Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Resensi Novel Ayah, jika Sabari adalah Calvin Wan

10 Februari 2019   06:00 Diperbarui: 10 Februari 2019   06:14 178 27 14
Resensi Novel Ayah, jika Sabari adalah Calvin Wan
Detik.com

Judul buku: Ayah

Penulis: Andrea Hiratta

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun terbit: 2015

ISBN: 9786022911029

Jumlah halaman: 412

Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya. Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. 

Kalau malam Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar nanti. Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota.

Novel ini sukses membuat Young Lady cantik meneteskan air mata. Young Lady tuntas membacanya satu setengah hari, ditemani Melukis Bayangmu dari Adera. Sejak membaca karya ke9 Andrea Hiratta ini, Young Lady makin takut terpisah dari malaikat tampan bermata sipit "Calvin Wan".

Pertama kali mendapat kabar tentang terbitnya novel ini, Young Lady cantik menduga Andrea Hiratta menceritakan sosok ayahnya yang sangat ia banggakan. Asumsi Young Lady meleset. Ternyata ia menceritakan ayah tangguh bernama Sabari.

Ya, Sabari. Pria tak rupawan tapi luar biasa penyayang. Seorang pecinta sejati. Bayangkan, Sabari mencintai seorang perempuan cantik bermental player bernama Marlena. Pertemuan mereka begitu ganjil. Marlena, yang tidak jujur karena suka menyontek itu, merampas kertas ujian Sabari lalu menyalin semua jawabannya. Akibat pertemuan itulah titik balik dalam hidup Sabari.

Menurut Young Lady, Marlena perempuan beruntung tapi tak tahu diri. Beruntung karena ia dicintai pria yang begitu baik. Tak tahu diri karena ia menyia-nyiakan Sabari. Sabari melakukan apa pun untuk merebut hati Marlena. 

Sampai-sampai dia bekerja di pabrik milik Markoni, ayah Marlena, agar bisa lebih dekat dengan perempuan binal itu. Sayangnya, apa pun yang dilakukan Sabari tak sedikit pun meluruhkan kebencian Marlena.

Puncaknya, Marlena hamil. Biasalah, akibat pergaulan bebas. Oh my God, Sabari pun bersedia menikahi Marlena! Kurang baik apa coba?

Tak hanya itu, Sabari pun mencintai anak yang dilahirkan Marlena. Zorro, nama anak itu. Meski Zorro bukan anak kandungnya. Waktu Zorro masih kecil, Sabarilah yang merawatnya. Memeluk, mendongeng, menyitir puisi, membuatkannya susu, dan mengajaknya ke taman kota tiap sore. Hello Marlena, where are you?

Perempuan stupid itu baru muncul lagi untuk mengambil Zorro. Dibawanya Zorro hidup berpindah-pindah dan menjalani masa kecil yang tak menentu. Sementara itu, hati Sabari hancur saat Zorro dibawa pergi. Ia figur ayah lembut, sabar, peka, dan perasa.

Kekurangan buku

Eits, nggak apa-apa ya Young Lady sebut kekurangannya dulu. Banyak adegan tidak penting yang seharusnya bisa dibuang. Misalnya, adegan adu cepat antara Sabari yang berjalan kaki, Zuraida yang bersepeda, dan juru antar surat pengadilan yang naik motor. 

Lalu adegan perdebatan tak penting Ukun vs Tamat, mestinya bisa dihilangkan. Tokoh-tokoh figuran tak penting pun akan lebih baik bila ditiadakan saja supaya cerita bisa lebih fokus pada Sabari, Izmi, Zuraida, juru antar surat, Jon gitaris, dan Makmur Manikam. To be honest, kehadiran mereka mengganggu Young Lady saat membacanya. Young Lady ingin terus terfokus pada Sabari.

Lalu, eksplorasi interaksi Zorro dan Sabari masih kurang banyak. Jika pola hubungan ayah dan anak itu bisa diperdalam lagi, dan intensitasnya dinaikkan lagi, akan lebih menyentuh. Kisah Sabari ini sudah sangat mengharukan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2