Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Artikel Utama

Berapa Usia Bajumu yang Paling Tua?

12 Juni 2019   07:30 Diperbarui: 12 Juni 2019   20:01 0 48 29 Mohon Tunggu...
Berapa Usia Bajumu yang Paling Tua?
Ilustrasi Pakaian (Thinkstockphotos) | Kompas.com

Baju-baju Lama itu Sering Dipakai
Lebaran 2019 telah berlalu. Sebagian dari kamu masih mengingat saat-saat menghabiskan waktu di rumah orang tua saat mudik. Makan panganan nostalgia. Membuka almari di rumah orang tua dan menemukan baju lamamu yang masih tampak keren, mencobanya dan mempertimbangkannya untuk mengenakannya kembali?.

Dan kamu lalu berpikir betapa klasiknya pilihan bajumu dulu. Betapa tidak? Baju putih dengan model sederhana yang kau beli 10 tahun atau bahkan 20 tahun lalu masih bisa dikenakan dengan cantik di masa kini? Jahitan masih rapi dan, ya, ini 'vintage'.

Ilustrasi Fesyen Lambat (trustedclothes.com)
Ilustrasi Fesyen Lambat (trustedclothes.com)
Baiklah, mumpung kamu masih dalam romantisme lebaran, coba ingat berapa usia bajumu yang tertua yang masih kau kenakan akhir akhir ini? 2 tahun? 5 tahun? 10 tahun? Lebih dari 10 tahun?.

Untuk saya, terdapat beberapa baju tua yang kadang kadang saya masih kenakan. Terdapat setelan jas dari bahan linen warna krim bermerek terkenal yang saya beli dari seorang kawan berkebangsaan Kanada sekitar 21 tahun yang lalu. Setelan jas itu terlalu kecil di tubuh kawan saya dan akhirnya sepakat dipindahkan tangan hanya dengan harga persahabatan $20 Kanada di tahun 1998.

Selain itu, terdapat blus sutera alam warna hitam yang saya buat di penjahit langganan saya sekitar 20 tahun yang lalu. Dan, tentu saja 'Scarf' batik indigo dari bahan serat nanas favorit berusia 15 tahun, yang saya beli dari galeri batik dengan pewarna alam yang memberdayakan lebih dari 200 pembatik di wilayah Yogya milik kawan saya. Karena sering sekali dipakai, 'scarf' indigo itu banyak muncul menemani saya di banyak peristiwa kerja maupun di acara jalan jalan.

Scarf yang sama di tahun 2010 dan 2018 (Dokumentasi Pribadi)
Scarf yang sama di tahun 2010 dan 2018 (Dokumentasi Pribadi)
Ada pula beberapa kain batik tua hadiah ibu saya yang saya pakai berganti ganti untuk acara resmi undangan perkawinan. Kain kain batik antik itu dibeli dari pembatik Imogiri sekitar tahun 1970-an. Karena usaianya yang tua dan biasanya rapuh, saya tidak mengenakannya untuk baju melainkan lebih banyak saya pakai sebagai 'scarf' besar.

Untuk awetnya baju baju yang saya pakai, mungkin saya perlu memberi pujian pada diri saya sendiri bahwa pilihan baju saya adalah 'klasik', alias itu itu saja. Atau, jangan jangan saya hanya sekedar berselera kuno dan terlalu pelit berbelanja baju. Haha...

Namun pada akhirnya saya mengapresiasi diri saya sendiri. Walau sederhana dan tidak berharga mahal, baju baju berusia tua yang masih saya kenakan itu memiliki kualitas cukup baik.

Bahan baju-baju adalah katun atau dari materi berbahan natural dari alam, dengan jahitan yang baik. Barulah pada akhir akhir ini, selera saya yang 'kuno' ini mendukung gerakan 'slow fashion' atau fesyen lambat, yang menjadi bagian dari fesyen beretika dan berkelanjutan. Ini menjadi hal yang cukup penting di tengah maraknya 'fast' fashion' atau fesyen cepat yang menggejala sekitar 3 sampai 5 tahun terakhir.

Biaya dari Fesyen Cepat. 
Akhirnya kita harus mendiskusikan apa itu "Fesyen Lambat" dan Cepat. Dalam dunia fesyen terdapat apa yang disebut Fesyen Cepat. Ini adalah desain baju yang setelah diluncurkan melalui acara peragaan busana bisa langsung dinikmati di gerai greai di sekitar kita untuk menjadi tren. Fesyen cepat memungkinkan konsumen untuk membeli baju yang ngetren dengan harga terjangkau. 

Sementara, persaingan di antara pengusaha dan merek dari Fesyen cepat ini tajam. Untuk menjawab kebutuhan permintaan pembeli, produksi dilakukan besar besaran dan harga ditekan sedemikian rupa agar terjangka.

Beberapa contoh industri Fesyen Cepat adalah H&M merek dari Swedia, UNIQLO merek dari Jepang, GAP dan Forever 21 dari Amerika Serikat dan Topshop dari Inggris. 

Produk-produk ini cepat sekali mengganti rak dan ruang pajang pusat belanja dengan produk yang berganti cepat. Perputaran barang terus dijaga sehingga barang tidak teronggok lama di toko-toko. 

Thebeam.com
Thebeam.com
Industri ini memang dirancang untuk membuat pembeli tertinggal dari tren bila tidak membeli lagi model yang baru diluncurkan. Ini adalah apa yang dipakai oleh milenial.

Dalam analisis rantai nilai, perusahaan perusahaan ini tentu berkilah bahwa mereka menggunakan cara cara inovatif agar dapat menekan harga. Apa itu?.

Tentu bisa dibayangkan bahwa proses produksi yang menekan harga sedemikian rupa sering kali banyak 'menyakiti' pekerja. Upah rendah, dan sering disubkontrakkan dengan tanpa memastikan proses produksi dilakukan dalam lingkungan yang kondusif atau tidak. Bagi mereka, yang terpenting produk diciptakan dengan harga murah.

Ketika berbicara soal biaya produksi rendah, kita akan sampai pula pada banyak kasus adanya pekerja rumahan. Pekerja ini adalah keluarga yang biasanya hidup di perkotaan miskin 'slum' yang tinggal di bedeng bedeng kecil. 

Di sini akan kita temui keluarga, biasanya ibu dan anak anak perempuan bekerja siang malam mengerjakan borongan jahitan atau pemasangan potongan kain untuk baju baju itu.

Dalam situasi ini, lingkungan kerja yang menjamin keamanan dan kesahatan pekerja tidak lagi menjadi bagian dari tujuan. Sementara, proses produksi jauh dari jangkauan pengawasan pemerintahpun.

Pelanggaran pelanggaran pada hak perempuan dan anak pada proses poduksi ini mudah terjadi. Bahkan, studi yang dituliskan oleh Forbes menuliskan bahwa Fesyen Cepat menjebak keluarga miskin, khususnya perempuan dan anak perempuan untuk menjadi le bih miskin. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3