Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kembangkan Sikap Saling Pengertian, Haruskah?

15 November 2017   05:58 Diperbarui: 15 November 2017   06:02 489 25 22

Siapa bilang menulis dengan cantik itu hanya mencari kepuasan batin? Tidak hanya itu, Young Lady menulis cantik juga untuk pelarian. Pelarian dari rasa kesepian, frustrasi, perasaan tidak berguna, tidak dicintai, dan tidak dimengerti. Saat membuat artikel cantik ini, Young Lady merasa dua kali lipat lebih kesepian dari sebelumnya. Maaf jika artikel cantik ini menyinggung perasaan beberapa pihak. Sungguh, Young Lady tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Hanya sekadar ungkapan isi hati dan refleksi atas apa yang telah terjadi. Mendadak Young Lady jadi ingin nyanyi lagunya Glenn Fredly yang judulnya Akhir Cerita Cinta.

Ini semua gegara peristiwa kemarin. Saat keluarga disibukkan dengan persiapan pernikahan yang akan berlangsung bulan depan, tetiba saja salah satu anggota keluarga mengundang calon menantu untuk datang ke acara pernikahan itu. Kebetulan acaranya akan diadakan di kota kelahiran saya. Bukan di kota bunga tempat saya tinggal pastinya. Semua sudah setuju. Si calon menantu yang notabenenya kekasih salah seorang saudara saya, setuju saja. Ok, all clear.

Sesaat saya berpikir-pikir. Apakah ajakan dan undangan ini tidak terlalu berlebihan? Biar bagaimana pun, laki-laki itu masih jadi "calon". Belum sah menjadi suami saudara saya. Mengapa harus diajak? Toh dia bukan siapa-siapa. Tepatnya belum menjadi bagian dari keluarga besar.

Saya paham, undangan ini sebagai bentuk penghormatan bagi si calon. Artinya ia sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Sungguh, saya paham maksudnya baik. Saya coba mengingatkan, apa tidak sebaiknya dipikir kembali untuk mengundangnya? Bagaimana pun juga, dia masih orang luar. Nantinya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Apa yang saya terima sebagai balasan? Kemarahan besar dari keluarga saya. Iya Kompasianer, saya diserang oleh keluarga saya sendiri hanya karena laki-laki itu. Saya sebut dia laki-laki, karena kata 'pria' terlalu halus untuknya. Makna 'laki-laki' jauh lebih rendah dari 'pria'.

Saya dianggap iri. Mereka menganggap saya tidak bisa ikut senang dengan kebahagiaan orang lain. Tuduhan aneh-aneh dan tak pantas mereka layangkan pada saya.

Kompasianer, sungguh saya tidak bermaksud begitu. Saya tidak pernah iri. Logikanya begini. Jika saya iri, sudah dari dulu saya hancurkan hubungan saudara saya dengan pasangannya. Adanya mata yang tersembunyi bisa menuntun saya untuk berbuat jahat kalau mau. Namun saya tidak sejahat itu. Saya selalu mendukung dan mendoakan, seperti apa pun jadinya. Saya sama sekali tidak bermaksud iri atau menghalang-halangi. Kompasianer percaya maksud Young Lady, kan? Sungguh, maksud baik ini malah disalahartikan.

Sakit hati saya diperlakukan begitu. Pedih hati saya. Ingin rasanya saya menangis saat itu juga, namun saya tidak mau menunjukkan air mata saya pada siapa pun. Terlebih mata saya sakit saat itu. So, saya hanya diam. Tidak mengatakan apa-apa. Saat berusaha menjelaskan rasionalisasinya pun, percuma saja.

Mereka tak tahu betapa rapuhnya hati saya. Baiklah, terserah apa penilaian mereka. Bila mereka menilai saya iri dengan kebahagiaan orang lain, itu hak mereka. Yang penting Allah dan saya sendiri tahu, bahwa saya tidak pernah sedikit pun bermaksud iri.

