Mohon tunggu...
Liky Ledoh
Liky Ledoh Mohon Tunggu... Ilmuwan - peneliti

married, civil servants and interisti. masih belajar untuk fokus...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Belajar Keberagaman dari Alam

26 April 2018   16:58 Diperbarui: 26 April 2018   17:42 454
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Keberagaman dalam Jaring Kehidupan (sumber: https://hedgiejim.files.wordpress.com/2016/01/foodweb.jpg?w=640)

KEBERAGAMAN menjadi berkah sekaligus ujian bagi Bangsa Indonesia. Sebagai warisan dari nenek moyang, keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang patut dibanggakan. Akan tetapi hal ini juga seolah menjadi titik lemah. perbedaan ini juga yang membuat masyarakat mudah dipecah belah dan diadu domba oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Pembakaran rumah ibadah dari Aceh hingga Papua, gangguan beribadah oleh ormas tertentu hingga ujaran kebencian melalui media sosial adalah buktinya. Akan tetapi, bila persatuan itu terbentuk dalam keberagaman akan menjadi kekuatan yang sulit ditaklukan. Bahkan sekaligus membentuk keindahan yang mempesona bagaikan alam yang membusurkan pelangi sehabis hujan.

Seperti halnya Indonesia, keanekaragaman di alam sudah menjadi bagian sejak dunia ini ada. Alam menunjukan bahwa semua makhluk termasuk manusia tidaklah seragam. Jutaan spesies makhuk hidup dan begitu banyak benda di alam ini hidup dalam satu kesatuan. Tidak ada setiap makhluk yang identik bahkan kandungan unsur hara di setiap wilayah berbeda. Ini membuat setiap menusia, hewan, tumbuhan dan suatu daerah memiliki ciri khas yang unik.

Alam menunjukkan keberagaman yang saling mendukung dalam jejaring. Keberagaman alam ini bukan saling bersaing, tetapi menjadi bagian dari jaring kehidupan. Makin beragam makhluk di suatu wilayah maka alam makin stabil dan seimbang. Semua makhluk saling menghargai posisi masing-masing dalam jejaring ini. 

Hubungan antara makhluk di alam ini sering disebut sebagai jejaring makanan. Masing-masing makhluk saling bergantung satu sama lain. Bahkan dalam memenuhi kehidupannya tiada yang egois tapi saling berbagi. Fritjof Capra dalam bukunya The Web of Life (1996) menunjukkan bahwa dalam ekologi setiap obyek bukan terisolasi tapi saling berhubungan dan saling bergantung. Begitu juga manusia merupakan satu untaian dalam jaring kehidupan (the web of life) dari ekologi tersebut. 

Sebagai jejaring, saat ada bagian yg hilang/terganggu, akan membuat semua bagian merasakannya. Ketika terjadi potongan pada jaring kehidupan tersebut karena hilangnya salah satu jenis makhluk maka terjadi ketidakseimbangan pada alam. 

Seperti jumlah tikus yang meningkat karena hilangnya predatornya seperti ular dan burung hantu. Begitu juga belalang, tomcat atau wereng yang populasinya meledak menjadi hama saat predatornya menghilang. Diakui bahwa alam dapat berdaptasi untuk menyeimbangkan dirinya tapi daya lenting tersebut memiliki batas-batas tertentu.

Ecosophy

Nyata bahwa alam bukan untuk satu makhluk saja. Alam merupakan rumah bagi semua makhluk hidup maupun mati. Alam juga tidak untuk memuaskan kepentingan manusia, tetapi menjadi bagian pemenuhan kebutuhan manusia. Manusia harus menyadari posisinya di alam ini bukan yang paling utama dan mengeksploitasi berlebihan. Arne Naess seorang filsuf Norwegia pada tahun 1973 memperkenalkan istilah Ekologi Dalam (Deep Ecology) yang menggambarkan alam ini merupakan suatu kesatuan yang saling menyokong. Pada perkembangannya Naess kemudian merumuskan suatu paradigma baru dalam memandang alam yang disebut Ecosophy.

Platform aksi Ekologi Dalam yaitu ecosophy ini merupakan bentuk kearifan mengatur hidup selaras dengan alam. Platform ini menyentuh semua masalah utama baik pribadi, sosial, politik, ekonomi dan filosofis berkaitan dengan lingkungan hidup (Keraf, 2010). Penekanannya adalah bagaimana manusia melihat nilai-nilai dari alam ini dan hidup pada nilai tersebut. Seperti hidup sederhana dan tidak berlebihan serta menerima dirinya merupakan suatu bagian dari keberagaman.

Mengembalikan alam mengelola dirinya dengan kebijaksanaannya sendiri. Masing-masing makhluk memanfaatkan alam sesuai kebutuhannya. Begitu juga manusia, tidak hanya memandang alam untuk kepentingan sendiri, tapi manusia ada untuk kepentingan alam. Kesatuan dengan alam seperti pada norma adat yang dikembangkan berbagai suku di dunia. 

Hal ini terlihat pada bagian awal dari pidato Aleta Baun di World Culture Forum pada bulan Oktober 2016 di Nusa Dua Bali. "Fatu, nasi, noel, afu amsan a'fatif neu monit mansian" (batu, hutan, air dan tanah bagai tubuh manusia). Prinsip masyarakat Molo, Kabupaten Timor Tengah Selatan-NTT ini mengingatkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat berbagai anggota tubuh yang berbeda fungsi tetapi tidak merasa lebih penting dari lainnya. Kaki, telinga, jantung dan otak tidak dapat mengklaim dapat hidup mandiri. Bahkan anggota tubuh yang paling lemahlah yang paling penting dan wajib dilindungi oleh anggota tubuh lainnya. Pada saat itulah terjadi keseimbangan pada alam dan memahami tidak mungkin dapat hidup sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun