Mohon tunggu...
Lisa Noor Humaidah
Lisa Noor Humaidah Mohon Tunggu... Bekerja di Sektor Pembangunan

Tertarik pada ilmu sosial, human interest, sejarah dan sastra

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Belajar dari Pengalaman Transgender

27 Desember 2019   07:31 Diperbarui: 28 Desember 2019   11:08 2127 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar dari Pengalaman Transgender
ilustrasi: sohu.com

Menjelang 2019 berakhir, saya ingin merekomendasikan Anda menonton video YouTube yang mengangkat profil tentang Merlyn Sopjan, seorang transgender (waria) dan pejuang hak-hak kesetaraan yang berjudul "Perempuan tanpa Vagina". 

Video yang hanya berdurasi 17 menit-an lebih ini akan memberikan perspektif yang berbeda tentang menjadi diri sendiri, menjadi transgender.

Video ini menurut saya sangat penting untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada pemerintah yang mencantumkan persyaratan diskriminatif dalam penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) baru-baru ini.

Persyaratan mencantumkan tentang tidak memiliki 'kelainan orientasi seks dan kelainan perilaku (transgender)' yang secara eksplisit disebutkan pada Kementrian Perdagangan dan Kejaksaan Agung. 

Mereka bahkan mengatakan akan melibatkan tim medis dan psikologis untuk mendeteksi para pelamar ini. Saya jadi ingin tahu juga standar atau ukuran apa yang digunakan. Landasan pelarangan adalah karena tidak sesuai dengan norma agama. Baiklah, saya sudah cukup paham dalam perspektif ini.

Organisasi Kesehatan Dunia/world health organization (WHO) melalui International statistical classification of diseases and related health problems (ICD)-11, sebuah standar dan buku panduan diagnosa untuk epidemiologi, manajemen kesehatan dan praktek klinis, tidak lagi menyebutkan transgender sebagai "mental and behavioural disorders/kelainan mental dan perilaku" namun masuk dalam kategori "gender inconqruence/ketidaksesuaian gender".

Penting digarisbawahi di sini transgender bukan perilaku menyimpang.  Standar ini disusun berdasarkan berbagai studi klinis dan ilmiah. Panduan ini diterbitkan pada 18 Juni 2018 dan telah disepakati oleh negara-negara anggota WHO pada 25 Mei 2019. Dan Indonesia adalah salah satu negara anggota WHO.

Penelitian dari Lancet memperkirakan terdapat 25 juta orang atau 0.3 sampai 0.5 persen dari penduduk di seluruh dunia adalah transgender. Dan mereka hidup dan ada di sekitar kita, seperti halnya Mbak Merlyn. Terkadang mereka ini, adanya seperti tidak adanya karena perlakuan diskriminatif, stigma yang mereka terima.

Umumnya dianggap sebagai menyalahi kodrat Tuhan, pengganggu, penjaja seks jalanan, sumber penyakit, dst. Jangankan bicara tentang kesempatan pekerjaan yang sama, mendapatkan identitas dan layanan publik yang layak sebagian besar mereka sangat kesulitan.  

Studi tentang seksualitas dan reproduksi berkembang untuk mempelajari dan mendefinisikan tentang gender identitas, jenis kelamin dan ekspresinya.

Umumnya pengetahuan yang kita pahami tentang jenis kelamin berdasarkan alat kelamin/genital itu hanya pada oposisi biner yaitu laki-laki atau perempuan. 

Berikut beberapa pengertian umum yang penting kita ketahui dari edisi khusus National Geographic (2017) yang mengangkat tema tentang Gender Revolution:

  • Identitas gender: biasanya muncul pada usia tiga tahun. Tahapan dimana kita merasa menjadi perempuan, laki-laki, atau bahkan cair karena ada pada keduanya. Cisgender adalah istilah untuk menunjukan identitas jenis kelamin sesuai dengan jenis kelamin waktu lahir, laki-laki atau perempuan.
  • Jenis kelamin (biological sex): jenis kelamin ditentukan pada sebuah spektrum, dengan alat kelamin, kromosom, alat reproduksi (testis/ovarium), dan hormon yang memainkan fungsi pembentukan. Umumnya kondisi ini akan menentukan jenis kelamin laki-laki (kromosom XY) atau perempuan (kromosom XX) namun kurang lebih 1 dari 100 masuk dalam kategori pembentukan antara laki-laki dan perempuan karena kombinasi kromosom, dan proses alami medis yang terjadi pada saat pembentukan (intersex).
  • Ekspresi gender adalah ekspresi seseorang melalui pakaian yang dikenakan, perilaku, Bahasa dan penampilan-penampilan luar yang lain. Ekspresi tersebut apakah menunjukan atau masuk dalam kategori maskulin, feminine atau androgini (kombinasi antara feminine dan maskulin atau ekspresi gender yang biasa kita terima/lihat).  

Penting untuk dipahami dari pengertian-pengertian yang dijelaskan di atas, tidak menentukan soal orientasi seksual. Misalnya jenis kelamin perempuan yang berpenampilan androgini pasti menyukai sesama jenis perempuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x