Mohon tunggu...
Liliek Pur
Liliek Pur Mohon Tunggu... belajar terus

-

Selanjutnya

Tutup

Humor Artikel Utama

Kancil Milenial dan Hoaks yang Gagal

4 September 2019   17:36 Diperbarui: 22 Maret 2020   15:20 584 27 13 Mohon Tunggu...

Seekor kancil yang hidup di zaman milenial, tinggal di sebuah hutan meranggas yang amat jauh dari kesan rindang layaknya sebuah hutan. Sebetulnya hutan Cengkar dulunya sangat rindang. Namun kerimbunan pepohonannya tergerus oleh banyaknya gelondongan kayu yang diangkut para pembalak hanya demi membuncitkan perut mereka. Maka ia dan binatang-binatang lain di hutan Cengkar ini semakin kesulitan mencari penghidupan.

Tak heran bila sering kita dengar sekawanan gajah harus mencari "sesuap nasi" ke perkampungan manusia. Setelah mengisi perut-perut mereka, mereka segera meninggalkan kampung manusia kembali ke habitat mereka, hutan Cengkar.

Serakus-rakusnya kawanan gajah, mereka hanya makan seukuran perut mereka. Sedikit pun tidak ada mereka menenteng bahan makanan ke hutan. Apalagi menjarah barang-barang yang tak mereka butuhkan semacam kulkas dan televisi.

Alasan mereka merambah kota pun sangat masuk akal: kelaparan. Dan lahan tempat mereka mengais rezeki telah dijamah makhluk berakal bernama manusia. Manusia yang hanya bisa mengambil tanpa berniat memperbaharui.

Itu sedikit kisah pembuka untuk menggambarkan suasana hutan Cengkar yang semakin mendekati kondisi gersang seutuhnya. Tiada lain penyebab kegersangan hutan selain manusia, sang khalifah yang seharusnya menjaga alam tetapi malah merusak. Barangkali terinspirasi oleh keadaan ini, kemudian ada manusia yang menciptakan sebuah peribahasa untuk menggambarkan diri mereka sendiri, "Pagar makan tanaman".

Sekarang kita mulai dongeng si Kancil. Kali ini si Kancil kelaparan dan sedang mencari ketimun. Karena ia tak menemukan sebiji ketimun pun di dalam hutan, maka si Kancil ngeluyur ke arah kampung manusia. Antara hutan dan kampung manusia terdapat sebuah sungai.

Sungai ini tak lagi mengalirkan air jernih layaknya sungai di tepi hutan. Pabrik-pabrik yang dibangun manusia di arah hulunya sembarangan membuang limbah masuk sungai ini. Kini manusia semakin mengarahkan pembangunan pabrik-pabrik mereka menuju tepi-tepi hutan.

Nah, sesampainya di pinggir sungai hitam pekat itu, pandangan si Kancil tertuju ke kebun ketimun yang terbentang cukup luas di seberang sungai. Air liurnya menetes deras membayangkan segarnya ketimun yang tampak gemuk-gemuk itu. Ternyata ada juga petani desa yang memiliki lahan seluas itu. Ah, tapi mungkin bukan milik petani desa. Bisa jadi para pengusaha dari kota pun telah meluaskan jangkauan bisnisnya hingga pelosok desa, bahkan sampai ke tepi hutan.

Langkah Kancil menuju kebun ketimun terhalang oleh sungai. Sebenarnya aliran sungai itu tidak deras, bisa saja Kancil menyeberanginya. Namun si Kancil enggan melakukannya melihat warna air sungai yang kehitam-hitaman dengan bau anyir yang menyengat hidung kecilnya.

Maka, si Kancil pun memutar otak cerdiknya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, celingukan seperti mencari sesuatu.

Aha! Pikiran cerdasnya segera bekerja begitu kedua matanya mendapati sekumpulan buaya yang sebagian punggung dan moncongnya timbul ke permukaan air sungai. Rupanya keberadaan buaya-buaya itu tersamar oleh warna air sungai yang menghitam nyaris sewarna jelaga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x