Mohon tunggu...
Liliek Pur
Liliek Pur Mohon Tunggu... belajar nulis belajar wirausaha

wiraswasta

Selanjutnya

Tutup

Sehatdangaya

Apa Perlu Menjaga Stamina Selama Ramadan?

7 Mei 2019   16:17 Diperbarui: 7 Mei 2019   16:45 0 6 2 Mohon Tunggu...
Apa Perlu Menjaga Stamina Selama Ramadan?
sumber gambar: tribunnews.com

Sepanjang saya menjalani puasa Ramadan semenjak puluhan tahun silam, rasanya tak pernah saya melakukan hal-hal khusus dalam upaya menjaga stamina tubuh. Ritual puasa yang saya jalani amat sederhana: makan sahur (bila memungkinkan) sekitar setengah jam menjelang waktu imsak, berbuka puasa dengan minuman dan cemilan apa saja yang ada, dan makan malam seusai salat tarawih. Itu saja.

Tidak ada menu makan dan minum yang khusus saat berbuka dan makan sahur. Tergantung apa yang ada dan bergantung pula pada berapa lama waktu yang tersedia untuk melakukannya.

Pengalaman Ramadan tahun lalu telah menunjukkannya. Adakalanya saya berbuka dan santap sahur dengan menu lengkap, walaupun sangat jarang terjadi. Pada lain waktu saya makan beberapa potong kue dan minum teh manis hangat, dengan menu buka dan sahur seringkali tak beda. Bahkan beberapa kali sempat hanya mereguk segelas air putih saat sahur akibat waktu yang tak bersahabat.

Barangkali ada satu bagian tubuh saya yang tidak beres atau ada masalah lain, saya tidak tahu. Saya tidak merasakan perbedaan kondisi tubuh yang signifikan saat saya makan sahur dengan menu lengkap dibandingkan ketika saya hanya minum segelas air putih. Bahkan ketika saya tidak sempat makan sahur sedikit pun.

Sebagai contoh, puasa hari pertama kemarin. Saya makan malam sekitar jam 9.30. Kemudian menjelang tengah malam saya melakukan perjalanan cukup panjang ke kota lain. Perjalanan memakan waktu lebih dari lima jam.

Tiba di tempat tujuan ketika azan subuh berkumandang. Maka, kesempatan untuk makan sahur pun tidak lagi saya dapatkan. Kondisi semacam ini kemungkinan akan terus berlangsung minimal sekali dalam seminggu.

Kondisi demikian terjadi karena saya bekerja di kota yang berbeda dengan tempat kediaman saya dan keluarga saya. Seminggu sekali saya harus melakukan perjalanan antar kota yang berjarak sekitar 211 kilometer.

Alhamdulillah, saya bisa melalui puasa sehari kemarin tanpa hambatan berarti. Tentu saja ulasan ini hanya membahas segi fisik. Kalau urusan lainnya dari ibadah puasa ini, hanya Allah yang tahu.

Contoh lain, sebagai bekal puasa hari ini, saya makan dua potong roti coklat dan minum segelas teh manis hangat. Sisi kepraktisan menjadi pertimbangan utama bagi saya dalam memutuskan jenis makan sahur yang akan saya konsumsi.

Kala itu, tiada makanan lain yang tersedia di rumah selain yang saya sebutkan tadi. Makanan yang saya beli di sebuah mini market dalam perjalanan sepulang tarawih.

Seperti kemarin juga, insya Allah hingga sore ini saya bisa menjalani puasa dan bekerja layaknya aktivitas saya pada hari-hari lainnya. Kalau ada yang agak berbeda, mungkin karena tingkat kantuk yang agak lebih banyak dibandingkan hari-hari di luar Ramadan. Saya memperkirakan penyebab naiknya level kantuk saya adalah karena saya tidak bisa ngopi pada pagi dan sore hari seperti kebiasaan yang saya lakukan pada hari biasa.

Sisa kopi hitam seperempat wadah tergeletak di atas meja makan. Ia harus rela menanti hingga usai acara lebaran kelak. Sepertinya sepanjang Ramadan ini, ia hanya akan menjadi pengangguran.

Istri saya sempat berpesan agar saya belanja buah-buahan dalam jumlah yang cukup sebagai persediaan makanan sahur dan buka puasa. Katanya kandungan buah-buahan bermanfaat untuk menjaga stamina dan kebugaran tubuh. Berdasarkan ulasan-ulasan yang pernah saya baca dan saya dengar, saya setuju dengan pendapat itu.

Masalahnya, siapa yang akan memilih-milih buah-buahan yang telah masak dan tidak gembur? Siapa pula yang harus mengupas mangga dan mencuci apel? Sedangkan keberadaan pisau dan kain lap pun entah di mana.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya meletakkan faktor kepraktisan sebagai unsur penting dalam menentukan jenis makanan dan minuman untuk berbuka puasa dan santap sahur. Buah-buahan tak kan sanggup memenuhi syarat yang saya ajukan.

Alhasil, roti menjadi salah satu pilihan yang logis. Tinggal lheb. Sebagai pelengkap, teh dan gula selalu tersedia di meja makan. Sesekali, boleh juga susu jahe yang asapnya mengepul. Tapi sumbernya sachetan juga.

Urusan sahur saya pun kelar dengan bahan-bahan bersahaja. Mereka hanya membutuhkan tambahan air panas untuk menjadikannya menu makan sahur yang "komplit". Sebuah dispenser yang teronggok manis di pojok ruang makan selalu siaga mengucurkan air panas kapan pun saya pinta.

Mudah-mudahan suatu saat nanti, saya bisa secara rutin bersantap sahur dan berbuka puasa dengan menu makanan dan minuman yang kandungan gizinya sesuai dengan kaidah kesehatan. Dan yang lebih penting, buka puasa dan makan sahurnya bersama keluarga tercinta.