Perasaan saya tak menentu. Hati saya pedih. Kalau hati saya sudah terlanjur pedih, akan sulit sekali sembuhnya. Saya tahu kondisi hati saya sendiri, tahu seberapa kekuatan dan kelemahannya. Itu sebabnya saya sulit percaya orang lain, karena ingin menjaga hati saya sendiri dari kemungkinan luka yang lebih dalam. Yang saya percayai seratus persen hanya Allah dan diri saya sendiri. Selebihnya, saya memilih tidak terlalu percaya. Bahkan terhadap keluarga dan orang terdekat saya sekali pun. Saya tidak ingin terlalu percaya.

Bukannya bermaksud mencari pembenaran atau mengingat-ingat kebaikan diri sendiri. Tapi, tidakkah keluarga saya melihat apa yang telah saya lakukan sebelum menilai negatif diri saya? Apa mereka sudah lupa? Benar kata seorang pria yang telah menemani dan membantu saya kembali lagi ke Kompasiana: lebih mudah mengingat hal negatif. Bagaimana dengan hal positif? Mudahkah dilupakan?

Siapa yang sering membangunkan shalat Tahajud? Siapa yang sering menjawab pertanyaan tentang Islam dan Al-quran saat mereka mulai belajar Islam? Siapa yang rutin mengingatkan untuk berbagi di Hari Jumat? Siapa yang paling sering membantu dan berusaha menolong sebaik-baiknya tiap kali ada acara keluarga? Siapa yang tetap rajin berpartisipasi di saat saudara-saudara lainnya hanya bermalas-malasan dan sibuk dengan kekasihnya masing-masing? Siapa yang mau menunggui salah satu anggota keluarga di rumah sakit semalaman setelah operasi? 

Siapa yang menunggu dan menjaganya sepanjang malam tanpa tidur sama sekali dan harus menahan ketakutan karena melihat berbagai penampakan makhluk halus di rumah sakit? Siapa yang sering mengalah dan mengorbankan kepentingan dan acara-acaranya demi acara keluarga? Siapa yang merelakan pesta di hari ulang tahunnya ditukar dengan perayaan kecil dan sederhana di rumah singgah khusus penderita anak kanker yang bernama Rumah Cinta? 

Siapa yang pertama kali tahu tentang Rumah Cinta? Siapa yang peduli pada anak penderita kanker, bersedia menjadi hypnotherapyst, dan sering mengulurkan tangannya untuk menyembuhkan orang yang jiwanya sakit? Saya. Maaf, bukan saudara-saudara saya yang sering dibanggakan dan dibandingkan dengan saya. Sungguh, saya tidak bermaksud riya'. Hanya ingin membuka mata hati yang lain saja.

Soal pernikahan ini pun, saya akan dipastikan sendirian. Pasalnya, saudara-saudara saya yang belum menikah akan membawa pasangan. Saya sudah tahu kalau saya akan sendiri. Sudah saya siapkan jawaban bila ada pertanyaan yang dilontarkan pada saya: "Sudah punya pasangan?" Atau "Cantik-cantik kenapa masih single?" Actually, itulah dua pertanyaan yang paling saya benci. Buat apa wajah dan jiwa yang cantik bila pada akhirnya kesepian dan tersakiti?

Urusan apa pun, saya masih bisa kuat menghadapinya. Kecuali cinta. Hanya urusan cinta yang membuat saya kehilangan kekuatan. Sejak kecil, saya terbiasa tegar menghadapi berbagai kesulitan. Ketika dua tahun lalu saya pernah ditolak pimpinan sebuah universitas ternama di kota bunga, ditolak terang-terangan dan ditolak secara langsung oleh rektornya, saya masih bisa kuat. Saya stay cool saja. Yah, itu memang takdir saya. Mata biru masih menjadi diskriminasi. 

