Mohon tunggu...
lilik krismantoro
lilik krismantoro Mohon Tunggu... -

rindu semua persahabatan yang mengabdi pada kemanusiaan, dan memperjuangkan martabat kehidupan !

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Passion to God, Passion to Knowledge, Passion to Others*

7 Desember 2015   00:11 Diperbarui: 7 Desember 2015   00:47 100 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

sejenak merenungkan iman, pengetahuan, dan kemanusiaan
bersama St. Albertus Agung dan Walter M. Miller, Jr


gambar : Wikipedia

A Canticle for Leibowitz

Dalam novel legendarisnya A Canticle for Leibowitz, Walter M. Miller, Jr, menuturkan sebuah kisah ordo biarawan imajiner masa depan bernama Albertian Order (ordo Albersian), yang didirikan oleh Isaac Edward Leibowitz, seorang insinyur listrik yang bekerja di militer AS yang akhirnya memilih menjalani hidup religius. Mereka mengabdikan diri pada pelestarian pengetahuan ilmiah yang nyaris punah setelah perang nuklir.

Gelombang anti teknologi yang menyebar pasca perang nuklir yang terjadi di bumi di masa depan menyebabkan pembantaian besar-besaran terhadap kaum ilmuwan dan pemusnahan terhadap segala bentuk pengetahuan. Barangkali duka yang begitu dalam telah membuat mereka tak mampu merenung lebih dalam. Bahwa pengetahuan hanyalah alat, manusia yang memberi makna dan tujuan. Manusia menulis sendiri kiamat dan surganya.

Dan sebagaimana setiap jaman melahirkan bentuk-bentuk penghayatan kaum religius yang khas[1], demikian juga dunia pasca perang nuklir melahirkan Ordo Albersian. Leibowitz sendiri memilih menggunakan nama Santo Albertus Magnus sebagai pelindung utama ordo religiusnya. Dan para rahib Albersian memilih menjaga pengetahuan sebagai tugas perutusannya yang utama. Tepat ketika pengetahuan dibenci dan harus dimusnahkan, para rohaniwan ini berada di garda terdepan untuk menyelamatkan nalar, bila perlu dengan nyawa mereka sendiri.

pengungsian pengetahuan

Mengapa Ordo Albertian berjuang ? Mengapa pengetahuan harus diselamatkan ? Karena dalam pengetahuan ada kebudayaan dan kemanusiaan. Lewat pengetahuan manusia memberi makna pada dirinya sendiri. Lewat pengetahuan manusia mampu merenungkan baik dan buruk. Lewat pengetahuan manusia bertemu sesamanya. Karena pengetahuan bukan hanya setumpuk informasi, tetapi harta dan kontribusi yang dibangun dengan penuh perjuangan oleh kemanusiaan bermilenium-milenium lamanya.

Barangkali bahkan mereka sampai pada titik kesadaran, betapa pengetahuan sejatinya merekam refleksi diri kemanusiaan, sebuah kitab suci dimana kebenaran malu-malu menyembunyikan diri, setelah terkapar oleh positivisme berabad-abad sebelumnya. Sebuah alkitab yang tak tertulis sempurna. Bahkan mungkin, berkali-kali wajah Tuhan menampakkan diri tanpa pernah kita kenali jejaknya.

Dan mereka, Ordo Albersian, para perenung peradaban yang menjalani kehidupan tidak hanya dalam hiruk pikuk, tetapi juga permenungan di tengah keheningan, sempat menemukan cercah-cercah kesucian itu terpancar di celah-celah rasionalisme pengetahuan. Dan pengetahuan harus berhadapan dengan tragedi satir dan harus berterimakasih karenanya : mereka diselamatkan karena jejak-jejak cinta, nilai, dan irasionalitas yang tersisa yang gagal dibersihkan oleh mesin metodologi ilmiah.

Selanjutnya, dalam bentuknya yang paling profan, pengetahuan menyediakan sarana-sarana teknik untuk memajukan kemanusiaan. Dalam pengetahuan tersembunyi anak-anak tangga untuk mengangkat kemanusiaan dari penderitaan dan ketidakadilan. Dan dengan demikian mengkuduskan kehidupan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan