Mohon tunggu...
Langit Muda
Langit Muda Mohon Tunggu... Freelancer - Daerah Istimewa Yogyakarta

Terimakasih Kompasiana, memberi kesempatan membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Siapa yang Ribut Namanya Dicatat..."

6 April 2021   10:15 Diperbarui: 6 April 2021   10:15 323
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kemarin seorang walikota mengadakan inspeksi mendadak ke sekolah-sekolah. Di sebuah ruangan Pak Walikota mendapati ada guru yang tidak mengenakan masker. Kelihatan kurang berkenan Pak Walikota memerintahkan stafnya, "Siapa yang tidak pakai masker namanya dicatat.."

Konyolnya ada di antara Bapak dan Ibu Guru yang malah cengengesan, mungkin mengira Pak Walikota cuma bercanda. Pak Walikota pun menegaskan lagi kalau dirinya sungguh-sungguh bukan bercanda. Ekspresi para guru pun jadi agak "AFK" ....

Mungkin karena postur Pak Walikota tidak sebesar Dwayne Johnson lha kok malah dianggap gojegan oleh Bapak dan Ibu Guru. Yang penting bukan posturnya, tapi sanksinya itu lho ....

Seandainya tone suara Pak Walikota seperti Liam Neeson di film Taken, wah mungkin Bapak dan Ibu Guru bisa keselak, "I don't know who you are. I don't know what you want. I will look for you. I will find you ...." Hiyahhh ... mau kabur kemana .... Mau mudik? Ndak boleh ....

Saya malah mengira Bapak dan Ibu Guru tertawa karena perintah Pak Walikota tersebut mirip perintah yang sering mereka berikan pada murid. Saya jadi dejavu saat di SD dulu. Ketika saya ditunjuk menjadi ketua kelas, salah satu perintah Pak/Bu Guru adalah, "Siapa yang ribut namanya dicatat..."

Saya ikhlas diperintahkan menghapus papan tulis. Saya ikhlas diperintahkan membawa tumpukan buku ke ruang guru. Saya ikhlas diperintahkan membagi-bagi  buku ke seluruh murid di kelas. Tetapi ketika saya diperintahkan untuk mencatat nama teman-teman saya  yang ribut, timbul konflik batin di dalam diri saya. Saya merasa mengkhianati teman-temanku. Saya merasa telah menjadi tukang wadulan.

Saya merasa lega ketika sudah tidak lagi menjadi ketua kelas. Belakangan saya mengetahui ternyata teman-teman saya yang menjadi ketua kelas juga pada enggan dengan penugasan untuk mencatat nama anak yang ribut.

Berpuluh tahun kemudian saya baru menyadari, mungkin saja mereka yang sejak kecil memiliki kompetensi wadulan yang cukup sophisticated, dan mampu melakukannya tanpa pertentangan batin, ketika dewasa nanti sangat cocok dengan sebuah profesi yang sangat khusus. Sebuah profesi yang sering dibicarakan, adakalanya dengan bisik-bisik, tetapi sosok fisiknya seringkali sangat misterius.

Konon selain yang berstatus tetap, para penggiat wadulan ini ada juga yang rekrutan sewaktu-waktu diperlukan. Mungkin kalau di istilah kerja ada freelancer, nah di sini ada wadulan-cer. Kerjaannya? Tiap hari ndak pernah kelihatan di rumah karena sibuk ngelencer ....

Perkembangan teknologi informasi membuat range penugasan wadulan ini meluas. Ada yang cukup mager tak perlu lagi ngelencer. Mungkin semacam virtual wadulan. Yang menjadi target mereka juga sama-sama mager, alias virtual warrior.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun