Mohon tunggu...
Retno Septyorini
Retno Septyorini Mohon Tunggu... Administrasi - Suka makan, sering jalan ^^

Content Creator // Spesialis Media IKKON BEKRAF 2017 // Bisa dijumpai di @retnoseptyorini dan www.retnoseptyorini.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Berpartisipasi Menjaga Perekonomian dengan Bijak Mengonsumsi Produk Keuangan

31 Agustus 2020   23:51 Diperbarui: 31 Agustus 2020   23:57 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Bijak Mengonsumsi Produk Keuangan (Dokpri)

Bagi saya pribadi, melabeli diri sebagai generasi sadar resiko keuangan merupakan wujud nyata saya dalam berpartisipasi menjaga perekonomian negara. Disadari ataupun tidak, impian besar ini ternyata dapat dimulai dari hal sesederhana: "bijak dalam mengonsumsi produk keuangan".

Selain berprinsip gunakan sesuai kebutuhan, bukan keinginan, saya tidak lupa untuk menyesuaikannya dengan profil resiko dan kemampuan bayar yang saya miliki. Agar tak ada lagi istilah lebih besar pasak daripada tiang. Lebih besar hutang daripada pendapatan. Saya percaya bahwa keuangan warga negara yang sehat merupakan cikal bakal kuatnya perekonomian sebuah negara.

Hal ini bermula dari kita.

***

Enam tahun lalu akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan fasilitas auto debit untuk membayar biaya bulanan asuransi kesehatan. Selain mengurangi resiko lupa bayar yang umumnya berujung pada "hukuman" berupa denda, saya ingin meminimalisir permasalahan yang mungkin terjadi saat hendak membayar biaya bulanan tersebut. Satu diantaranya kita kenal dengan sebutan gangguan teknis.

Benar saja, tak berselang lama dari keputusan saya untuk memanfaatkan fasilitas auto debit tersebut, ada kawan seangkatan yang mengeluhkan kejadian gagal bayar karena gangguan teknis. Sebenarnya alasan gagal bayarnya bukan 100% karena adanya gangguan teknis saja. Kebiasaan bayar di hari terakhir turut andil dalam permasalahan ini. Ditambah lagi bayarnya lewat perantara yang mengharuskan untuk keluar rumah. Sudah rugi waktu dan biaya transport, kalau gagal bayar karena limit waktu biasanya auto bikin produktivitas menjadi terganggu.

Belajar dari hal sepele tapi berujung melelahkan jika sampai kelupaan atau terjadi gangguan seperti contoh kasus di atas, saya mulai tertarik dengan campaign dengan jargon "Manfaatkan Produk Keuangan" yang digembar-gemborkan banyak pihak itu. Paling tidak kian hari kian terasa manfaatnya. Kadang dapat cashback, kadang dapat diskon. Kalau dihitung-hitung, lumayan banget buat penghematan.

***

Ilustrasi Memanfaatkan Layanan Dompet Digital (Dokpri)
Ilustrasi Memanfaatkan Layanan Dompet Digital (Dokpri)
Setelah menimbang ragam manfaat yang bisa dinikmati, dua tahun kemudian, tepatnya Bulan Mei 2017 akhirnya saya mulai menambah konsumsi produk keuangan untuk menunjang keperluan sehari-hari. Waktu itu saya memilih untuk menggunakan salah satu platform dompet digital yang kala itu tengah naik daun. Alasan utamanya tentu bukan untuk perantara jajan, tapi lebih sebagai upaya penghematan ongkos transportasi yang saya perlukan dalam tempo beberapa bulan ke depan.

Maklum saja, waktu itu saya harus bolak balik Jogja ke tempat kerja, yang notabene berada di luar kota. Selama berbulan-bulan lamanya Ibu Kota dan Tanah Banua alias Banjarmasin menjadi tempat singgah rasa rumah. Karena jadi kantor dadakan, meski terbilang cukup jauh dari Jogja, kedua kota tersebut harus rutin dikunjungi.

Benar kiranya ungkapan "Wiwiting tresno jalaran seko kulino". Bahwa cinta bisa datang karena terbiasa. Persis seperti salah satu produk keuangan yang sudah saya singguh di depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun