Mohon tunggu...
Lia Wahab
Lia Wahab Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Ibu rumah tangga yang pernah berkecimpung di dunia media cetak dan penyiaran radio komunitas dan komunitas pelaku UMKM yang menyukai berbagai jenis kerja kreatif

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Menyikapi Si Jinak Merpati, Walau Jinak Menyimpan Api

10 Oktober 2019   02:15 Diperbarui: 24 Oktober 2019   19:39 0 0 0 Mohon Tunggu...
Menyikapi Si Jinak Merpati, Walau Jinak Menyimpan Api
Sebuah lahan yang terbakar di Sumatera Selatan tahun 2015. Sumber: Koleksi Foto Pribadi

Sudah lazim di setiap hadirnya asap di area hutan dan lahan, mereka yang berkecimpung di penanganan bencana dan pelestarian hutan akan kelimpungan. Merekalah yang berada di garis depan upaya pemadaman api bersama masyarakat sekitar lahan. Butuh puluhan ribu kubik air untuk memadamkan api, itupun tidak jadi jaminan. 

Diperlukan banyak strategi tanggap darurat untuk menghentikan segera dampak negatif dari asap yang ditimbulkan. Dan diperlukan juga upaya penyelamatan satwa hutan khususnya satwa yang dilindungi dari amukan api. Tidak mudah prosesnya, itu sudah jelas. Tapi, mengapa hujatan dan ketidakpercayaan pada pihak-pihak yang menanggulangi masih terdengar?


Di tahun 2019 ini saja kebakaran hutan dan lahan beberapa kali terjadi di beberapa tempat. Seperti halnya di Pontianak yang sempat terjadi asap dari beberapa titik api yang menghilang karena guyuran hujan dan pada 26 September 2019 kembali terjadi lagi. Kabut asap pun menyelimuti kota khatulistiwa ini. Hasil pantauan Stasiun Meteorologi Kelas 1 Supadio, Pontianak dari BMKG diketahui ada 228 titik panas di sekitar Kalimantan Barat hingga 26 September 2019.


Upaya teknologi modifikasi cuaca oleh BMKG telah mengurangi level kabut asap yang sempat mencapai level serius dan membahayakan. Penurunan level kabut asap ini telah membantu kerja BNPB dan pihak lainnya dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Meskipun begitu, menurut Kepala BNPB Doni Modardo, kondisi lahan gambut di Indonesia yang kedalaman keringnya bisa mencapai 36 meter berpotensi menyimpan bara api.


Kondisi yang ada di tahun 2019 mirip dengan apa yang terjadi di tahun 2015 dimana hampir semua daerah mengalami pengurangan debit air di permukaan dan kekeringan terjadi di hampir semua lahan gambut. Selang air ribuan kubik dan helicopter bomber pun tak mampu memadamkan bara yang tersimpan.


Yang terjadi di Riau di tahun 2019 ini adalah hampir 2 bulan kabut asap menyelimuti di bulan Agustus dan September yang akhirnya menurun signifikan setelah penanganan semua pihak terutama ketika pemerintah pusat mengomandoi langsung kerja bersama antara Pemda, TNI, BNPBD, Polisi Hutan dan Dinas Kehutanan setempat. Yang terjadi selama ini adalah kurangnya sinergi dari elemen di daerah dalam tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan.


Meskipun begitu, penilaian masyarakat yang memandang buruk kinerja pemerintah pusat tak dapat dibendung. Padahal, jika semua elemen daerah bergerak cepat, lahan gambut tidak akan menimbulkan masalah kabut asap yang serius.


Indonesia termasuk hebat dalam penanganan dan penanggulanan kebakaran yang terjadi di lokasi lahan gambut. Kedalaman struktur gambut di tanah yang ada di lain umumnya hanya berkisar 2-5 meter tapi Indonesia memiliki lahan gambut yang sangat tebal. Pemadaman bara api dengan kedalaman ekstra adalah tantangan yang istimewa bagi negara kita.


Musim kemarau yang panjang dan pola penyikapan lahan yang masih agak konvensional dan mengutamakan vegetasi yang memerlukan pembakaran lahan dalam peremajaannya membuat siklus resiko lahan terbakar masih terus berlanjut. 

Butuh kesabaran dan strategi jitu menghadapinya. Selain itu, indikasi permainan oknum di lapangan membuat ruang gerak mafia lingkungan semakin leluasa. Rasanya nyinyiran tanpa solusi adalah perbuatan yang paling tidak prihatin dan berempati pada situasi saat ini. Semoga lahan gambut kita yang potensial ini bisa lebih membawa berkah ketimbang musibah.