Mohon tunggu...
Leonardo De Chanell
Leonardo De Chanell Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa S1 Hospitaliti dan Pariwisata Angkatan 2017

Mahasiswa Penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud Program Transfer Kredit Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti dan Burapha Business School, Program Studi S1 Hospitaliti dan Pariwisata Angkatan 2017.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Body Positivity atau Toxic Positivity? Jangan Sampai Tertukar!

27 Agustus 2021   18:09 Diperbarui: 27 Agustus 2021   19:57 920
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Belakangan ini banyak sekali influencer dan public figure yang menggembor-gemborkan masalah Body Positivity yang mengatakan bahwa semua bentuk tubuh itu indah, semua warna kulit itu cantik, semua orang memiliki wajah yang cantik.

Pernyataan tersebut tentunya sama sekali tidak salah, namun nyatanya banyak warganet yang memiliki persepsi berbeda mengenai body positivity dan bahkan banyak yang salah paham dengan konsep Body Positivity ini sendiri sehingga berakhir menjadi toxic atau racun dalam komunitas.

Menurut penulis, Body Positivity adalah bagaimana kita bisa menghargai tubuh kita sendiri tanpa membanding-bandingkannya dengan orang lain atau Beauty Standard yang sudah dibuat oleh peradaban manusia.

Menghargai? Berarti bagaimanapun bentuk, warna, dan kesehatannya harus diterima mentah-mentah saja dan tidak melakukan perubahan dong? Tentu tidak. Menghargai disini berarti kita  merawat tubuh kita dari ujung rambut sampai ujung jari kaki dengan baik. Menghargai bukan berarti sekedar menerima kondisi kita sekarang dan tidak berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. 

Eits, tapi jangan salah paham, lebih baik disini tidak selalu berarti lebih langsing, lebih putih, lebih mulus seperti standar kecantikan yang ada, tetapi lebih sehat.

"Kenapa penting untuk merawat tubuh kita? semua bentuk dan warna 'kan cantik?"

Memang benar, semua bentuk dan warna itu cantik. Namun, ketika kita "menghalalkan" gaya hidup yang tidak sehat dan beranggapan bahwa tubuh yang kita dapatkan dari gaya hidup tersebut adalah cantik apalagi mendukung orang lain untuk mempunyai gaya hidup tidak sehat, inilah yang membuat positivity menjadi toxic.

Gaya hidup yang tidak sehat seperti apa yang bisa berdampak pada tubuh? contohnya: terlalu banyak makan junk food, kebiasaan bergadang, merokok, minum alkohol, tidak pernah berolahraga. 

Bukan hanya berdampak kepada fisik kita saja, tapi juga bisa memengaruhi bagian dalam tubuh kita yang tidak terlihat seperti kesehatan jantung, paru-paru, kadar kolestrol/gula, dll.

Sumber: Unsplash
Sumber: Unsplash

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun