Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"One Day One" Porsi, Memberi Makan Kaum Akar Rumput

25 November 2018   06:00 Diperbarui: 25 November 2018   06:02 517
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pagi ceria begini, kita ngobrol yang ringan-ringan aja ya Kompasianers. No politik, no SARA, no cinta-cintaan...yeeeeaaaay.

Kali ini, Young Lady cantik mau bagikan sedikit hal inspiratif. Taraaaaaa......berbagi! Berbagi? Kok berbagi sih?

Berbagi itu nggak buang waktu percuma loh....kayak lagunya Marion Jola. Justru berbagi itu mengajarkan arti hidup. Berbagi setiap hari itu indah.

Setiap hari adalah baik. Namun, masih saja ada segelintir orang yang mempercayai hari-hari tertentu lebih baik dari hari lainnya. Seperti misalnya, Hari Jumat yang dianggap lebih baik dari hari lainnya di mata banyak umat Islam.

Jumat jadi hari identik hari berbagi buat Young Lady cantik. Eits, tapi itu dulu. Trus sekarang gimana? Jadi nggak berbagi lagi gitu?

Oh, big no. Sekarang, Young Lady punya program berbeda. Bukan hanya Hari Jumat yang jadi ajang berbagi, tapi setiap hari! Iya, setiap hari.

Katakanlah program Young Lady ini one day one porsi. Kan banyak tuh jenis one day-one day lainnya. Ada one day one juz, one day one ayat, one day one book, sampai one day one article. Nah kalau yang terakhir itu, dulunya dilakukan seorang Kompasianer tampan yang sekarang tidak lagi melakukannya...#SentilCalvinWan

Kalau Young Lady, biarin one day one porsi ajalah. Kenapa porsi? Cause fokusnya Young Lady tuh kasih porsi makanan buat kaum akar rumput. Seringnya sih tukang becak. Pemulung ada juga. Penyapu jalan, kadang-kadang saja kalau lewat.

Setiap hari, kecuali Hari Jumat, setidaknya ada satu sampai empat porsi makanan dibagikan untuk kaum akar rumput. Barulah pada Hari Jumat berbagi porsi besar seperti biasa. Rasanya ada percikan damai di hati.

Berbagi jadi pelampiasan cinta dan kasih. Buat wanita-wanita cantik yang sering kesepian kayak Young Lady, berbagi makanan pada kaum akar rumput menjadi bentuk pelarian dari rasa sepi yang membekap jiwa. Damainya hati ketika menyusuri jalan dan membagikan porsi demi porsi makanan. Senang melihat senyuman tergurat di wajah lelah mereka. Bayangkan, orang-orang yang bekerja keras di jalanan, bermandi matahari dan hujan, kelaparan, susah payah mencari uang demi memberi makan diri dan keluarga, mendapat seporsi makanan. Bahagianya luar biasa. Very very precious buat mereka.

Mengapa harus makanan? Mengapa tidak uang saja? Sekali lagi, Young Lady masih berpegang pada prinsip memberi uang tidak mendidik. Uang cepat habis, pemberiannya takkan membekas. Berbeda dengan makanan. Kebutuhan paling pokok, kebutuhan yang paling terasa ketika rasa lapar hadir. Pemberian makanan akan lebih membekas dibandingkan uang.

Young Lady selalu bahagia saat berbagi. Walau masih ada sepercik rasa kesepian di hati. Karena tak semua orang memahami Young Lady.

Selalu ada rasa bersalah tiap kali tak sempat berbagi. Bila bukan masakan rumahan, membeli makanan di luar lalu dibagikan bisa jadi alternatif. Kalau sedang sibuk-sibuknya, membagikan mie instanlah jalan pintasnya. Tapi, itu jarang dan memang sengaja begitu. Mie instan tidak sesehat makanan rumahan atau makanan rumah makan.

Sama sekali tak terpikir di benak Young Lady untuk berhenti. Ingin terus melakukan, dan menebarkan virus kepedulian itu pada semua orang. Young Lady menulis cantik di sini juga untuk menebar virus kepedulian. Come on, guys. Dari pada menebar kebencian, lebih baik menebar kepedulian. Dari pada membuang-buang makanan, lebih baik berbagi makanan. Kompasianers, sudahkah kalian menyisihkan makanan kalian untuk dibagikan pada kaum akar rumput?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun