Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tangan Malaikat Tampan Bermata Sipit di Atas Piano Putih

13 Juni 2018   05:22 Diperbarui: 14 Juni 2018   14:56 508 17 12

Silvi tak mengerti apa sebabnya bisa terlahir di keluarga ini. Keluarga berdarah biru namun masih tersisa sedikit campuran darah Belanda. Sederhana saja keluarganya, Islam agama yang mereka peluk, tapi ekspresifnya keterlaluan. Apa-apa harus diekspresikan.

Lihat saja sekarang. Rumah begitu berantakan jelang Eid Mubarak. Lantai menjadi sangat kotor. Tumpahan tepung, keju, coklat, dan susu tercecer dimana-mana. Anak kecil, orang-orang dewasa, dan para tetua dalam keluarga berkumpul membentuk keributan luar biasa. Mereka berbicara bahasa aneh, lengkap dengan tatacaranya yang juga aneh. Harus pakai kata ini kalau bicara dengan yang lebih tua, kata itu jika lawan bicaranya lebih muda. Membingungkan, Silvi tak pernah memahami Kromo. Ia malah menyukai bahasa dari negeri tanah air keduanya.

Lebih ganjil lagi, keluarganya bicara Kromo Inggil yang sangat halus dan terstruktur. Tapi selera makan mereka sangat Western. Buktinya, Eid Mubarak tahun ini saja lebih banyak tersaji Western food dibandingkan makanan Indonesia. Tak lupa disajikan kue-kue khas negeri asal Herman Whilelm Daendels. Keluarga yang aneh.

Tak tahan berlama-lama di rumah, Silvi memutuskan menerima tawaran mengisi acara di hari ke28 Ramadan. Acara ini lebih mirip acara amal, semacam kegiatan sosial. Tidak ada feenya. Allah yang membayarnya dengan pahala.

Silvi sama sekali tak keberatan. Toh sudah lama ia berhenti melakukan kegiatan sosial sejak disibukkan urusan butiknya. Kini, iaa harus kembali menebar amal di bulan baik. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

"Silvi, ngapain sih keluar rumah? Bisa nggak ambil job-nya abis Eid Mubarak aja?" protes sepupunya sewaktu gadis cantik itu turun tangga dengan mengenakan gaun putih berhias mutiara yang sangat cantik.

"Aku kan udah terlanjur janji. Masa dibatalin?" Silvi berkilah, tersenyum terpaksa.

"Cancel aja nggak apa-apa sih. Lagian kan nggak ada..."

"Sssttt. Kerja di bulan puasa kok mikirin komisi sih? Tenang, Allah yang bayar."

Filosofis juga anak ini. Sudah belajar makna ketulusan dan meniatkan sesuatu karena Allah.

Deru mobil terdengar dari halaman depan. Teriakan seseorang menghentak lamunannya.

"Silviiiii! Tuh malaikat tampan bermata sipitmu datang!"

Nyaris saja si gadis bergaun putih terpeleset dari anak tangga. Kalau jatuh, bisa gawat. Minimal gegar otak, maksimal masuk ICU. Bagaimana bisa dia datang? Bukankah Silvi tak memberi tahunya soal ini?

"Ayo, ntar ditungguin lho. Keburu disambut your Mom yang over protektif. Aduh, mana pakai bawa bunga lily lagi. Romantis parah...dan jelas kaya. Buket bunga kan mahal."

Kaki Silvi serasa digantungi barbel ketika berjalan ke ruang tamu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Di dekat pintu, berdirilah sosok itu. Sosok tampan yang sangat dirindukannya. Benar saja, di tangannya tergenggam sebuket lily putih. Seputih warna jas yang dikenakannya.

Putih, Silvi tersentak. Tidak, tidak mungkin. Mengapa pakaian mereka bisa sewarna? Seakan telah saling berjanji.

"Calvin? Kok kamu tahu aku ada acara hari ini?" sapa Silvi setengah gugup.

Seraya memberikan buket bunga ke tangan Silvi, Calvin menjawab. "Tahulah. Kan aku pianis yang mengiringi kamu nanti."

Sepasang mata hijau itu melebar tak percaya. Kemudian bertemu pandang dengan sepasang mata sipit bening yang meneduhkan. Tergetar hati Silvi mendengarnya. Tak terbayangkan betapa nervousnya ia nanti.

**      

Chevrolet hitam itu melaju cepat di ruas jalan tol. Calvin berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Meski demikian, bayangan kesedihan tak dapat tertutupi. Ada sedih yang membayang. Ada luka yang tertoreh.

"Hei, are you ok?" usik Silvi lembut. Disentuhnya lengan Calvin.

"I'm good." sahut Calvin tanpa mengalihkan pandang dari jalanan di depannya.

"Kamu kayak lagi banyak pikiran. Ada apa sih?"

Sulit mengelabui Silvi. Sedikit saja ada yang berbeda dari Calvin, ia langsung bisa merasakan.

"Aku dilarang main piano sama keluargaku. Aku juga dilarang ketemu kamu. Tapi, ini kegiatan sosial. Kegiatan sosial yang kaitannya dengan Ivana."

Saat menyebut nama anak adopsinya, wajah Calvin berubah sendu. Teringat kematian tragis Ivana karena Limfoma, kanker kelenjar getah bening, dua tahun lalu.

"Sorry..." desah Silvi.

"No problem. Sudah berlalu." Calvin menepis lembut permintaan maaf gadis yang dicintainya.

"Kamu baik sekali, Calvin. Kemauanmu untuk bermain piano lagi di acara penggalangan dana untuk anak penderita kanker sangat mulia. Keputusanmu sudah benar. Oh ya, kenapa keluargamu melarangmu bertemu denganku?"

Embun beku menetesi hati Calvin. Dingin, sedingin respon keluarganya tadi.

"Mereka tak mau aku menikahimu. Kata mereka, kamu hanya...maaf, perempuan tak berguna dan bisa merebut hartaku. Padahal aku sama tak bergunanya. Dulu kuadopsi Ivana justru karena aku tahu aku tidak sanggup memiliki keturunan. Soal merebut hartaku...honestly, merekalah yang selama ini di bawah tanggung jawabku. Mereka yang lebih banyak menghabiskan harrtaku, bukan kamu."

Silvi terenyak. Kisah model opera sabun dan cheesy macam itu masih saja terulang di dunia nyata. Benar-benar klise.

"Mereka salah," gumam Silvi lirih.

"Kau sendiri yang bilang, 95% sudah yakin untuk tidak menikah. Aku sendiri juga tidak ingin menikah. Masih teringat Frater yang mengusirku di rumah retret saat Eid Mubarak tahun lalu..."

Kemuraman menggantung berat di udara. Ingin rasanya Silvi menangis saat itu juga. Ia ingin memeluk Calvin, menangis di pelukannya, membasahi jas putih mahalnya dengan air mata.

Di luar dugaan, mobil terhenti di tepi jalan. Sebuah tangan kokoh dan hangat mendarat di ubun-ubun Silvi. Disusul dekapan lembut dan wangi Blue Seduction Antonio Banderas.

"Kamu boleh menangis, tapi setelah acara ini selesai. Aku janji...akan menjadi tempatmu bersandar. Lenganku akan kugunakan untuk memelukmu. Tanganku akan menghapus air matamu. Bibirku untuk mencium kening dan menyentuh sisa air mata di wajahmu. Aku janji...tapi kumohon jangan menangis sekarang."

Bisikan lembut sukses membuat getaran keras di hati Silvi. Apa ini? Beginikah perlakuan laki-laki yang mengaku berniat 95% untuk tidak menikah? Ini berbahaya, sangat berbahaya.

**      

Nuansa white and silver mendominasi ballroom hotel. Kedatangan Silvi dan Calvin dalam balutan pakaian putih makin membius audience dengan kekaguman. Bidadari bergaun putih melangkah di samping kiri, malaikat tampan bermata sipit di samping kanan. Mereka berjalan bersama ke atas panggung, diiringi puluhan pasang mata sejumlah pengusaha dan konglomerat top di negeri ini.

Siapa sangka. Eksekutif muda dan blogger terkenal seperti Calvin Wan piawai bermain piano. Kalau Silvi yang bernyanyi untuk kegiatan-kegiatan sosial para pejabat dan pesta sosialite, itu sudah biasa. Tapi ini Calvin. Calvin Wan, si raja retail. Pemilik puluhan gerai supermarket yang khusus menyasar konsumen kelas atas. Blogger super tampan yang tulisan-tulisannya menyerbu kolom terpopuler di media jurnalisme warga ternama.

Silvi berdiri di tengah-tengah panggung. Kilatan lensa blitz ganas melahap tubuh langsingnya. Calvin duduk di kursi depan sebuah grand piano. Kedua tangannya ia letakkan di atas piano putih.

Sedetik. Tiga detik. Lima detik. Tujuh detik. Sepuluh detik, jemari lentik Calvin berlari lincah di atas tuts piano. Ia alunkan intro dengan presisi sempurna. Teknik permainan pianonya di atas rata-rata. Lebih dari sekadar bermain piano, ia pun mengaransemen musiknya. Menambahinya dengan sentuhan improvisasi di beberapa part.

Permainan piano Calvin sukses menghempas angan Silvi. Hatinya berdesir halus. Benaknya dipenuhi kekaguman. Usai intro, mulailah Silvi bernyanyi.

Telah lama sendiri

Dalam langkah sepi

Tak pernah kukira

Bahwa akhirnya tiada dirimu di sisiku

Meski waktu datang

Dan berlalu sampai kau tiada bertahan

Semua takkan mampu mengubahku

Hanyalah kau yang ada di relungku

Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta

Kau bukan hanya sekedar indah

Kau tak akan terganti (Kahitna-Takkan Terganti).

Gawat, Silvi telah melakukan kesalahan. Ia tidak melakukan eye contact pada audience. Mata hijaunya malah terarah lurus ke arah sesosok pria sangat tampan berparas oriental yang tengah bermain piano. Bukannya memandang audience, Silvi justru melayangkan pandang pada pianis yang mengiringinya.

Sudut mata Calvin berembun. Berpadu dengan kesakitan. Ada apa dengan Calvin? Mengapa ia kesakitan lagi? Apakah sel-sel yang mengganas di tubuhnya berulah lagi?

Calvin tetap bertahan di tempatnya. Walau rasa sakit terus menginvasi. Ingin sekali Silvi memeluk tubuh itu. Tubuh yang rapuh dan menunggu waktu.

**      

Janji harus ditepati. Sangat khas Calvin. Pria yang lahir di hari kesembilan bulan dua belas itu merengkuh Silvi erat. Ia biarkan Silvi menangis dalam dekapannya. Memeluk Silvi dan menjadi tempatnya bersandar menjadi pengalih dari rasa sakitnya sendiri.

"Calvin, seharusnya kau tak perlu bawa aku ke rumahmu. Bagaimana jika keluargamu tahu?" Silvi setengah terisak. Merasakan sensasi kehangatan sewaktu Calvin menghapus air matanya.

"Biarkan saja. Ini pilihanku."

Pilihan, lagi-lagi soal pilihan. Bila Calvin sudah memilih, sulit bagi siapa pun untuk mengintervensi pilihannya. Pendirian Calvin teramat kuat.

Calvin dan Silvi berpelukan erat di pinggir kolam renang. Jas putih dan gaun putih masih mereka kenakan. Langit malam di atas mereka menjadi saksinya.

"Aku sepi karena hatiku dipatahkan oleh seorang biarawan. Kamu sepi karena kematian anak adopsimu dan kenyataan akan kondisimu sendiri..."

"Iya, Silvi."

Refleks Silvi memeluk Calvin erat. Pelukan yang sangat erat, seakan tak ingin dilepas lagi.

"Calvin?"

"Ya Silvi?"

"Jangan tinggalkan aku."

Sungguh, Silvi sangat ketakutan. Ia takut kehilangan Calvin. Ketakutan yang sulit dijelaskan.

"Tidak. Aku tidak pergi. Aku tidak akan kemana-mana." ujar Calvin lembut, ada getaran aneh tertangkap dalam nada suaranya.

Air mata Silvi kembali jatuh. Ya Allah, mengapa ia sesedih ini? Mengapa ia takut kehilangan Calvin? Dan mengapa Calvin berjanji takkan meninggalkannya meski mengaku 95% tidak akan menikah? Mengapa pula harus 95%? Mungkinkah ada desakan takdir yang lain? Entahlah, hanya Maha Cinta yang punya jawabannya.

**