Mohon tunggu...
Latifa Dinar Haritsa
Latifa Dinar Haritsa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis Universitas Airlangga

Saya mahasiswa Universitas Airlangga program studi Teknologi Laboratorium Medis. Hobi saya adalah meneliti. Saya suka meneliti sejak menginjak Sekolah Menengah Pertama di situ saya mulai mengikuti perlombaan penelitian dan memperoleh kejuaraan. Disamping itu hobi saya adalah menulis ilmiah.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Diduga Peraturan Pelonggaran Pemakaian Masker Picu Kenaikan Covid-19 di Indonesia

22 Juni 2022   22:23 Diperbarui: 22 Juni 2022   22:59 69 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Kasus Covid-19 di Indonesia mulai meningkat kembali dan diakhir-akhir ini dunia dihebohkan adanya berita kelonggaran peraturan mengenai pemakaian masker. Apakah ada kaitan antara kenaikan Covid-19 di Indonesia dengan peraturan pemakaian masker?

Rabu, 11 Mei 2022 Presiden Indonesia Joko Widodo mengumumkan adanya kelonggaran aturan Covid-19. Kelonggaran yang dimaksud salah satunya, yaitu ketaatan pada penggunaan masker. Kebijakan tersebut dikeluarkan karena pandemi di Indonesia dianggap sudah mulai membaik. Beliau mengatakan bahwa masyarakat Indonesia diperbolehkan untuk melepas masker ketika beraktifitas di luar dengan tidak padat orang.

 Tetapi, untuk masyarakat usia rentan masih diwajibkan memakai masker ketika beraktifitas. Kebijakan tersebut belakangan ini menghebohkan masyarakat di Indonesia. Tidak lama kemudian muncul berita angka kasus Covid-19 di Indonesia mulai meningkat kembali.

 Kali ini juga dihebohkan adanya subvarian Covid omicron terbaru yang mulai menyebar di Indonesia. Subvarian ini dikenal dengan sebutan Covid Omicron BA. 4 dan BA. 5. Virus ini dikenal lebih menular dibanding varian (BA.1) maupun varian lain. 

Namun, subvarian tersebut memiliki tingkat kesakitan yang lebih rendah dibanding varian lainnya.

dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH sebagai juru bicara Kementerian Kesehatan RI (Kemkes RI) mengatakan secara epidemiologi di tingkat global subvarian BA. 4 sudah terindikasi sebanyak 6.903 sekuens melalui GISAID.

 Pernyataan tersebut dilaporkan dari 58 negara dan 5 negara dengan kasus BA. 4 terbanyak, diantaranya Afirka Selatan, Amerika Serikat, Britania Raya, Denmark, dan Israel. (Kemkes RI, 2022). Sedangkan untuk kasus BA. 5 sudah terindikasi sebanyak 8.687 sekuens yang dilaporkan dari 63 negara dan ada 5 negara dengan lapran kasus BA. 

5 terbanyak diantaranya, Amerika, Portugal, Jerman, Inggris, dan Afrika Selatan. Dari laporan tersebut telihat bahwa covid dengan subvarian BA.4 dan BA.5 berkemungkinan memiliki penyebaran lebih cepat dibandingan subvarian omicron lainnya. Pada awal Juni adanya kasus Covid-19 subvarian omicron baru ini sudah teridentifikasi di Indonesia. Dari data statistik peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, setiap hari mengalami kenaikan kembali.

Walaupun subvarian omicron BA. 4 dan BA. 5 memiliki tingkat resiko kesakitan yang lebih rendah dibanding subvarian omicron lainnya. Subvarian BA. 4 dan BA. 5 hanya membutuhkan masa inkubasi selama dua hingga tiga hari samapai timbul gejalanya.

 Masyarakat dihimbau untuk mematuhi protokol Covid-19. Subvarian omicron BA. 4 dan BA. 5 memiliki gelaja yang tidak jauh beda dengan varian lainnya, demam dan batuk. Selain itu, gejala tersebut disusul dengan sakit tenggorokan,

 hidung tersumbat, mual, dan pegal badan. Tanpa disadari namun ada juga yang tidak bergejala. Masyarakat Indonesia harus waspada dengan subvarian omicron terbaru ini, karena subvarian ini lebih cepat menyebar dibandingkan varian lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan