dapat dilihat di sini.  

Tentang Relasi Kuasa dan Keadilan Gender 
Penting sekali menjadi catatan tingginya kasus perselisihan sampai kemudian kekerasan di dalam keluarga sering kali dipicu oleh relasi kuasa karena kebiasaan, budaya yang tak sejalan dengan kenyataan sesungguhnya dalam kehidupan yang dijalani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x