Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Tulang Rusuk Malaikat] Doa Lintas Agama, Seuntai Pilihan

9 November 2018   06:00 Diperbarui: 9 November 2018   11:06 578 21 18
[Tulang Rusuk Malaikat] Doa Lintas Agama, Seuntai Pilihan
pixabay.com

Ombak menghempas bibir pantai. Gradasi jingga-kemerahan melukis langit pagi. Di pagi pertamanya kembali ke rumah mewah tepi pantai, Abi Assegaf berkeras ingin melihat sunrise. Arlita tak kuasa menolak. Ia pun memapah suaminya ke pinggir pantai.

"Keras kepala..." maki Arlita dalam bisikan.

Abi Assegaf menghela nafas. Ingin rasanya ia lepas selang oksigen itu. Bukakah tak baik bergantung pada alat medis penunjang hidup?

"Siapa tahu ini pagi terakhirku. Belum tentu besok pagi aku bisa melihat sunrise seperti sekarang."

Suara lembut Abi Assegaf mengoyak perih hati Arlita. Tidak, jangan dulu ambil suaminya. Mereka belum lama rujuk. Akankah detik waktu segera berakhir? Kristal bening berbayang di mata Arlita. Kakinya sedikit goyah. Buru-buru ia menguasai diri. Ia harus tetap menopang tubuh tinggi Abi Assegaf.

"Assegaf, kau harus kuat demi anak-anak kita...ingat, Syifa dan Adica masih butuh kamu."

Adica meletakkan sejenak beban kesedihannya. Siapa anak yang tak sedih saat ayahnya divonis kanker paru-paru? Sebentuk janji terpatri kuat di hatinya. Dia takkan meninggalkan Abi Assegaf untuk alasan apa pun. Bahkan dia telah memohon pada Dokter Tian agar dibolehkan kemoterapi di rumah saja. Semua peralatan medis dibawa ke rumah. Alat-alat medis untuk membantu proses pengobatan Adica dan Abi Assegaf. Katakanlah lantai tiga bertransformasi layaknya rumah sakit mini.

Mengapa bahagianya hanya sesaat? Baru saja sekeping bahagia hadir, kini kembali direbut penyakit ganas. Dan mengapa harus Abi Assegaf? Hatinya berteriak, bertanya pada langit. Adica lebih rela dirinya kena komplikasi dibandingkan menelan kenyataan pahit sakit itu menjalari tubuh Abinya. Sudah cukup kehilangan Michael Wirawan merampas pelangi hidupnya.

Pelan diletakkannya gelas kosong itu. Diremasnya bungkusan obat, lalu dilangkahkannya kaki ke built-in-clothes. Ia ambil Versace Suites for Men, dikenakannya dengan rapi. Waktunya tak banyak.

"Waktuku mungkin tak banyak, Arlita. Logikanya beginiL sudah terlambat aku tahu kalau aku terkena kanker. Makin lanjut stadiumnya, makin sulit diobati." Abi Assegaf berbisik pelan. Bersandar di pelukan Arlita.

"Tidakkah kau ingin bertahan dan bersemangat untuk sembuh demi anak-anak kita?"

Debur ombak menjilat pasir. Pagi membubung tinggi. Abi Assegaf mengeratkan pelukannya. Istrinya benar. Ia sangat mencintai Adica dan Syifa. Seharusnya, dua permata hati bakal menjadi benteng terbesar semangat hidup.

The power of kepepet, it's true. Semangat hidup Adica terus membesar. Bukan, bukan karena optimis akan segera sembuh. Tetapi ini demi Abinya. Setelah memastikan penampilannya rapi, Adica melangkah turun ke lantai bawah. Ia menjumpai Syifa di ruang depan. Gadis itu tampil dalam balutan gaun hitam Dolce and Gabbana. Make upnya pucat. Amat pas dengan suasana hatinya.

Dengan lembut, Adica memeluk pundak Syifa. Dibisikkannya kata-kata motivasi. Dimintanya gadis itu tetap kuat. Syifa bersandar sesaat dalam dekapan Adica. Ia terisak tertahan.

**    


Awalnya ku tak bermaksud apa pun

Saat ku kenal dirimu

Kita hanya saling bercerita

Tentang ku dengannya kau dengan dia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4