Mohon tunggu...
Liliek Pur
Liliek Pur Mohon Tunggu... belajar terus

wiraswasta

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Mengenang Sebuah Kata Ajaib Zaman Orba

31 Oktober 2019   10:03 Diperbarui: 31 Oktober 2019   20:43 0 25 11 Mohon Tunggu...
Mengenang Sebuah Kata Ajaib Zaman Orba
ilustrasi: kompas.com/Raka Santeri

Di penghujung bulan bahasa kali ini, saya akan mengajak ingatan saya berkelana menuju zaman lampau, yakni masa Orde Baru. Saya tidak akan membahas masalah politik atau pemerintahan. Juga urusan-urusan berat lainnya semisal perkembangan ekonomi atau analisis keamanan.

Saya hanya akan mengenang sebuah kata. Sebuah kata yang saya ingat demikian melekat pada diri pemimpin tertinggi yang menguasai orde terlama dalam sejarah negeri kita.

Menilik jenisnya, sebenarnya ia bukan termasuk golongan kata yang penting. Bukan kata kerja yang bisa mewakili aktivitas yang mengagumkan atau mengerikan, misalnya. Bukan pula jenis kata benda yang menunjukkan sesuatu yang menakutkan atau sebaliknya menyenangkan.

Ia hanya sebentuk kata depan. Hanya sebuah kata depan? Ya, hanya sebuah kata depan. Namun, meskipun hanya sebuah kata depan, ia memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Mungkin juga bagi banyak orang lain yang hidup semasa dengan saya.

Sang pemimpin negeri sangat sering mengucapkan kata ini. Sayangnya, beliau lebih banyak keliru menempatkan kata "kesayangan"-nya ini. Meskipun begitu, beliau tetap pede melontarkan ucapan-ucapan dengan kata depan yang salah alamat ini.

Menjadi Viral
Akibat seringnya beliau menggunakan kata ini, dan hampir selalu tidak tepat sasaran, lantas menjadi bahan gunjingan orang. Jika terjadi pada masa kini, saya yakin ia akan viral dan menjadi tren pembicaraan di media sosial.

Namun zaman itu sangat berbeda dengan zaman kini ketika gunjingan bisa disampaikan secara terbuka dan merajalela di dunia nyata dan dunia maya. Gunjingan kala itu tak pernah mengemuka, tapi berupa bisik-bisik semata.

Saat Orde Baru digantikan oleh Era Reformasi, "kata ajaib" ini kembali mengemuka. Kali ini tidak disampaikan oleh sang mantan pemimpin yang telah lengser. Namun, masyarakat dan media yang mulai banyak menebarnya dalam beragam tulisan.

Hasil pencarian yang saya lakukan melalui salah satu mesin pencari yang banyak dicari orang mengindikasikan hal tersebut. Dengan mengetik kata yang saya maksudkan diikuti nama sang mantan, konten-konten yang berkaitan dengan hal itu segera bermunculan.

Tak sedikit gabungan kata itu menjadi judul artikel atau dalam bentuk konten-konten yang lain. Bahkan menjadi judul sekian banyak buku yang telah diterbitkan oleh beberapa penerbitan. Mulai buku serius yang membahas politik hingga buku santai berisi humor.

Beberapa variasi dibuat oleh para penulis. Ada yang mengapit kata itu dengan tanda petik, ada pula yang menempatkannya dalam tanda kurung. Hal itu mungkin dimaksudkan sebagai sebuah petunjuk bahwa "kata istimewa" itu sebenarnya tidak layak berada di sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2