Tapi kalau sudah ada kaitannya dengan cinta, saya menyerah. Benar-benar menyerah. Selama ini, seburuk apa pun cobaan yang menimpa, saya tak pernah punya keinginan sedetik pun untuk menjadi atheis. Saya tidak pernah berniat sedikit pun untuk meninggalkan Allah dan berhenti beribadah. Namun, coba lihat saudara saya. Hanya karena dipatahkan hatinya oleh lelaki jahat, dia pernah menjadi atheis. Meninggalkan shalat dan melupakan Allah. Di balik penampilannya yang anggun dan religius, ada bibit-bibit atheis yang mencemari. Tampilan saya memang tidak religius, saya pun bukan umat yang baik. 

Hanya berusaha menjadi baik. Namun, tidak pernah sedetik pun terpikir oleh saya untuk meninggalkan Allah, berhenti beribadah, dan berbuat baik. Saya selalu rindu Allah. Rindu pelukanNya, ciumanNya, cintaNya, belaianNya, dan saya selalu rindu bermesraan denganNya lewat ritual ibadah yang saya lakukan. Bukan bermaksud menjatuhkan saudara saya sendiri, tapi memang begitulah kenyataannya. Saya berani berterus terang karena memang itulah kenyataannya. Terlebih karena saya sudah lelah dan kehilangan kekuatan.

Nah, dengan segala fakta yang ada, tidakkah keluarga saya mengerti? Mengapa mereka langsung menghakimi tanpa melihat sisi lain dalam diri saya? Sekali lagi saya katakan, lebih mudah mengingat hal-hal negatif. Hal positif sering kali terlupakan.

Sampai sekarang, hati saya masih terasa pedih. Walaupun saya tidak menampakkannya di depan siapa-siapa, namun luka di hati saya masih berdarah-darah. Pelarian saya adalah menulis di Kompasiana.

Kejadian ini membawa saya dalam perenungan panjang. Saya pikir, mengapa sulit untuk menjadi orang yang pengertian? Mengapa orang hanya ingin dimengerti sedangkan mereka tidak mau mengerti orang? Lebih mudah dimengerti dari pada mengerti. Lebih ingin dipahami tapi enggan memahami.

Jujur, yang saya butuhkan saat ini adalah pengertian dan pemahaman. Saya hanya ingin dimengerti, itu saja. Sebagai hypnotherapyst, saya terbiasa mencoba memahami orang lain. Memahami hati, perasaan, dan emosi mereka. Pada keluarga saya pun begitu. Saya mencoba memahami mereka. Tapi sejauh ini, tak ada yang bisa memahami dan mengerti diri saya. Kecuali Allah tentunya.

Sulit untuk memahami orang lain. Diperlukan kesabaran, kelembutan, dan keterbukaan pikiran. Tanpa berpikir luas, kita akan kesulitan mengerti orang lain. Kesalahpahaman rawan terjadi.

Menurut saya, sikap saling pengertian sangatlah diperlukan. Gunanya untuk meminimalisir risiko salah paham, mengurangi risiko saling menghakimi, berhenti menyalahkan satu sama lain, dan mempermudah untuk saling memaafkan bila satu pihak atau pihak yang lain melakukan kesalahan. Saling pengertian mempermudah kita untuk saling mencintai dan menyayangi. Tanpa sikap saling pengertian, nampaknya sulit bagi kita untuk menerima keadaan orang lain.

Membuka pikiran, hati, dan perasaan membuat kita lebih pengertian terhadap orang lain. Ingat-ingatlah pula kebaikannya. Ingat hal-hal positif yang ada dalam dirinya.

Sikap saling pengertian akan mencegah kita untuk menyakiti perasaan orang lain. Sebab kita telah memahami seperti apa dirinya. Menumbuhkan sikap pengertian pun menahan kita untuk tidak membanding-bandingkan dia dengan orang lain. Kita tahu kan, dibanding-bandingkan itu menyakitkan? Setiap individu adalah pribadi yang unik, tak bisa disamakan atau dibanding-bandingkan. Bila sikap saling pengertian tumbuh, maka kita takkan pernah lagi mencoba memaksa seseorang agar menjadi apa yang kita inginkan, atau membandingkannya dengan orang lain.

Kompasianer, siapkah mengembangkan sikap saling pengertian?