Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Beri Dukungan Psikologis pada Orang yang Batal Menikah

11 Januari 2020   06:00 Diperbarui: 11 Januari 2020   06:15 302
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seorang wanita, sebut saja Adela, tiba-tiba ditinggalkan calon suaminya. Si calon suami memutuskan membatalkan pernikahan sebulan sebelum hari H. Pada saat makan malam keluarga, Adela dan ibunya mengumumkan dengan berat hati tentang batalnya pernikahan itu.

Adela sangat tertekan. Dirinya stress dan patah hati. Hal yang paling tak tertahankan oleh Adela adalah pertanyaan dari teman-teman kantornya. Mereka menanyai Adela tentang pernikahan. Lantaran tidak kuat, Adela memutuskan resign dan pindah ke luar kota.

Hmmm, ini kasus kedua yang ditemui Young Lady cantik. Jaraknya hanya empat bulan dari kasus pertama.

Apa alasan orang membatalkan pernikahan? Ketidakcocokan, perselingkuhan, pemalsuan identitas, diam-diam telah menikah dengan orang lain, restu orang tua, dan setumpuk alasan lainnya.

Apa pun alasannya, pembatalan pernikahan sangat tidak baik untuk dilakukan. Efeknya jangka panjang berupa trauma, depresi, dan kehilangan semangat. Hal itulah yang diutarakan psikolog klinis Ayu Sutomo, M.psi. Efek berupa trauma dan kehilangan semangat rentan dialami wanita yang tidak kuat ketahanan psikologisnya.

Dari mana kita tahu ketahanan psikologis kita kuat? Dari cara kita memandang diri sendiri, cara menghadapi masalah yang terjadi, dan cara menghadapi pandangan di lingkungan sosial.

Dari pada mencibir dan menghakimi, lebih baik kita beri dukungan psikologis pada orang yang batal menikah. Yang pertama harus kita lakukan adalah jangan mengungkit-ungkit seputar rencana pernikahan.

Jangan sebut masa lalunya. Jauhkan dia dari hal-hal yang membuatnya teringat bakal calon suami/istri yang gagal. Hindari bertanya tentang pernikahan dan sebab batalnya pernikahan. Namun, beri dia kesempatan untuk bercerita jika dia menginginkannya.

Selanjutnya, ajak dia mencari suasana dan kegiatan baru. Orang yang batal menikah cenderung terpuruk dan kehilangan semangat. Hal itu mempengaruhi produktivitasnya. Ajaklah ia mencari suasana baru. Misalnya dengan berlibur atau melakukan hobi baru yang disukainya.

Setelah si korban teraniaya menemukan kenyamanan kembali, bimbing mereka untuk menerima kenyataan dan melanjutkan hidup. Bantu mereka untuk menerima kasus pembatalan pernikahan sebagai masa lalu, tetapi cegah mereka untuk menoleh ke belakang. Terus dorong mereka untuk melanjutkan hidup tanpa dirisaukan masa lalu yang kelam.

Saat kondisi dia terpulihkan, bantulah untuk move on dan menemukan pengganti. Salah satu cara untuk menautkan hati yang patah adalah dengan menemukan cinta yang baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun